Padang

“Pantai Air Manis adalah tempat piknik yang indah. Di sini, kita bisa berjalan di tengah laut ketika air surut, menuju Pulau Pisang yang cantik. Pantai Air Manis adalah spot favorit orang Eropa di Padang,” catat L.C. Westenenk, pejabat tinggi pemerintah kolonial di Fort de Kock, markas Belanda di Sumatera Barat abad ke-19, ketika ia berkunjung ke Padang.

Dalam bukunya Acht Dagen in De Padangsche Bovenlanden (Delapan Hari di Dataran Tinggi Padang) tahun 1909, Westenenk juga mencatat bagaimana pemerintah kolonial di Sumatra’s Westkust (Pantai Barat Sumatera) telah memperbaiki dan memperindah kota; mulai dari membangun jalan dan trotoar, membersihkan lingkungan, hingga membuat sebuah taman hiburan di pinggir sungai di tengah Kota Padang. Pada awal abad ke-20, kata Westenenk lagi, ada satu paket tamasya berperahu ke De Apenberg atau Bukit Monyet, di mana pengunjung bisa mendaki, menjelajahi gua, memanjat dan memberi makan monyet-monyet yang pemalu.

Bukit Monyet, atau biasa disebut Gunung Padang, adalah bukit kecil yang sedikit menjorok ke laut pantai Sumatera Barat, yang diempas ombak di selatan Padang. Tempat wisata ini hanya berjarak 10 menit dengan mobil dari kota Padang. Sebelum tiba di Gunung Padang, saya berjalan menyisiri kota pelabuhan bersejarah ini. Dari gudang-gudang tua berumur hampir dua abad, masih tercium aroma kayu manis, pala dan cengkih. Kata Ibnu Abbas, seorang lelaki tua pedagang rempah, Kota Tua ini harmonis dan dihuni penduduk bermacam suku: Minang, Tionghoa, Bugis, Hindustan dan Nias, dengan beragam agama dan kepercayaan: Islam, Kristen, Katolik, Buddha dan Konghucu.

Kota Tua dan Gunung Padang dipisahkan oleh muara Sungai Batang Arau. Di atasnya membentang Jembatan Siti Nurbaya, yang ramai dikunjungi pada sore hari, terlebih di hari-hari libur.

Benar kata Westenenk satu abad lampau, mendaki bukit kecil Gunung Padang, mata akan disuguhi panorama lanskap sekelilingnya yang indah. Ada gua karang dan pusara Sitti Nurbaya, gadis dalam novel terkenal Sitti Nurbaya (Kasih Tak Sampai) karya Marah Rusli. Bukit ini seolah menjadi simbol dari kasih tak sampai, metafora dari cinta yang ditetak oleh harta dan keserakahan.

Mengunjungi makam Sitti Nurbaya memberikan pengalaman yang unik, fiksi terasa seperti realita. Ia dikisahkan mati karena patah hati, jasadnya disemayamkan di antara karang dan bebatuan, tertancap antara bumi yang getir dan langit tak berbatas. Angin sejuk bertiup dari barat, ombak menghempas tebing karang dan laut biru membentang ke cakrawala. Di sisi utara Gunung Padang, masih tersisa benteng dan meriam, juga rel untuk troli pembawa rempah yang merupakan alasan utama bangsa Eropa datang ke Nusantara dan menjadikan Padang pelabuhan terbesar di pesisir barat Sumatera.

Berdiri di puncak Gunung Padang, Kota Padang tampak begitu jelas, merupakan ibukota provinsi yang padat, dengan rumah dan gedung pemerintahan beratap runcing, jalan-jalan berbelit, kendaraan lalu-lalang, sungai dan muara yang membelah kota serta pantai-pantai dengan ombak bergulung bagai buih putih yang membentangi kota kecil ini. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Di balik lapisan bukit Gunung Padang, saya melewati jalan berliku. Dalam beberapa kilometer saja, Pantai Air Manis sudah terhampar di hadapan saya, pantai lengang dan terkenal dengan ombaknya yang tenang dan lanskap memesona, dengan perbukitan hijau dan pulau-pulau sepi menanti untuk dijelajahi, hanya 500m dari pantai. Berjarak 15km dari Padang (30 menit dengan mobil), pantai tropis ini adalah destinasi liburan impian. Hamparan pasir membentang sejauh mata memandang, mengajak pengunjung untuk menghabiskan hari dengan berjemur, berenang di Samudera Hindia atau sekadar bersantai.

Dari sinilah lahir legenda Malin Kundang, anak durhaka yang dikutuk menjadi batu. Dalam dongeng masyarakat pesisir Minangkabau, tersebutlah kisah seorang anak laki-laki yang patuh dan rajin hingga ia dipanggil malin, sebutan terpuji untuk seorang lelaki di Ranah Minang. Malin hidup di kampung nelayan yang miskin, yang menggantungkan hidup pada lautan. Ibunya seorang pencari kayu bakar, sementara ayahnya telah tiada.

