The Archipelago Journal Lombok

Suasana sore itu begitu tenang. Satu-satunya yang terdengar adalah suara deburan ombak yang menyapu kaki saat kami berjalan di Pantai Mandalika, pantai berpasir kuning gading yang kontras dengan lautnya yang berwarna biru kehijauan.

Kami tiba kurang dari dua jam lalu di Lombok, menumpang feri melintasi lautan dari Padang Bai Bali menuju Lembar. Perjalanan melalui laut ini telah kami rencanakan setahun lalu. Bukan semata pertimbangan harga tiket feri yang murah, namun karena kami juga membawa serta sepeda motor dari Bali demi memudahkan mobilisasi selama berada di pulau eksotis ini. “Sebuah perjalanan dengan menu laut dan pantai,” kata Philip, teman asal Austria yang menemani saya, dan sudah tidak sabar ingin menjelajahi daerah yang sangat berbeda dengan tanah airnya di Eropa.

Begitu kapal feri menumpahkan penumpang, kami pun melesatkan sepeda motor beriringan. Kami menikmati keindahan alam Lombok pada pagi hari yang sempurna: sawah-sawah hijau keemasan yang menguapkan kabut tipis putih, segelintir kendaraan yang dipacu lamban dan siluet kubah-kubah masjid bermodel bawang yang menunjukkan kesakralan mereka antara bayangan Gunung Rinjani serta pepohonan. Sesekali kami berpapasan dengan tukang Bendi. Sarana angkut yang mengandalkan tenaga kuda ini tidak hadir sebagai pemanis wisata namun masih digunakan sebagai moda transportasi sehari-hari.

Pesisir Lombok Selatan merupakan  pilihan utama kami. Pantai-pantainya  yang dilatari oleh bukit juga tebing menjadi incaran kamera saya, sedangkan Philip berharap menjajal ombak dengan bermain surfing. Jadilah kami seolah diberkahi  satu kawasan untuk menawarkan kesenangan yang berbeda. Sebagai markas, kami memilih penginapan di Kuta. Ini adalah kantong wisata Lombok Selatan. Letak Kuta persis di bibir pantai. Orang bilang daerah ini lebih hippie ketimbang Kuta-nya Bali. Saya anggap pendapat itu tidak berlebihan, sebab ketika kami tiba, tempat ini masih menjaga aura “kampung” di antara bisnis wisata yang menggeliat.

Pantai Mandalika berada di sisi timur Kuta, terpisahkan oleh Pantai Seger yang memiliki bukit menjorok ke laut. Nama lain Pantai Mandalika adalah Pantai Nyale. Kedua nama tersebut berasal dari legenda lokal tentang seorang putri kerajaan, bernama Mandalika, yang berubah menjadi cacing laut (Nyale) demi menghentikan pertikaian dalam kerajaan tersebut. Tiap bulan Maret di sekitar pantai ini dihelat upacara Bau Nyale, yakni perburuan cacing laut. Ritual ini telah menyedot perhatian banyak orang dan dirayakan penuh sukacita. Pengunjung pantai dapat mendaki Bukit Merese bila ingin mendapatkan panorama lebih lapang.

Makin ke timur, pantai-pantainya makin memukau. Kami singgah di Tanjung A’an yang luas dan menakjubkan dengan pasirnya yang sehalus dan seputih tepung dan diapit oleh perbukitan. Anginnya yang kencang membuat tempat ini populer untuk berselancar angin. jika Anda ingin mencobanya, ada beberapa tempat penyewaan selancar angin di Lombok Selatan.

Di dekat Tanjung A’an, ada sebuah pantai yang diburu banyak orang untuk berfoto. Namanya Pantai Batu Payung, yang memiliki formasi batuan yang sangat unik, menyerupai jamur. Namun hati-hati, pantai ini hanya bisa diakses melalui jalan panjang menyusuri pantai dan tebing, sehingga beberapa orang memilih untuk menyeberang ke sana dengan menyewa perahu nelayan.

