Tasikmalaya: A Hidden Gem

Dengan hutan hijau subur, pegunungan indah dan air terjun yang spektakuler, Tasikmalaya di Jawa Barat adalah surga bagi pencinta alam, yang kini kian mudah diakses.

Words by Trinity

Pada 27 Februari lalu, Presiden Indonesia Joko Widodo meresmikan terminal baru di Bandara Wiriadinata di Tasikmalaya, guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.

Tasikmalaya adalah nama kota dan juga kabupaten di timur propinsi Jawa Barat. Sebagian besar wilayahnya perbukitan, terutama di bagian baratnya di mana Gunung Galunggung (2.167 m) menjulang. Tanah vulkanis membuatnya tempat sempurna bagi agrikultur sehingga Tasikmalaya sangat hijau dan asri. Cocok pula bagi para penggemar aktivitas alam.

Pada subuh yang dingin, kaki saya menjejak satu per satu anak tangga yang berjumlah 620 mendaki Gunung Galunggung. Kawahnya masih tertutup kabut tebal bagaikan cotton candy di dalam mangkuk raksasa. Di sisi yang berlawanan tampak kerlap-kerlip lampu Kota Tasikmalaya. Matahari agak tinggi ketika kabut perlahan-lahan menguap, lalu terkuaklah kawah berwarna hijau dan pulau pasir kehitaman. Dari dinding tubir merambat air terjun menuju kawahnya. Rasanya saya ingin turun mendekati kawah yang tampak jinak karena tidak berasap dan berbau belerang, namun demi keamanan pengunjung dilarang mendekat. Saya pun puas duduk diam menikmati hangatnya matahari pagi dengan pemandangan spektakuler.

Sebenarnya semenjak ada media sosial, wisata yang sedang naik daun di Tasikmalaya adalah ‘wisata curug’. Curug dalam bahasa Sunda berarti air terjun. “Ada puluhan curug yang instagrammable di Tasik,” terang Suci. Tasik singkatan dari Tasikmalaya dan Suci adalah perempuan milenial asli Tasik yang menjadi pemandu saya. “Favoritku adalah Curug Ciparay,” tambahnya.

Saya pun diantar Suci ke Curug Ciparay di Desa Parentas yang berjarak 30 km dari Kota Tasikmalaya namun butuh waktu dua jam lebih berkendara karena 6 km terakhir jalannya yang menanjak sangat buruk. Dari atas bukit, Curug Ciparay—yang juga disebut Curug Kembar karena ada dua air terjun, terlihat sangat cantik di antara hutan hijau yang padat dilatari Gunung Galunggung. Saya disambut Bapak Andi Ramdani, Kepala Desa Parentas, sambil memberikan secangkir kopi nikmat hasil perkebunan desanya. Kopi Parentas adalah jenis kopi Arabica yang tumbuh di tanah vulkanis ketinggian 1.300–1.500 mdpl. “Sejak kecil saya suka main di curug ini, tapi baru beberapa tahun belakangan ramai dikunjungi orang sejak sering masuk media sosial,” katanya membenarkan pernyataan Suci.

Saya segara berjalan menuruni tangga tanah selama setengah jam. Semakin dekat suara derasnya air terjun semakin lama semakin membahana. Tak terasa sekujur tubuh saya basah terkena cipratan dari hempasan air terjun yang sangat deras. Sulit untuk memotret karena kamera saya ikut basah. Saya pun hanya memandang kedua air terjun setinggi belasan meter ini dengan kagumnya. Curug berikutnya yang kami kunjungi adalah

Curug Dengdeng yang berjarak 62 km ke arah selatan dari Kota Tasikmalaya—“hanya” 2 km terakhir jalannya rusak. Saya berdecak kagum melihat air terjun yang sangat lebar bertingkat tiga ini. Tingkat pertama di muaranya setinggi 9 meter, tingkat kedua 11 meter dan tingkat ketiga 13 meter. Indahnya berkali lipat karena dikelilingi hutan hijau dan air kolam di dasarnya berwarna biru! Meski agak sulit turun ke dasarnya namun terlihat dua orang pria asyik memancing sambil duduk di bibir jurang. Tanpa berdiri ke tengah air terjun saya sudah puas menikmati salah satu air terjun terindah di Indonesia.

Sejam berkendara dari Curug Dendeng terdapat Taman Batu Jasper yang terletak di Desa Cibuniasih. Jasper adalah salah satu jenis batu mulia yang termasuk keluarga dari batu Chalcedony. Di taman yang sebenarnya berada di aliran Sungai Cimedang ini berserakan bongkahan-bongkahan batu jasper merah, berukuran mulai dari sebesar kotak korek api sampai sebesar rumah kecil. Setelah trekking di hutan berbukit selama satu jam, kami sampai di sungai. Perpaduan langit biru, hutan hijau, sungai kebiruan dan bebatuan merah menjadikannya pemandangan yang sangat unik dan cantik.

Batu jasper tebentuk sejak 25–30 juta tahun lalu dari lava pijar yang bersentuhan dengan air laut dan mengalami proses hidrotermal. Kalau sudah diasah, batu jasper akan terlihat berurat cantik. “Saya ingat akhir tahun 1990-an ada penambang dari Jepang yang mengambil batu-batu ini. Satu mobil itu isinya satu batu yang sangat besar. Diangkatnya saja pakai rantai karena beratnya ton-tonan,” kisah Bapak Utang, pemandu kami. Karena fenomena alam yang sangat langka ini, pemerintah setempat telah melarang penambangan dan akan menjadikannya Geo Park. Alam Tasikmalaya sungguh merupakan permata yang tersembunyi!

Jakarta to Tasikmalaya


Garuda Indonesia flies 3 times a week to Tasikmalaya

Flight time from Jakarta is 1 hour.

Book Now

icon_touch

5 Senses – sight
Traditional Sandals

Kelom Geulis adalah sandal kayu wanita khas Tasikmalaya dengan sabuk kulit dan tinggi hak 3–15 cm. Toko ERN, Jl. Tamansari No.104, Mulyasari, harga mulai Rp65.000.