banjarmasin_main

Banjarmasin

Banjarmasin adalah Ibu Kota Kalimantan Selatan. Warisan arsitektur yang unik, keindahan alam dan pasar terapung
warna-warni menjadikan Banjarmasin sebuah lokasi liburan yang menawan.

Words and photography by Suwandi Chandra

banjarmasin_01

Resmi berdiri pada 1526 dengan nama Banjarmasin, kota ini sebenarnya sudah ada beberapa abad sebelumnya dengan sejarah legendaris yang meliputi Kerajaan Kalimantan Selatan kuno Nansarunai, Negara Dipa dan Negara Daha. Lokasinya yang berada di dekat persimpangan Sungai Martapura dan Sungai Barito menjadikan Banjarmasin pelabuhan dagang strategis sepanjang era kolonial dan membuat kota itu dijuluki “Kota Sungai”.

Bahkan sebagai kota yang berkembang di abad ke-21, bergerak ke segala arah dengan berbagai proyek pembangunan baru, cara hidup tradisional di Banjarmasin masih mengandalkan perairan dan tepi sungai dalam kehidupan sehari-hari.

Menjelajahi kota ini melalui kehidupan sungainya akan membawa Anda mengenal budayanya yang dinamis. Setelah tidur lebih awal, saya memulai perjalanan saya pukul 04:00, tepat sebelum fajar. Pemandu lokal Andy membawa saya ke dermaga terdekat yang berada tepat di bawah jembatan.

banjarmasin_02

“Kita menunggu perahu di sini untuk pergi ke Lok Baintan dan mengunjungi Pasar Terapung, pasar tradisional yang terkenal. Pasar mulai beroperasi sekitar pukul 05:30 dan hanya buka sekitar 3-4 jam, jadi kita harus ke sana sebelum semua orang datang,” jelas Andy. Lima menit kemudian, saya bisa mendengar suara perahu bermotor tunggal mendekati kami. Perahu ini adalah perahu kayu tradisional yang telah dimodifikasi dengan mesin motor.

“Kami menyebutnya kelotok. Sebelum dibangunnya jalanan dan jembatan, kelotok ini banyak digunakan untuk transportasi, membawa orang atau barang antardesa dan kota. Sekarang kebanyakan digunakan sebagai perahu wisata,” ujar Andy.

Kami menyusuri sepanjang Sungai Martapura, melewati banyak Rumah Lanting—rumah tradisional antibanjir yang dibangun di atas batang-batang kayu yang mengapung di tepi sungai—sementara nelayan-nelayan lokal bergabung dengan kami di sungai pagi itu.

banjarmasin_03

Perahu melambat untuk berhenti di depan dermaga Lok Baintan. Kami sampai lebih awal. Tapi tidak lama kemudian para pedagang tiba dari desa-desa di sekitar dengan menggunakan perahu kayu kecil berwarna-warni yang mengangkut hasil pertanian segar. Perahu-perahu pun perlahan berdatangan dari segala arah. Menakjubkan melihat begitu banyak perahu menciptakan gerakan yang harmonis.

“Pasar terapung ini sudah ada selama beberapa generasi. Bahkan, beberapa penjual masih menggunakan sistem barter; tidak perlu uang,” kata Herman, nakhoda perahu kami.Saat itu ada sekitar 50 kapal di sekitar dermaga, membentuk salah satu pasar terapung paling ramai yang pernah saya lihat.

“Teh panas atau kopi?” tanya Nur, salah satu pedagang, saat perempuan itu mendekat ke samping kelotok kami. Saya membeli secangkir teh panas yang mengepul, sempurna untuk dinikmati di pasar pagi yang dingin seperti ini. Selain warung kopi terapung ini, beberapa kapal lain menjual sarapan yang menggugah selera. Jika Anda tertarik dengan kerajinan lokal, ada kapal yang menjual topi tradisional hasil tenunan tangan dan keranjang-keranjang bambu. Pasar sungai ini sangat lengkap.

banjarmasin_04

Jika Anda mau, Anda bahkan bisa mencoba bagaimana rasanya menjadi pedagang. Anda hanya perlu sedikit lebih ramah, berkenalan dengan salah satu penjual dan meminta izin untuk naik ke perahu mereka.

Saat melewati pasar terapung mengelilingi dermaga, pedagang mendayung perahu mereka di sepanjang sungai sambil menawarkan barang-barang mereka ke rumah terapung di sepanjang jalan—model lain dari penjualan “door-to-door”. Ketika kapal mereka sudah terbawa jauh ke hilir, mereka akan mendayung ke hulu lagi, begitu seterusnya sepanjang hari.