Di usia remaja, ia duduk seorang diri memandang Samudera Hindia setiap hari. Dalam termenung, Malin akhirnya memiliki satu tekad bulat: ia ingin mengarungi samudera untuk mengubah nasib. Mengubah nasib bukanlah perkara mudah di pantai barat Sumatera, tetapi Malin berteguh hati. Dia menggunakan perahu, lalu ia ucapkan selamat tinggal pada sang ibu dan tanah kelahirannya.

Ombak samudera yang ganas dilaluinya. Berbulan-bulan ia terkatung-katung di lautan, dihempas gelombang dan diombang-ambingkan badai. Dari pulau ke pulau, dari semenanjung ke semenanjung ia berlayar, berdagang untuk mengubah nasib. Musim dan tahun berganti, Malin yang dulu miskin kini menjadi saudagar ternama dan telah mempersunting seorang putri jelita dari Negeri Campa. Malin Kundang yang dulunya miskin, kini hidup bergelimang harta.

Suatu ketika, terbersit di benaknya untuk mengunjungi tanah kelahiran di seberang lautan. Ia pun menyiapkan sebuah bahtera lengkap dengan puluhan anak buah. Namun, ketika bahteranya yang besar mendarat di pantai barat Sumatera, ia justru tak mengakui seorang perempuan tua yang menyambutnya di pantai Air Manis sebagai ibunya, yang dulu melepasnya dengan linangan airmata.

“Aku bukan anakmu,” kata Malin saat sang ibu menyambutnya. Perempuan renta itu bergeming. Seorang Malin yang dulu patuh dan taat, berdiri di hadapannya. Namun, ia bukan lagi Malin seperti puluhan tahun silam. Lelaki ini adalah Malin yang telah dibesarkan lautan, dihidupi gelombang pengembaraan. Air mata perempuan tua itu jatuh seketika. Langit tiba-tiba gelap, petir dan kilat menyambar.

Tuhan, kembalikan anakku yang dulu, walau dalam wujud batu,” perempuan tua itu membatin, dan ombak menghempas kian ganas. Hujan turun dengan derasnya, langit gelap seperti akan runtuh. Angin berkesiur kencang, petir dan kilat saling bersabung. Secara perlahan, tubuh Malin mulai mengeras menjadi batu. Ia bersimpuh dan memohon ampun.

Ombak ini adalah ombak yang sama dalam dongeng ketika Malin Kundang hendak berlayar meninggalkan kampung halaman. Tetapi apa yang telah terjadi, Malin? Sebegitu kuatkah lautan mengubah kepribadian seseorang?

Di Pantai Air Manis, legenda Malin Kundang dihidupkan kembali. Saya terpaku melihat batu berbentuk seorang lelaki tengah bersujud di dek kapal. Seiring waktu, sebagian tubuhnya digerus air pasang. Tali temali kapalnya yang membatu membentuk semacam garis putusputus ke arah barat, tempat matahari tenggelam di ufuk. Ombak pantai menghempas tiada putusnya ke pasir putih.

Menurut masyarakat setempat, awalnya hanya ada batu yang menyerupai kapal teronggok di pantai Air Manis ini. “Namun pada tahun 1980-an, seorang pemahat, Isbenzami Usman, menyempurnakannya. Di atas batu yang menyerupai kapal itu, ia menghadirkan sesosok manusia tengah bersujud. Masyarakat meyakini, inilah Malin Kundang, yang menjadi batu karena sumpah ibunya. Toh, legenda tidak butuh bukti dan kejelasan, ia hanya butuh cerita dan diamini,” kata Muhammad Ibrahim Ilyas, seorang budayawan Sumatera Barat.

Di belakang Batu Malin Kundang, Pulau Pisang terhampar hijau memukau. Saat pagi hari, ketika laut surut, Pulau Pisang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki dari Pantai Air Manis atau menyewa perahu saat air pasang. Tak ketinggalan, di sebelah selatan, pasir putih Pantai Caroline menggoda pengunjung untuk singgah dan menikmati suasana.

Begitu banyaknya pantai dan pulau yang tenang adalah salah satu daya tarik utama Padang sebagai tujuan wisata. Ditambah dengan sejarah yang penuh warna sebagai pusat perdagangan rempahrempah, dan juga pesona legenda rakyatnya, Anda akan merasa bahwa satu kali berkunjung saja tidak cukup untuk menikmati kota pelabuhan nan eksotis ini. Harum pala dan cengkih, yang berpadu dengan aroma asin dari Samudra Hindia, pasti akan membuat Anda ingin kembali ke sini.

Jakarta to  Padang


Frequency 49 flights per week

Flight Time 1 hour, 20 minutes

Book Now

5 Senses – Scent SPICES

Berjalan kaki menyusuri gang-gang kecil di Kota Tua, atau Kawasan Pondok, di Kota Padang, hidung akan dimanjakan oleh aroma rempah. Kulit manis, cengkih, pala dan rempah lainnya membuat Anda merasakan aroma kota tua ini berabad-abad silam sebagai bandar perdagangan rempah.