“Bila penasaran untuk menjejaki pantai yang agak jauh di timur namun unik, pergilah ke Pantai Pink,” saran seorang pemilik restoran. Dari namanya, pantai itu tentu berpasir merah jambu, keajaiban sebagai akibat erosi pasir dari bukit-bukit sabana yang jamak terjadi di wilayah kepulauan Sunda Kecil. Mulanya bernama Pantai Tangsi, tapi diubah agar terdengar lebih mengglobal. Tak jauh dari sana, terdapat Tanjung Ringgit, satu area di mana tebing-tebing terjal bersisian dengan samudra. Agak menyerupai Uluwatu di Bali bila saja terdapat pura (kuil) di tanduk tanjungnya.

Puas di sisi timur Kuta, hari berikutnya kami beranjak ke sisi berlawanan. Rute menuju ke pantai-pantai sebelah barat ini tak kalah spektakuler lantaran topografinya yang lebih banyak bukit. Pelintasan cukup mulus. Sepinya jalan ditimpali oleh tanjakan maupun turunan yang meliuk-liuk membawa kami pada sensasi petualangan alam. Terus terang, saya menyukai jalur ini, terlebih bila melaluinya sendirian saat temaram.

Pantai Mawun menghipnotis kami dengan bentang pasir putihnya yang panjang dan berbentuk cekungan bagai bulan sabit. Bukit lancip di sebelah kanan jadi taringnya, sebatang pohon gagah rindang berperan sebagai peneduh, dan segelintir warung minuman dingin yang saling menjaga jarak.

Perhentian berikutnya adalah Pantai Selong Belanak, yang menggoda kami untuk berselancar. Pesonanya tak kalah dari pantai Brasil yang terkenal di dunia, dengan lengkungan pantai, gulungan ombak dan lapisan bukit di sekitarnya yang akan membuat siapa pun betah berlama-lama di sini. Tempat-tempat di pesisir barat Lombok ini sangat ideal untuk peselancar dan pencinta pantai yang ingin menikmati menyaksikan warna-warni indah saat matahari terbenam menutup hari yang tenang.

Tempat terakhir yang kami kunjungi hari itu adalah Pantai Mawi. Pantai ini memiliki dua sisi yang memikat. Ia tenang tapi juga liar, hening tapi juga dramatis. Ada dua teluk: di sebelah kanan adalah tempat para peselancar level menengah berkompetisi, sedangkan sisi kiri adalah pantai romantis yang sempurna untuk berbulan madu. Saya menemukan banyak keong, cangkang dan karang yang terdampar di pantainya yang bernuansa ungu.

Bukit karang di sebelah kiri menyembunyikan pemandangan lain yang memikat, yakni tumpukan batu yang mirip The Giants Causeway di Irlandia Utara, namun lebih rendah. Di pulau yang dikelilingi pantai-pantai spektakuler ini, Mawi adalah tempat yang sangat istimewa.

Bicara tentang pantai-pantai di Lombok, tidak akan terdengar sempurna jika tanpa menyingung serakan pulau kecil di rusuk baratnya; Gili Air, Gili Meno dan Gili Trawangan. Ketiganya berderet bagai kakak beradik yang mengapung di Selat Lombok. Lingkaran pasir putihnya memprovokasi  semua orang agar singgah. Masing-masing  memiliki kekhasan tersendiri.

Puncak dari perjalanan saya ke Kepulauan Gili adalah menyelam di antara patung-patung manusia di dasar laut Gili Meno, yang berlimpah ikan dan karang. Kendati paling kecil di antara ketiga Gili, pulau ini memiliki danau air asin yang menghasilkan garam saat musim kemarau. Sementara, Philip lebih menyukai Gili Air yang menenangkan dan dinaungi pepohonan kelapa. Walaupun tersedia bendi untuk membawa barang-barang turis, juga penyewaan sepeda dengan harga terjangkau, ia lebih suka berjalan-jalan santai di sekitar pulau, menyaksikan orang belajar menyelam.

Perjalanan kami di Lombok membuat kami lebih menghargai keindahan dan pesonanya, yang telah lama menjadi tujuan para pencinta alam, khususnya pencinta pantai. Kami menamatkan petualangan ini dengan beribu kenangan tentang pantai-pantai indah yang kami temui, yang unik dengan karakternya masing-masing, mulai dari pasir warna-warni hingga bentangan tebing yang dramatis. Soal pantai, memang tak banyak tempat di dunia ini yang bisa menandingi keajaiban Lombok.

From Travel Colours October 2018