buton_main

The Archipelago Journal: Buton Island

Untuk panorama alam, sejarah dan budaya, Pulau Buton yang kecil ini memiliki pesonanya sendiri yang sungguh menakjubkan.

Words by Sendy Aditya

buton_01

Pertama kali saya melihat Pulau Buton adalah ketika terbang di atasnya, di ketinggian sekitar seribu meter. Pada pagi yang cerah itu, saya terbang dengan Garuda Indonesia dari Makassar ke Baubau. Ketika kami hampir sampai di tujuan, kapten mengumumkan bahwa para penumpang dapat melihat keindahan Buton dari udara melalui jendela di sisi kanan.

Saya terpesona dengan apa yang saya lihat: sinar mentari keemasan menerangi pulau nan hijau, dan pelangi tampak melengkung di atas pantainya.

Kami mendarat di Bandara Betoambari di Baubau, bandara utama untuk masuk ke Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara. Seperti tetangganya yang lebih dikenal, Wakatobi, Buton dikaruniai keindahan alam yang kaya dan kehidupan laut yang beragam, namun masih menjadi permata tersembunyi di timur Indonesia.

buton_02

Baubau pernah menjadi ibu kota kuno Wolio Raya. Meski tidak banyak catatan sejarah tentang zaman itu, banyak teks Jawa kuno mengacu pada kerajaan lama yang hilang dan jatuh di bawah pengaruh Kerajaan Ternate di Kepulauan Maluku itu.

Sebagai pelabuhan utama di jalur perdagangan antara Sulawesi dan Kepulauan Maluku, pelabuhan Baubau memainkan eran strategis bagi kerajaan dari abad ke-14 sampai 16, ketika berubah menjadi Kesultanan Buton seiring kedatangan Islam ke wilayah tersebut.

Keraton Wolio yang luas adalah pusat dari Kesultanan Buton dan Wolio Raya yang sekarang telah runtuh. Benteng megahnya memiliki bentuk melingkar, dengan total panjang lingkaran mencapai 2.740 meter di atas lahan seluas 23.375 hektar. Di balik tembok batu setinggi dua meter di kompleks Keraton Wolio, terdapat warisan bersejarah peninggalan kesultanan, termasuk Masjid Agung Keraton, salah satu masjid tertua di timur Indonesia—yang dibangun pada tahun 1712 di bawah kekuasaan Sakiyuddin Durul Alam, Sultan ke-19 Buton.

buton_03

Di samping Masjid Agung berdiri tiang bendera kayu setinggi 21 meter, yang awalnya digunakan untuk mengibarkan bendera warna-warni dari Kesultanan Buton dan diyakini sebagai tiang bendera tertua di Nusantara!

Saat berkeliling kompleks istana, saya bertemu Suharto, Ibu Liya, dan saudara kandungnya yang berumur tujuh puluhan, Pak Wa’Adika, pemelihara sekaligus pemandu kompleks istana. Keduanya adalah anak dari La’Ane terakhir di Kesultanan Buton. La’Ane adalah seorang pria yang bertugas mengibarkan bendera kesultanan. Bayangan tentang Keraton Wolio di masa kejayaannya pun memenuhi kepala saya saat dua bersaudara itu menceritakan kepada saya cerita yang diwariskan oleh ayah mereka.

Saat matahari merayap tinggi di langit, panasnya seolah memanggang batu tembok istana. Saya pun mengucapkan terima kasih kepada pemandu saya yang baik atas waktu yang mereka berikan dan bergerak menuju destinasi saya berikutnya: Desa Wabula. Desa di distrik Pasarwajo Buton ini berjarak 28 kilometer dengan melewati jalanan yang berliku. Ketika saya tiba di desa pesisir itu, saya disambut oleh suara unik dari ketukan kayu berirama, yang berasal dari masing-masing rumah panggung.

buton_04

Suara itu berasal dari mesin tenun tradisional yang digunakan penduduk untuk membuat kain lokal yang unik dengan motif yang rumit. Sepotong kain dapat memakan waktu hingga lima hari untuk menyelesaikannya. Para wanita di desa itu menenun di kolong rumah kayu mereka untuk menghindari panas pada siang hari.

Kain yang mereka buat tidak cuma dijual ke segelintir wisatawan yang datang ke desa itu. Pakaian tradisional masih populer dipakai oleh penduduk setempat. Bahkan, sebagai wujud penghormatan terhadap tradisi, dan untuk membantu melestarikan budaya kerajinan di pulau tersebut sekaligus memberdayakan para pengrajin, Bupati Buton Samsu Abdul Samiun menetapkan Jumat sebagai hari mengenakan kain tradisional Buton bagi seluruh PNS.

Dari Wabula, saya bergerak menuju di sekitar perairan Pasarwajo untuk menyegarkan diri di laut dengan lokasi scuba diving-nya yang menyenangkan.

buton_05

Didampingi penyelam profesional Dedi dan Ardi, kami menjelajahi bentang laut di lepas pantai dan melihat beberapa ikan Mandarin. Ikan kecil ini sangat dicari oleh penyelam karena pola warnanya yang mencolok dengan perpaduan motif spiral, titik dan garis dalam warna-warna oranye, biru, kuning dan hijau neon. Menurut pemandu saya, studi terbaru menunjukkan bahwa ikan Mandarin juga memiliki struktur sosial yang kompleks dan ritual kawin yang menarik untuk diamati. Para peneliti mengungkapkan bahwa setiap malam setelah matahari terbenam, kelompok-kelompok yang terdiri atas tiga sampai lima ikan betina berkumpul, dan masing-masing kelompok memiliki sudut karang sendiri, yang dihuni anggota yang sama dari hari ke hari. Ikan-ikan jantan akan mengunjungi kelompok itu satu per satu untuk menampilkan perilaku berkembang biak mereka, dengan tujuan menarik ikan betina untuk melakuan “tarian” kawin.

Semakin banyak orang yang menemukan keindahan Buton, semakin banyak yang akan menghargai dan membantu melestarikan keindahan budaya dan alamnya.

Makassar ke Baubau


Waktu Penerbangan 55 menit

Frekuensi 7 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours January 2016

icon_touch
buton_senses

5 Senses – Touch
TEXTILES

Di desa tenun Wabula, penenun akan memperlihatkan kepada pengunjung keterampilan yang diwariskan kepada mereka secara turun temurun. Salah satu pola tradisional adalah dua garis berwarna samasili; jenis kain ini biasa dikenakan bersama busana tradisional di pesta-pesta dan upacara. Warna paling khas dari samasili ini adalah hitam dan putih.