Semarang

Sebagai salah satu destinasi wisata paling diminati di Indonesia, Kota Semarang di Jawa Tengah sedang bersolek untuk memikat pengunjung milenial.

Words by Andre Syahreza

Dengan keelokan, keragaman budaya dan kekayaan sejarahnya sebagai pelabuhan dagang strategis, Semarang adalah kota kedua di Jawa Tengah yang paling banyak dikunjungi wisatawan setelah Yogyakarta. Dalam riset yang dilansir Google beberapa waktu lalu, Semarang menempati peringkat ke-7 sebagai destinasi wisata di Indonesia yang paling banyak dicari secara online.

Semarang juga termasuk dalam 10 Kota Terbaik Nasional pada Yokatta Wonderful Indonesia Tourism Award 2018. Berdasar catatan terakhir, Semarang juga menduduki peringkat ke-5 pada Indeks Pariwisata Indonesia. Lalu, apa yang membuat ibu kota Jawa Tengah ini patut disambangi dan mengapa menjadi populer di kalangan wisatawan milenial?

Digitalisasi destinasi merupakan salah satu faktor utama. Sejak tiba di Semarang, saya menyaksikan sudut-sudut baru yang “instagramable”. Di antaranya ada Taman Indonesia Kaya, sebuah ruang publik yang didesain modern dengan panggung terbuka untuk pentas kesenian. Taman kota ini dilengkapi dengan Wi-Fi dan sepeda gratis. Sejumlah taman lain juga bermunculan sebagai spot swafoto, termasuk Taman Kasmaran yang berada dekat dengan kampung warna-warni Kampung Pelangi yang cocok untuk berfoto instagram, juga Tugu Muda—sebuah taman lawas yang baru-baru ini dipercantik.

Di Semarang, “destinasi milenial” bukan semata julukan. Kota ini tengah fokus meningkatkan daya tarik wisatanya. Tidak sekadar menghadirkan atraksi-atraksi yang tampak menarik di media sosial, destinasi yang kaya akan akulturasi budaya ini mulai menemukan keunikan tersendiri di tengah meningkatnya wisatawan milenial dari dalam dan luar negeri, yang jumlahnya ditargetkan terus bertambah. Sejak akhir tahun lalu, sejumlah “destinasi milenial” gencar dibuka.

Pada malam Tahun Baru 2019, Semarang Bridge Fountain diresmikan. Air mancur warna-warni yang menari di atas jembatan Banjir Kanal Barat ini seolah menjadi penanda lahirnya Semarang yang baru, lebih segar, lebih kekinian. Tak jauh dari jembatan ini, saya melewati Kampung Kali, kawasan wisata “ramah medsos” di sepanjang Jalan Mayjen D.I. Panjaitan, yang meyakinkan saya bahwa Semarang sungguh-sungguh ingin menarik minat pengunjung muda.

“Destinasi milenial sekarang sudah jadi keharusan bagi Semarang. Apa pun yang kami kerjakan sekarang harus mengarah pada konsep pariwisata digital,” kata Indriyasari, Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang.

Tahun ini, sejumlah 5,7 juta wisatawan ditargetkan datang ke Semarang. Sekitar 70 acara wisata diagendakan sepanjang tahun 2019. Di antaranya Festival Cheng Ho, Semarang Night Festival dan Semarang Folklore Festival yang bertaraf internasional. Jumlah hotel dan restoran meningkat pesat sepanjang 3 tahun terakhir, hingga mencapai kisaran 300 hotel dan 800-an restoran. Sedikitnya 20 kapal pesiar berlabuh di sini setiap tahun, membawa sekitar 1.500 turis asing per kapal.

Unggahan di Ungaran

Dari Kota Semarang, saya bergerak ke Ungaran di selatan, menjelajahi sejumlah destinasi yang banyak menghiasi halaman medsos. Umbul Sido Mukti merupakan salah satu yang paling populer, dan disebut sebagai pelopor wisata Bandungan-Ungaran. Mendiami lembah yang indah, Umbul Sido Mukti adalah kompleks,wisata alam, yang menawarkan atraksi berkuda, memanah, flying fox, sampai kolam renang. Dari Pondok Kopi di Umbul Sidomukti, kita bisa berjalan kaki menuju Mawar Camp, area perkemahan yang populer di kalangan milenial. Titik perhentian di jalur pendakian Gunung Ungaran ini menghadirkan pemandangan kerlip Kota Ungaran di malam hari.

Salah satu titik wisata yang paling kontras bagi saya ada di Candi Gedong Songo, peninggalan Wangsa Syailendra yang ditemukan oleh Thomas Stamford Raffles di tahun 1804. Di kompleks candi ini berdiri The Ayanaz, sebuah zona swafoto ultra-modern yang secara unik hadir di pelataran candi.

Situs “wisata instagram” ini dibuka sejak juni 2018, dan dengan cepat melesat sebagai trending spot diinternet. Di taman berumput sintetis ini para pengunjung bisa berfoto di dalam bola plastik raksasa, atau di balon udara yang menggelembung— yang tampak absurd di bekas taman kerajaan itu. “Kami menciptakan The Ayanaz sesuai tren swafoto di media sosial. Kami mengusung konsep spot foto yang unik dengan pemandangan lembah yang indah,” kata Ida Laela, pemilik The Ayanaz.

Dari sini, wisatawan bisa meneruskan perjalanan ke Dataran Tinggi Dieng, atau kembali ke arah Semarang sambil menyambangi beberapa taman foto. Taman Bunga Celosia adalah salah satu yang paling populer, menyuguhkan pemandangan berbagai jenis bunga dan bangunan-bangunan landmark lain. Sekitar 10 menit dari Celosia, Kebun Bunga Pak Yoto yang memaparkan keindahan bunga Krisan, lalu 10 menit lagi ke arah timur ada Setiya Aji Flower Garden—taman bunga lain yang juga populer di media sosial.

Sebelum kembali ke Kota Semarang, saya sempatkan singgah ke Goa Kreo, salah satu maskot wisata Semarang yang menjadi habitat kera ekor panjang. Goa ini berdekatan dengan Desa Wisata Kandri, sebuah desa sederhana yang tak disangka menyediakan anjungan-anjungan swafoto imajinatif di tepi lembah.

Menjelang malam, saya tiba di Pasar Semawis, sebuah pasar kuliner tengah kota yang marak di malam hari. Di sini saya mendapat kesan bahwa Semarang bukan semata soal akulturasi budaya dan cita rasa masakan peranakan. Lebih dari itu, Semarang menyimpan potensi wisata yang menarik dikunjungi “turis digital”. Destinasi yang menyuguhkan pengalaman lokal dalam bingkai global

For further information, please visit www.garuda-indonesia.com

Jakarta to Semarang


Flight Time 50 minutes

Frequency 56 times a week

Book Now

From Colours August 2019

icon_sight

5 Senses – Sight
Brown Canyon

Didirikan sebagai
kantor pusat
Perusahaan Kereta Api
Hindia Belanda, Lawang
Sewu merupakan
bangunan kolonial yang
kini memiliki daya tarik
wisata swafoto.
Sepanjang tahun 2018,
destinasi ini
memecahkan rekor
kunjungan hingga
1 juta wisatawan.