Rome

Awalnya selokan terbuka untuk vila dan istana di atas bukit 2.000 tahun lalu, kini Via Margutta adalah jalan kecil paling cantik di Roma. Banyak sineas memilihnya sebagai lokasi pembuatan film.

Words and Photography by Francesco Lastrucci

Berada di jantung Kota Abadi, Via Margutta memang selalu memesona. Oase yang tenang ini terletak di antara Piazza di Spagna dan Piazza del Popolo yang terkenal, tepat di pusat wisata Roma, di bawah taman-taman dan kebun Villa Borghese. Dikelilingi tanaman rambat dan tembok plester, galeri dan studio seni, jalan sempit ini panjangnya hanya beberapa blok.

Di distrik Campo Marzio, pusatnya seni dan restoran trendi, Via Margutta membentang sejajar dengan Via del Babuino: mulai dari Piazza del Popolo, menurun dari Pincio Hill dan beberapa menit berjalan kaki dari Spanish Steps yang tersohor. Di jalan ini, waktu seolah berhenti. Suasananya begitu tenang, walaupun hanya beberapa meter dari Via del Babuino dan Via del Corso yang ramai. Inilah tempat untuk melupakan kesibukan kota, tempat lentera dan tanaman rambat menghiasi bangunan bersejarah. Tak ada mobil dan toko-toko besar sehingga Anda bisa mendengar suara langkahlangkah kaki di jalan berbatu dan obrolan orang-orang sambil berjalan atau menjelajah.

Dahulu, Via Margutta adalah jalan biasa dengan deretan istal dan gubuk, dan dipandang sebagai bagian “belakang” dari bangunanbangunan di Via del Babuino. Tidak jelas asalusul namanya, tetapi sepertinya diambil dari kata Marisgutta (Goccia di Mare), eufemisme untuk menyebut aliran air yang turun dari vila Pincio, yang digunakan sebagai selokan alami.

Selain istal dan gudang, tempat ini dahulu dipenuhi gerobak yang diparkir, dan sering didatangi tukang batu, pemahat marmer dan kusir. Namun kemudian pada Abad Pertengahan, seorang seniman tak dikenal mendirikan toko pembuat potret dan air mancur, yang menarik minat banyak seniman lokal dan asing. Mereka mulai membangun rumah, kebun dan toko di jalan ini.

Akan tetapi, Via Margutta baru sepenuhnya menjadi permukiman setelah seorang utusan Vatikan, pada era Paus Pius IX, memperoleh izin untuk merancang dan membangun sistem pembuangan limbah di sini. Bangunanbangunan indah di sepanjang jalan ini dahulu ditempati para pelukis dan pematung yang memilih Via Margutta karena pesonanya.

“Ruang-ruang, tangga, koridor yang diapit kebun-kebun sayur, lalu tangga dan jenjang lagi, sebuah lanskap vertikal yang diselimuti tanaman rambat, tepat di bawah jalan Trinità dei Monti.”

Begitulah Federico Fellini, sutradara legendaris Italia sekaligus salah satu penghuni Via Margutta, menggambarkan jalanan bersejarah ini.

“Lanskap vertikal” yang diselubungi tanaman hijau inilah yang menjadi ciri khas Via Margutta. Tembok-temboknya tertutup dedaunan rambat, seperti sebuah “galeri” tanaman.

Sering kali dipilih sebagai lokasi syuting dan skenario, termasuk adegan film karya William Wyler tahun 1953, Roman Holiday, yang dibintangi Audrey Hepburn, Via Margutta masih mempertahankan karakteristik, warna dan aroma yang menggaungkan kemegahan Cinecitta, Hollywood-nya Italia pada masa itu.

Hanya tiga blok dari Piazza del Popolo, tempat Fellini menyantap sarapannya setiap pagi di kedai kopi Canova, dan dekat dari katedral kembar Santa Maria serta toko-toko dan restoran di Via del Babuino, Via Margutta menyatukan sejarah dan gairah masa kini dengan berbagai karakter manusia.

Jalan ini selalu populer di kalangan seniman. Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, penyair, penulis, dan musisi seperti Puccini dan Wagner, juga para filsuf seperti Sartre dan De Beauvoir, dan pelukis besar seperti Picasso dan De Chirico sering datang ke toko-toko di Via Margutta dan tinggal di sekitar jalan ini.

Di jalan kecil nan magis inilah, seni, sinema dan fashion bertemu. Kini, orang-orang datang ke Via Margutta untuk menikmati suasana tenang sambil berjalan di antara deretan bangunan bersejarah, seperti bengkel marmer Marmoraro, galeri seni yang telah menjadi institusi, butik mode papan atas dan restoran yang cantik.

Daun ivy dan tanaman rambat lain menghiasi fasad bangunan-bangunan tuanya yang kini dihuni butik-butik mode, galeri seni dan barang antik, bengkel kerajinan, restorasi dan pengolahan bahan baku seperti kayu atau marmer, serta restoran-restoran unik bersejarah.

Via Margutta, yang sunyi dan tersembunyi, sangat kontras dengan jalan-jalan ramai yang mengapitnya. Kesan “luar kota” dengan pesona warna, aroma bunga, dan arsitektur membuatnya istimewa. Jalan ini bisa dibilang sebuah museum seni terbuka, dengan bengkel-bengkel seni, pameran barang antik dan studio mode, meski sekarang banyak yang menjadi apartemen pribadi. Kunjungi toko-tokonya, mengobrollah dengan para seniman, tengoklah langitlangit kayunya, susuri taman bila Anda menemukan gerbangnya terbuka, dan nikmati ketenangan di jantung k

For further information, please visit www.garuda-indonesia.com

Codeshare route with KLM Royal Dutch Airlines


Frequency21 times a week


Book Now

From Colours June 2019

icon_touch

5 Senses –Scent
Roasting coffee

Nikmati aroma biji kopi panggang di Caffè Greco, Via Condotti 86, yang didirikan pada 1760 dan terkenal sebagai kedai kopi tertua di Roma dan kedua di Italia. Resapi suasananya yang sarat keindahan dan sejarah seni. Memajang lebih dari 300 karya bersejarah dan kepingan memorabilia, kafe ini tak ubahnya sebuah galeri yang mengangkat sejarah para cendekiawan, penulis, dan tokoh besar lainnya.