Tokyo

Makan enak di Tokyo itu mahal? Dengan tawaran spesial makan siang di beberapa restoran terbaik di kota ini— termasuk yang berbintang Michelin dan sedang tren harganya sangat terjangkau.Untuk menarik para pekerja kantoran, yang biasanya hanya makan siang sandwich di meja kantor, restoran-restoran di Tokyo berlomba menawarkan menu santap siang dengan harga spesial. Apalagi, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan penduduk setempat hanya menganggarkan sekitar Rp70.000 untuk makan siang di hari kerja.

Words by Mark Parren Taylor

Nobuyuki Kurihara bertanya pada saya dengan senyum kecil, “Anda sudah siap?” Dengan tangkas, ia memecahkan telur ke dalam semangkuk remah roti menggunakan satu tangan, lalu melemparkan cangkangnya melewati bahu. Cangkang kosong itu mendarat tepat di tempat sampah di belakang, disambut dengan pose heroik dan teatrikal Kurihara-san.

Telur adalah sajian utama dari paket tempura untuk makan siang di restorannya. Dengan harga sekitar Rp169.000 saja, Anda sudah mendapatkan telur goreng renyah (namun tetap lembut), sayuran dan seafood, sup dan nasi… dan, tentu saja, atraksi memasak

Restoran kepunyaan Kurihara-san, Tensuke (3-22-7 Koenjikita; makan siang pukul12.00–14.00), menyajikan salah satu menu makan siang terbaik di Tokyo. Murah, cepat, super lezat. Sayangnya, karena hanya ada 12 kursi, pelanggan harus rela mengantre sebelum tengah hari.

Tensuke berlokasi di Suginami, di sebelah barat Tokyo, dekat Stasiun Kōenji. Daerah ini dijejali toko-toko kecil, butik pakaian vintage, dan kedai-kedai kopi hipster. Tersedia beragam pilihan makan siang ala lokal—dengan antrean panjang—mulai dari Harukiya (haruki-ya.co.jp; makan siang dari pukul 11.00) dengan ramen dalam kaldu lezat dari sarden kering (harga mulai Rp112.000), sampai Honmura-an (honmura-an.co.jp; makan siang jam 11.00– 15.00), yang menyajikan soba home-made dengan kuah dingin seharga Rp105.000.

Namiki Yabusoba (2-11-9 Kaminarimon; makan siang dari jam 11.00) juga menyediakan mi soba setiap pagi. Penting diketahui, saat mengaduk adonan mi, pembuat mi bisa merasakan perubahan tekstur mi mengikut cuaca. Restoran berusia 106 tahun ini terletak di pinggir kota—di daerah tradisional Asakusa, dekat Kuil Sensoji, dan tidak hanya terkenal dengan zaru soba (sekitar Rp98.000), tetapi juga kuah yang menemaninya (perlu waktu tiga hari untuk membuatnya). Popularitas restoran ini jelas terlihat dari panjangnya antrean pengunjung. Jika Anda ingin langsung masuk, datanglah pada jam terakhir makan siang pukul 16.00.

Asakusa telah lama menjadi kawasan hiburan, dan banyak rumah makan di sini sudah teruji oleh waktu. Tempat makan siang ‘wajib’ buat saya adalah Raishū-ken (2-26-3 Nishiasakusa; makan siang mulai pukul 12.00). Kedai mi lokal di jalan kecil yang tenang ini buka sejak tahun 1950-an. Tidak ada antrean, tidak ada keriuhan, hanya semangkuk besar ramen keriting lezat, dan senyuman hangat dari para wanita yang mengelola kedai ini.

Yang paling populer adalah Koyanagi (1-29-11 Asakusa; makan siang pukul 11.30–15.00), yang mudah ditemukan karena banyaknya orang yang mengantre demi hidangan utamanya, yakni unagi (belut air tawar). Hidangan lain yang tak kalah enaknya adalah toriju atau ‘chicken box’ (sekitar Rp117.000), yang disajikan dalam wadah berisi nasi dengan ayam panggang mengilat dengan olesan saus teriyaki kental yang gurih.

Untuk Anda yang gemar makan ayam, Anda pasti akan menyukai karaage. Daging ayam goreng. Dekat Stasiun Asakusabashi, Karaage-ya Oshu Iwai (4-16-5 Asakusabashi; makan siang mulai pukul 10.30) membuat salah satu karaage terenak di kota ini. Walaupun hanya sebuah gerai di pinggir jalan, tidak ada meja, tidak ada kursi… tetap saja penuh dengan pekerja kantor lokal pada jam makan siang. Beberapa taman di sekitarnya menjadi tempat yang menyenangkan untuk bersantai sambil menikmati sekantong karaage renyah.

Kappo Nakajima (shinjyuku-nakajima.com; makan siang pukul 11:30–14:00) mengolah ikan sarden, atau iwashi, yang menjadi hidangan utama dalam paket makan siangnya (sekitar Rp104.000–118.000). Mereka juga menyajikan sarden sebagai sashimi atau direbus dengan kaldu bawang dan bonito, dan ditambahkan telur kocok (resep tradisional Tokyo). Apa pun caranya, yang pasti harganya terjangkau dan menggoda lidah Anda untuk makan di restoran milik keluarga ini (saya tambahkan, berbintang Michelin). Restoran ini berlokasi di sebuah basement di bawah jalanan Shinjuku.

Setelah hidangan lezat lainnya memenuhi perut saya, ada satu hal lagi yang harus saya lakukan, yaitu mencari toko buku terdekat. Saya perlu sesuatu untuk menemani saya saat mengantre makan siang besok.

Jakarta to Tokyo


Flight Time7 hours

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours November 2019

icon_taste

5 Senses – Taste
Sweet Street Food

Jajanan—yang di Jepang disebut tabe-aruki (“makanberjalan”)— perlahan mulai populer di seantero Tokyo. Namun, di dekat Kuil Sensō-ji, jajanan manis sudah ada sejak lama. Lihat saja Nakamise Arcade, yang menjual agemanju (roti kukus) dan ningyo-yaki (kue bolu) dengan isi kacang merah, atau isian lain yang lebih unik! asakusa-nakamise.jp