ternate_main

The Archipelago Journal: Ternate to Sorong

Dengan kapal pesiar, Colours mengikuti jejak perjalanan seorang penjelajah Inggris di era Victoria, Alfred Russel Wallace, yang bersama Charles Darwin merupakan penemu teori evolusi melalui seleksi alam, di Indonesia bagian timur.

Words by Dr Tony Whitten Photography by Edmund Lowe

ternate_feat

“Duh, andaikan saya sempat mengenal Alfred Russel Wallace.” Demikianlah perasaan saya yang membuncah ketika pertama kali membaca buku berjudul The Malay Archipelago edisi Periplus, buku yang ditulis oleh Alfred Russel Wallace tentang perjalanannya selama 1854–1862.

Buku ini tak pernah berhenti dicetak sejak diterbitkan pertama kali pada tahun 1869 dan merupakan catatan perjalanannya selama delapan tahun berada di Indonesia dan Malaysia untuk mengumpulkan spesimen mamalia, burung, kupu-kupu, kumbang, dan siput yang kemudian dijual ke kolektor benda era Victoria dan juga museum. Dia sendiri atau terkadang bersama asistennya telah menempuh sekitar 40.000 mil dalam 60–70 kali perjalanan; mengumpulkan lebih dari 100.000 serangga serta ribuan mamalia dan burung; mengalami demam beberapa kali; menulis hal simpatik tentang masyarakat yang berinteraksi dengannya; dan menghadapi baik badai laut maupun arus air yang berbahaya. Saya masih merasakan hal yang sama tentang Wallace;  semakin saya belajar tentang dirinya dan mengunjungi tempat-tempat yang diceritakannya, rasanya saya akan senang untuk bisa duduk bersamanya di sebuah batang pohon di hutan, membicarakan ide-ide yang dimilikinya, merasa antusias akan keindahan berbagai satwa liar di kawasan itu, dan bertukar kisah perjalanan.

ternate_03

Wallace adalah sosok yang sangat rendah hati dan merupakan seorang yang autodidak dalam belajar serta amat menghargai Charles Darwin. Sebaliknya, Darwin pernah belajar di Cambridge, merupakan bagian dari kaum elite intelektual, dan tak pernah memiliki pekerjaan. Wallace sempat terinspirasi saat dia menderita demam di Halmahera yang akhirnya menjawab pertanyaannya mengenai sebab terjadinya evolusi. Wallace kemudian menulis surat singkat kepada Darwin mengenai ide-ide yang dimilikinya secara detail. Wallace tak menyadari betapa besar dampak ide-ide tersebut bagi Darwin yang kemudian terdorong untuk menulis buku yang cukup terkenal dan mengubah dunia, On the Origin of Species.

ternate_04

Pengamatan Wallace terhadap burung dan mamalia selama perjalanannya ke penjuru Indonesia, dan khususnya di bagian timur dan barat negeri ini, adalah hal yang menyebabkan Wallace menyimpulkan bahwa ada perbedaan besar antara spesies yang ditemukan di bagian timur dengan di bagian barat. Di barat, ada fauna khas Asia, yaitu badak, primata, burung pelatuk, tupai dan burung, sementara di bagian timur, terdapat fauna khas Australia, yaitu hewan marsupial, burung cenderawasih dan kasuari. Dia menyimpulkan bahwa, untuk mamalia dan burung, ada garis antara Bali dengan Lombok dan antara Kalimantan dengan Sulawesi, yang keseluruhannya menandai terbaginya dua jenis fauna tersebut. Garis ini dikenal sebagai Garis Wallace.

Hal ini yang kemudian menginspirasi pemilik Seatrek Sailing Adventures di Bali untuk mengadakan pesiar yang menapaktilasi kehidupan dan perjalanan Wallace, dengan saya sebagai pemimpin perjalanan. Kami pun berlayar dengan kapal tradisional pinisi atau kapal bertiang ganda, yang bernama Ombak Putih, dengan kenyamanan penuh.

