1

The Archipelago Journal: Flores to Alor

2

Kapal penjelajah pinisi, seperti yacht ukuran 51 meter yang dinamakan Dunia Baru, memiliki peranan penting dalam menguak harta tersembunyi di pulau-pulau Indonesia yang masih terisolasi. Colours mendapatkan banyak temuan mengejutkan di antara pulau-pulau yang terbentang antara Flores dan Alor.

Words and photography by Mark Eveleigh

Ada aura misteri yang terasa saat terbangun di atas kapal yang tidak akan pernah kita rasakan saat berada di daratan. Setiap hari merupakan pengalaman baru dan kita tak akan pernah tahu apa yang akan kita lihat saat fajar tiba.

Buaian lembut kapal telah meninabobokan saya sampai tertidur, namun sinar mentari yang menerangi langit-langit dari kayu jati membuat saya terbangun dengan rasa tak sabar menyongsong hari. Hari mulai gelap waktu kami berangkat dan sekarang saya penasaran di manakah kami berada saat ini.

Beranda kapal sudah terasa hangat di bawah kaki saya yang telanjang saat keluar, sambil membawa secangkir cappuccino dan menikmati pemandangan. Di horizon bagian barat saya bisa melihat deretan gunung berapi Flores memancarkan bias cahaya keemasan matahari dan saat kami berbelok ke timur tampak keindahan panorama bak terlukis di kartu pos, lengkap dengan pantai yang dipenuhi pohon palem dan terlindungi oleh laguna nan indah.

3

Sebagai seorang peselancar, mata dan telinga saya langsung tertuju ke deru ombak yang pecah di karang. Mark Robba, pemilik kapal Dunia Baru, menunjukkan lokasi kami di peta saat tiba tadi; kami berada di teluk besar yang tersembunyi di sebelah timur pulau Alor dan saya terkejut mengetahui bahwa ombak selatan Indonesia yang terkenal bisa sampai ke lokasi ini.

“Lihat itu!” ujar sebuah suara di belakang saya, “Luar biasa!”

Ia adalah peselancar asal California, Andre Emery, yang sambil menggenggam cangkir kopinya, berbicara penuh antusias di hari yang masih sepagi ini.

5

Sambil menganggukkan kepala tanda setuju, Akoni Kama, peselancar asal Hawaii berambut gimbal, langsung tersenyum seraya menyerahkan teropong. Saya melihat garis pantai di arah yang
mereka tunjuk dan saya langsung memahami rasa sukacita yang mereka rasakan.

Sepanjang lekukan karang nan jauh di sana saya bisa melihat bayangan garis ombak yang mulai terbentuk. Ombak itu menjadi kian gelap saat mendekati perairan dangkal, menjadi makin tinggi dan tiba-tiba saya melihat sebuah barel yang berbentuk seperti kacang almond dengan presisi lurus sepanjang tepi karang. Biasan air terlihat seperti bulu terbang di tepian pantai.

8

Rasa semangat bercampur dengan frustrasi: kami sudah tahu sebelumnya bahwa kami akan menyusuri rute pantai utara namun tak seorang pun dari kami membawa papan selancar. Papan dayung sepanjang tiga meter yang ada di kapal ini terlalu besar untuk ombak sekaliber ini, tapi Akoni mengatakan bahwa orang Hawaii dahulu malah sering berselancar di atas ombak yang lebih besar dengan menggunakan papan yang lebih berat.

Saya pun turun ke atas bebatuan dan mengarahkan papan menyamping ke arah gulungan ombak yang kecepatan dan tingginya mengingatkan saya akan ombak kelas dunia di Lagundri, Nias, namun dengan versi left-hand. Dengan papan yang berat ini, nyaris dari semua ombak yang datang, kami harus berakhir dengan papan yang terlepas, tapi kami senang bisa menjadi orang pertama yang berselancar di tempat yang kini kami sebut Fukawi Point.

15

Hanya di Indonesia saja ombak sesempurna ini bisa tersembunyi dengan cantiknya. Di antara pulau-pulau kecil di khatulistiwa terbaik di dunia ini pasti ada banyak misteri lain yang menunggu untuk dijelajahi.

“Berlayar adalah satu-satunya cara untuk dapat mengakses tempat tersembunyi seperti ini,” ujar Mark Robba. Sebuah petualangan kelas dunia, sebuah penjelajahan sejati.

Saya paham betul maksudnya. Saya sudah bepergian menjelajahi Indonesia dan merasa amat beruntung bisa mengunjungi pulau dan komunitas yang belum pernah didatangi warga asing.

12

Sudah hampir genap satu minggu sejak kami bersandar di Maumere dan menjelajahi tepi barat pulau yang disebut penjelajah Portugis “Teluk Bunga”. Seperti yang dijanjikan Robba, setiap hari kami menemukan petualangan baru. Kami menyelam dengan kura-kura dan ikan pari, berlayar mengitari gunung berapi yang berasap dan mengunjungi Desa Lamalera yang legendaris. Di pulau lain kami berbincang dengan petani rumput laut, menari bersama suku Abui dan berenang dengan anak-anak yang ceria.

Di pulau kecil Pura, kepala desa Andrean Baut Bakawetang bercerita bahwa nenek moyangnya dahulu bahkan sanggup membawa turun jangkar besi berukuran besar dari puncak yang berada di tengah pulau ke desa mereka.

“Tapi bagaimana jangkar ini bisa berada i atas puncak itu?” tanya saya.

