bukittinggi_main

Bukittinggi

“Bukittinggi adalah kota dengan 300 daya kuda,” ujar Andi Taufik tersenyum saat mengikatkan kuda jantannya, Benasok, pada bendi (delman) yang berjejer di sepanjang jalan di pasar bawah Bukittinggi. “Saya mengemudikan bendi sejak masih kecil dan waktu itu masih ada lebih dari 1.000.”

Words by Jack Orchard

bukittinggi_in5

Udara pegunungan yang sejuk membawa aroma manis dari buah-buahan tropis dan sayuran segar, serta aroma rempah dari kios yang menjual cengkih, pala, kopi dan batang-batang kayu manis terbesar yang pernah saya lihat. Delman-delman diisi dengan muatan bahan-bahan segar, lalu para ibu rumah tangga memanjat ke dalamnya, dan mengobrol seru dengan kusir pilihan mereka hari itu.

Kota di dataran tinggi, yang terletak di lereng gunung berapi Sumatera Barat, ini terkenal dengan bendi-bendinya yang berwarna cerah. Sebelum sampai di Bukittinggi, saya mengira kereta-kereta kuda itu sekarang hanya digunakan untuk perjalanan wisata di sekitar tempat-tempat bersejarah. Akan tetapi, Andi Taufik mengatakan kepada saya bahwa kendaraan tradisional ini masih menjadi bagian penting sistem transportasi umum di Bukittinggi, dengan jumlah lebih dari 300 bendi.

Bukittinggi didirikan sebagai pusat perdagangan untuk lima desa di wilayah tersebut. Dan kini, kota tersebut telah menjadi sentra bisnis terkemuka dan juga pusat pendidikan. Namun, meski berstatus kota terbesar kedua di Sumatera Barat (setelah Padang), kota dengan penduduk 117.000 jiwa ini adalah salah satu kota paling tenang di Indonesia. Luangkan waktu Anda untuk menjelajahi kota dengan santai menggunakan bendi (atau berjalan kaki), dan Anda akan melihat bahwa Bukittinggi masih memiliki atmosfer sebuah kota pasar yang tenang.

The wonderfully iconic Limpapeh Bridge (which connects Fort de Kock and the zoo) offers some of the best vantage points over Bukittinggi old town.

Meski bendi tersedia di setiap sudut, sebagian besar pemandangan yang wajib Anda lihat di kota bersejarah ini mudah dijelajahi dengan berjalan kaki. Kolonial Belanda membangun garnisun utama mereka di sini dan menyebut kota ini Fort de Kock, yang diambil dari nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Hendrik Merkus de Kock. Bentengnya, yakni Benteng Fort de Kock, dibangun sebagai pusat strategis selama Perang Padri tahun 1825. Kini, benteng batu tua itu kini begitu tenang dan dikunjungi pasangan-pasangan serta keluarga yang berjalan-jalan di antara paviliun-paviliun kecil dan meriam-meriam besi yang ditinggalkan oleh Belanda. Tembok pertahanan utamanya, Jembatan Limpapeh, menghubungkan benteng dengan bagian atas kota yang secara harfiah disebut ‘Bukit Tinggi’ pada tahun 1949.

Bendis are the most scenic and traditional ways to explore the main streets of Bukittinggi.

Dahulu, jembatan ini (sekarang menjadi jembatan pejalan kaki) adalah salah satu rancang bangun terbaik yang dibuat kolonial Belanda di Sumatera, dan kini jembatan tersebut menawarkan pemandangan indah atap-atap
bangunan menyerupai tanduk kerbau khas arsitektur tradisional Minangkabau. Di ujung timur jembatan Anda akan menemukan Kebun Binatang Bukittinggi dan di luarnya ada lorong-lorong Pasar Atas. Jika pasar di bagian bawah menjual produk-produk segar, Pasar Atas adalah bazar besar yang menjajakan bermacam-macam barang, mulai dari baju, furnitur kayu buatan lokal sampai barang-barang antik peninggalan zaman Jepang dan Belanda. Lebih jauh ke atas bukit, di Taman Bundo Kanduang, Anda akan melihat landmark paling terkenal di Bukittinggi, yakni menara Jam Gadang yang dibangun oleh Belanda tahun 1926. Awalnya atap menara diberi hiasan ayam jago (kemudian diganti ornamen Jepang selama perang), tapi setelah kemerdekaan atapnya diganti dengan gaya Minangkabau. (Jam ini juga unik karena hanya pembuatnya yang tahu mengapa angka empat pada jam ditulis IIII, bukan IV sebagaimana lazimnya)

Just on the outskirts of the hill town of Bukittinggi in the Minangkabau highlands, lies this breathtaking canyon which the locals call Ngarai Sianok, or the Sianok Canyon. Its panorama is particularly beautiful in the early morning light when the first rays of the sun pierce through the mist covering this deep valley that has majestic Mount Singgalang looming at its background. Ngarai Sianok has two steep walls facing each other almost vertically, falling to a flat bottom where a river meanders among green ricefields.  Its height is about 100 to 120 meters and the canyon itself is 15 km long. This gorge separates the towns of Bukittinggi and Kota Gadang on its opposite side. The beauty of Sianok can be seen from Panorama Park in Bukittinggi or you can also walk down into the gorge, where are a settlement and paddy fields. Then crossing a bridge over the river, climb up to Kota Gadang, home of silversmiths who produce the finest filigree ornaments.  

Bagi Indonesia, Bukittinggi adalah pusat perjuangan kemerdekaan dan ada satu tempat penghormatan yang ingin sekali saya kunjungi, letaknya tidak jauh dari pusat kota. Hari sudah sore saat kami tiba di rumah kelahiran Mohammad Hatta (atau Bung Hatta), salah satu pendiri negara dan wakil presiden pertama Indonesia. Ia lahir di sini pada tahun 1902, dan rumah yang kini dijadikan Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta ini memberikan wawasan menarik tentang masa muda Bung Hatta di bawah kekuasaan Belanda. Rumah kayu yang masih terpelihara dengan perabotan sederhana ini memberikan sekilas gambaran tentang Indonesia di masa lalu.

Setelah berkeliling museum sambil membayangkan seperti apa wajah Bukittinggi di era Bung Hatta, saya melangkah keluar ke kebun belakang dan melihat sebuah objek yang tak asing lagi. Sebuah bendi yang dahulu milik keluarga Bung Hatta ketika ia masih kecil diparkir di halaman belakang. Bendi ini hampir sama dengan yang sedang ditunggui Andi Taufik di jalan di luar museum. Saya pun menyadari, di antara banyak kekayaan sejarah “kota 300 daya kuda” ini, pasti ada banyak hal yang akan membuat Bung Hatta senang jika ia bisa melihatnya lagi.

Jakarta ke Padang


Waktu Penerbangan 1 jam 20 menit

Frekuensi 49 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours September 2016

icon_sight
A macaque enjoys the view over the great chasm of Sianok Canyon.

5 Senses – Sight
JUNGLE VIEWS

Rute dari pesisir Padang hingga dataran tinggi Bukittinggi terlalu indah untuk dilewati begitu saja. Luangkan waktu untuk menyewa mobil beserta sopir setidaknya untuk setengah hari agar dapat berhenti sejenak dan menjelajahi hutan di sepanjang jalan, di mana tampak monyet di tepian jalan dan burung enggang terbang tinggi di udara.