ternate_05

Para tamu diberi kesempatan untuk menemukan dan mengidentifikasi serangga, serta menghabiskan waktu dengan segala hal, mulai dari plankton dalam akuarium besar hingga burung-burung yang sangat cantik, dari siput hingga kepiting kelapa raksasa, mulai dari ubur-ubur tanpa sengat hingga beo bersuara melengking, mulai dari anemon laut hingga hiu paus, serta mulai dari kantong semar hingga pepohonan hutan berukuran raksasa—sungguh merupakan hamparan ilmu pengetahuan alam! Terkadang saya memasang kamera tersembunyi di hutan pada malam hari sehingga keesokannya kami dapat mengetahui jenis satwa apa saja yang melintas ketika kami tidur. Ada sejumlah aktivitas yang membuat kami khawatir bahkan sebelum memulai, seperti berjalan melewati guano (kotoran kelelawar) di sebuah gua yang penuh binatang tersebut untuk melihat kepiting langka, berjalan melintasi hutan hujan yang rimbun, atau berenang melalui gua bawah tanah yang gelap gulita. Tapi dengan saling menyemangati, akhirnya banyak yang mengakui, bahwa mereka baru saja melakukan hal paling menarik dan menakjubkan dalam hidup mereka.

Dua dari antara spesies burung cenderawasih (bird of paradise) yang kami lihat berada di Pulau Waigeo di Raja Ampat di mana LSM konservasi tempat saya mengabdi, Fauna & Flora International (FFI), bekerja sama dengan beberapa desa di sana untuk melestarikan hutan dan satwa yang ada di dalamnya. Usia FFI telah menginjak 114 tahun pada tahun ini dan telah berkarya di Indonesia selama 20 tahun terutama dengan pendekatan berbasis masyarakat.

ternate_06

Kami pergi untuk snorkelling setidaknya sekali dalam sehari dan banyak habitat yang telah kami temui, di mana masing-masing memiliki pesonanya sendiri. Rawa pada hutan bakau dan dataran luas pasir putih kebetulan tidak memiliki terumbu karang yang terlalu beragam, tetapi spesies hewan dan tumbuhan yang ada cukup berbeda. Spesies yang tak terlalu banyak ini justru membuat Anda dapat lebih fokus mengamati. Wallace menceritakan dengan penuh antusiasme mengenai berlimpahnya keragaman spesies pada terumbu karang ketika dia mengunjungi Teluk Ambon. Sayang sekali, Wallace tak pernah ber-snorkelling. Saya yakin dia akan menyukainya!

Kami menepi di sebuah pulau kecil berhutan seraya berimajinasi sejenak bahwa kami sedang terdampar. Wallace dahulu sering merasa kecewa karena saat menepi dan mencari air tawar, dia kerap tak dapat menemukannya. Sementara kami mendapatkan kemewahan, bisa menikmati minuman dingin kapan saja dengan mengambilnya dari perahu.

ternate_07

Di sejumlah lokasi, kami melihat pemandangan yang tampaknya tak berubah sejak digambarkan oleh Wallace dalam bukunya lebih dari 150 tahun lalu. Sebagai contoh, kami dapat menyaksikan spesies burung cenderawasih merah yang sedang menarik perhatian lawan jenisnya dan membandingkan apa yang kami lihat dengan deskripsi Wallace tentang proses merayu oleh sang cenderawasih. Harapan saya, dalam kurun waktu 150 tahun ke depan, pengunjung tempat ini masih bisa menemukan keindahan habitat satwa Indonesia yang terjaga, sambil membawa buku karya Wallace.

Jakarta ke Ternate


Waktu Penerbangan 3 jam 20 menit

Frekuensi 7 kali seminggu

Pesan Sekarang

From Colours April 2017

icon_sound
ternate_senses

5 Senses – Sound
WAIGEO ISLAND

Ketika duduk di bangku kayu yang berada di hutan Pulau Waigeo, kami sadar sepenuhnya bahwa kami sedang menantikan kicauan burung-burung cenderawasih. Jika Anda belum pernah menyaksikan satu pun, dalam bayangan Anda, hewan secantik ini tentunya memiliki suara merdu. Namun ternyata, kicau burung cenderawasih merah ini lebih seperti suara burung gagak. Ketika cenderawasih jantan membuat tarian untuk memikat lawan jenisnya, maka suara jangkrik, tonggeret, katak dan suara burung lainnya langsung tenggelam oleh kicauan burung-burung cenderawasih ini.