Menyaksikan indahnya perdagangan produk-produk lokal sepanjang pagi itu membangkitkan nafsu makan saya, dan saya pun siap untuk menikmati sarapan ala Banjarmasin yang sebenarnya. Andy mengajak saya mencoba Soto Bang Amat, yang terkenal di kalangan penduduk setempat dengan soto Banjar-nya, hidangan kaldu bersantan dengan lontong, suwiran ayam, wortel, telur bebek dan bihun. Kaldunya tidak pekat, namun memiliki rasa yang kuat seperti kari. Tempat makan ini tutup setiap hari Jumat, tetapi ada alternatif lain yakni Soto Bawah Jembatan. Saya memesan seporsi sate ayam untuk disantap bersama soto, dan perut saya pun kenyang. Restoran itu berdiri di tepi Sungai Martapura dan pemandangan sungai yang indah akan menemani Anda menikmati hidangan Banjar yang kaya rasa.

banjarmasin_feat

Setelah selera terpuaskan, kami melanjutkan perjalanan mengeksplorasi sungai lebih jauh. Saya melihat sebuah bangunan yang menonjol di antara rumah-rumah lainnya. Menurut Andy, itu adalah Masjid Sultan Suriansyah yang terkenal, masjid tertua di Kalimantan Selatan. Dibangun lebih dari 300 tahun lalu ketika Sultan Suriansyah memerintah daerah itu. Sultan ini juga merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam.

Masjid ini terletak di kompleks istana (Kampung Kraton) di Desa Kuin Utara. Bangunannya memiliki desain arsitektur yang unik dengan atap berlapis khas Banjar pra-Islam yang disebut Bubungan Tinggi.

“Masjid ini adalah salah satu dari sedikit bangunan yang masih mempertahankan gaya arsitektur tradisional,” kata Andy.

Selain Bubungan Tinggi, ada juga sasirangan, kain Banjar tradisional yang kurang dikenal. Kain dijahit dengan cara yang unik sebelum melalui proses pewarnaan. Setelah itu, bagian-bagian kain dipotong terbuka untuk mengeluarkan motif putih yang indah yang disebut sasirangan. Mereka menggunakan kain tersebut untuk membuat baju wanita, sarung, syal dan banyak pakaian tradisional lainnya serta suvenir.

Saya cukup beruntung dapat mengunjungi Kampung Sasirangan dan bertemu dengan Hasbullah yang memproduksi sasirangan di rumahnya. Dia mengundang saya untuk melihat tempat kerjanya dan proses pembuatan sasirangan. “Setiap langkah dari proses pembuatannya dilakukan secara manual dengan tangan. Dibutuhkan sekitar 15 hari untuk menyelesaikan satu kain, mulai dari menggambar motif, menjahit sasirangan, pencelupan dan kemudian pengeringan,” jelas Hasbullah. Meskipun bisa menggunakan mesin untuk mencetak motif, penduduk setempat tetap menyukai sasirangan buatan tangan. Hasilnya adalah kain yang unik dibandingkan kain-kain lainnya, menampilkan rasa seni etnik Banjar dalam sebuah kain yang ditenun dengan hati-hati.

Dari Kampung Sasirangan, kami kembali ke pusat kota untuk mengunjungi Kuil Soetji Nurani, sebuah kuil Tiongkok tua di daerah Pecinan. Dibangun tahun 1898, kuil ini adalah kuil Tiongkok tertua di Banjarmasin. Catnya yang berwarna merah terang mengundang perhatian ketika melewati daerah itu. “Meskipun ini adalah kuil Tiongkok, tapi siapa pun dari berbagai latar belakang agama atau etnis dipersilakan untuk berdoa,” kata Andy.

banjarmasin_05

Di seberang kuil terdapat banyak lokasi konstruksi. “Daerah ini menjadi fokus pengembangan baru oleh pemerintah yang disebut Taman Siring. Tempat ini akan dijadikan taman rekreasi yang juga merupakan upaya pemerintah daerah untuk mencegah abrasi di sepanjang Sungai Martapura,” kata Andy.

Salah satu elemen utama dari taman ini adalah landmark terkenal Patung Bekantan, yang menggambarkan ikon Kalimantan, kera bekantan. Nantinya juga akan ada lapangan basket, taman untuk bersepeda dan bermain papan luncur dengan banyak tempat duduk, dan tempat untuk bersantai serta piknik di tepi sungai. Sudah ada banyak warung makanan di sepanjang pinggir sungai untuk menikmati pemandangan bersama keluarga dan teman-teman. Jika rencana pembangunan sudah sepenuhnya terlaksana, daerah ini akan menarik lebih banyak orang, terutama di Pasar Terapung Siring, yang bakal dibuat lebih besar, lebih panjang dan mampu menampung penjual bahkan dari Lok Baintan.

Saya duduk-duduk di rumput dan memesan jagung bakar, sambil menikmati panorama sungai dan kota. Saat matahari mulai terbenam, saya membayangkan seperti apa kiranya tempat ini bila nanti seluruh pembangunan itu selesai. Saya optimis kehidupan tradisional masyarakat Banjar akan terus semakin berkembang, tetapi rasanya saya tak sabar ingin segera kembali untuk memastikan hal itu.

Jakarta ko Banjarmasin


Waktu Perjalaan 5 jam 15 menit

Frekuensi 3 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours February 2016

icon_sight
banjarmasin_senses

5 Senses – Sight
SELFIE HEAVEN

Berkunjunglah ke Pelaihari di Banjarmasin Tenggara untuk menikmati keindahan alam sepenuhnya dari titik pandang Wisata Kayangan, di mana Anda dapat melihat Gunung Meratus dan lanskapnya yang luas dan subur. Lebih jauh ke selatan ada Bukit Rimpi yang indah dan belakangan ini populer di kalangan penduduk setempat dengan padang rumput berbukit yang menyerupai bukit di Selandia Baru. Gunakan kamera Anda: ini adalah surga selfie bagi pencinta alam.