9

“Tidak ada yang tahu tepatnya bagaimana jangkar itu bisa sampai ke pulau—mungkin bawaan orang Portugis atau Belanda,” jelasnya. “Dahulu kala, nenek moyang kami bertubuh besar—mereka bahkan lebih tinggi dari Anda. Mereka membawa jangkar ini ke puncak bukit. Hal yang mudah bagi mereka—otot mereka bahkan lebih besar dari Anda!”

Lalu Pak Andrean menjelaskan bahwa penduduk di pulau tersebut dibagi menjadi empat suku. Suku Mulepang hanya terdiri atas 12 keluarga, mungkin ini adalah suku terkecil di dunia.

Di khatulistiwa tersembunyi seperti inilah kita bisa benar-benar memahami keanekaragaman yang luar biasa di negara ini. Masih ada banyak harta karun tersembunyi di Indonesia berupa pulau-pulau indah yang belum banyak dieksplorasi.

Rute Baru ke Maumere dan Kupang

10

Sebelum Anda berpelesir dari pulau ke pulau antara Flores dan Alor, pastikan Anda menjelajahi keindahan Maumere dan Kupang, kota-kota di pesisir pantai yang kini lebih mudah dijangkau dengan dibukanya dua rute baru dari Garuda Indonesia.

Maumere adalah ibu kota dari Kabupaten Sikka, di Flores, sekaligus kota terbesar di pulau ini. Berlokasi di pesisir utara Flores, Maumere merupakan titik tolak yang strategis untuk menjelajahi alam Flores yang luar biasa, yang begitu indahnya sehingga kolonial Portugis menjuluki pulau ini dengan nama “Cape of Flowers” atau Bukit Bunga, begitu mendarat tahun 1511.

Salah satu keindahan pulau ini adalah Pantai Koka, yang berada di pesisir selatan dan dapat dicapai hanya satu jam dari kota. Dengan pantainya yang berpasir putih, Koka bisa menjadi lokasi syuting untuk film-film fantasi Hollywood bertemakan pulau tropis.

11

Taman Nasional Kelimutu, sekitar 3 jam berkendara dari Maumere, menawarkan pemandangan yang menakjubkan dari danau tiga warna Kelimutu. Danau dengan tiga warna tersebut (di ketinggian 1.600 m) dianggap keramat oleh masyarakat setempat, dan memang sebuah tempat spiritual yang mengesankan. Warna-warni danau tersebut berubah-ubah selama beberapa tahun, mulai dari hijau muda dan putih susu hingga cokelat tua dan biru. Terkadang perubahan warna tersebut tak dapat diprediksi, bisa berubah dalam waktu satu malam. Mendaki hingga ke puncak kaldera ini, dan menangkap momen terbitnya fajar merupakan pengalaman tak terlupakan yang bisa Anda dapatkan di Flores ini.

Sebelum kembali ke kota, Anda bisa menikmati pesisir Maumere dari sekitar monumen patung Bunda Maria setinggi 18 m, yang juga dikenal sebagai Bunda Segala Bangsa, patung enatap ke arah kota dari atas Bukit Nilo. Di bukit di belakang Bukit Nilo ini, Anda dapat mengunjungi Seminari St Petrus Ritapiret dan mendapatkan pengalaman langka melihat tempat tidur yang pernah digunakan oleh Paus John Paul II saat berkunjung ke Maumere tahun 1989.

Selain itu, pulau ini juga memiliki kekayaan tradisi seni dan budaya yang terinspirasi keindahan alamnya. Kerajinan kain tenun menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pulau ini.

13

Flores dikenal dengan
kerajinan tenun ATBM dan tenun ikatnya, khususnya bagi perempuan-perempuan yang menjadi anggota koperasi Tenun Lepo Lorun telah terkenal sebagai pengrajin tenun terbaik di dunia. Alfonsa Horeng mendirikan Lepo Lorun tahun 2003 dan telah berkelana ke lebih dari 30 negara untuk memamerkan tenun ikat hasil karya kampung halamannya.

Lain halnya dengan Maumere, Kupang terkesan lebih sibuk karena merupakan ibu kota Nusa Tenggara Timur. Ibu kota yang berlokasi di tepi pantai merupakan kota universitas dan hub bagi transportasi ke daerah sekitarnya, sehingga tak heran bila kota ini lebih ramai. Di sini terdapat cukup banyak akomodasi tepi pantai yang sederhana, sejumlah bar, restoran dan pasar malam yang dapat dikunjungi.

Tak jauh dari kota ini terdapat Gua Kristal, hal yang tak boleh dilewatkan bagi penyuka petualangan alam. Dengan kolam berair jernih di dalam gua ini, tempat ini juga bisa digunakan untuk berenang. Pastikan Anda tak lupa membawa senter dan alas kaki yang tepat untuk menuruni bebatuan yang licin saat memasuki gua.

Sebagai hub transportasi, Kupang juga merupakan tempat berlibur di tepi pantai serta area untuk berselancar dengan ombak besarnya, yang bisa ditemukan di pulau-pulau tetangga seperti Rote dan Alor.

Denpasar ke Maumere


Waktu Penerbangan 2 jam

Frekuensi 4 kali seminggu

Jakarta ke Kupang


Waktu Penerbangan 2 jam 55 menit

Frekuensi 7 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours November 2016

icon_taste
6

5 Senses – Sound
MOKO DRUMS

Bersenang-senanglah saat mendengar gendang moko yang keramat dimainkan untuk mengiringi tari pejuang warga Abui. Musiknya terasa menghipnotis, suara gendangnya seirama dengan suara
hentakan gelang besi yang dikenakan di kaki perempuan Abui. Suku Abui dahulu adalah pemburu yang disegani dan tarian pejuang yang ditampilkan saat Anda memasuki Desa Takpala tetap terasa dapat membuat ciut nyali lawan, bahkan hingga kini.