Traditional wooden boats at Sunda Kelapa harbor, Jakarta.

Welcome to Jakarta: Old-town Charm

Dalam rangka ulang tahun Jakarta ke-489, Colours menjelajahi Kota Tua untuk melihat jantung kota ini di balik eksterior yang modern.

Words and Photography by Aditya Saputra

jakarta_in9

Seorang wanita setengah baya duduk sendiri di sudut kafe sambil menikmati secangkir kopi pagi dan kudapan ringan. Perjalanan ribuan kilometer ditempuh wanita ini dari Belanda guna mengenang sang ayah yang pernah bercerita tentang kejayaan kota ini.

Kafe ini adalah favorit para turis dan paling terkenal di area sudut barat laut Taman Fatahillah, yang pernah menjadi pusat kota Jakarta Lama—yang dikenal dengan nama Batavia—dan karena itu kafe tersebut dinamai Café Batavia. Kafe ini adalah kafe mungil yang antik dengan kipas angin di langit-langit, jendela yang tertutup dan foto-foto kuno tergantung di dinding,dan seperti halnya taman bersejarah ini, Café Batavia meninggalkan gambaran jelas tentang Jakarta di era kolonial.

Tak jauh dari kafe ini, ada tiga museum yang masih berkaitan dengan Taman Fatahillah, yakni Museum Sejarah Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik serta Museum Wayang.

AN69XJ Cafe Batavia Old Batavia Square Taman Fatahilah Square Jakarta Indonesia. Image shot 2008. Exact date unknown.

Teman baru saya di kafe ini mengatakan sewaktu kanak-kanak betapa dia senang mendengarkan ayahnya bercerita tentang pengalamannya, yang kini bisa ditemukan di berbagai ruang Museum Sejarah Jakarta. Ayahnya adalah seorang pelaut yang berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa untuk membawa rempah-rempah kembali ke negara mereka. Dia merasa kagum melihat Jakarta kini yang telah tumbuh menjadi kota mega-metropolis yang mampu menarik pengunjung dari seluruh dunia dengan budaya dan karakternya yang dinamis, serta modernitas yang ditawarkan, mulai dari tempat-tempat belanja berkelas dunia, restoran dan hiburan malam 24 jam.

Terinspirasi oleh cerita wisatawan Belanda itu, saya pun memutuskan untuk menjelajahi Museum Sejarah Jakarta lebih dulu. Memang benar, museum ini memberikan banyak wawasan tentang kekayaan dan warna-warni sejarah kota besar ini dengan koleksi lebih dari 23.000 objek, mulai dari memorabilia zaman kolonial yang menarik, artefak prasejarah dan era Portugis, serta diorama dan pameran yang menceritakan kejadian-kejadian penting menjelang Kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

jakarta_in2

Bangunan museum ini sendiri memiliki nilai historis, didirikan pertama kali tahun 1710 oleh Persekutuan Dagang Hindia Belanda (VOC) untuk menjadi Balai Kota Batavia, dengan model fasad yang sama persis seperti Istana Kerajaan di Amsterdam.

Berikutnya adalah tempat untuk para penggemar seni dan budaya, yakni Museum Wayang di sisi barat taman yang menyimpan ribuan wayang dan topeng tradisional autentik dari seluruh penjuru Nusantara—sebagian telah berumur lebih dari seratus tahun. Jika Anda berkunjung, cek jadwal pertunjukan wayang untuk melihat aksi dari kreasi indah ini.

BWREWR Cafe Batavia, Fatahillah Square, old Kota, Jakarta, Indonesia.. Image shot 10/2010. Exact date unknown.

Di sisi timur taman terdapat Museum Seni Rupa, dahulu adalah Gedung Mahkamah yang didirikan tahun 1879. Di sini Anda akan menemukan koleksi besar patung-patung yang dilukis oleh para seniman modern Indonesia, serta pameran keramik dan porselen yang indah, dan banyak lagi, dengan beberapa objek pentingnya berasal dari abad ke-14.

jakarta_in7

Saat meninggalkan Taman Fatahillah, saya sekali lagi mengagumi bangunan-bangunan tersebut—yang telah dipugar dengan sangat baik oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui program revitalisasi dengan dukungan UNESCO untuk meraih status Warisan Dunia UNESCO tahun 2017. Jika Anda tertarik dengan arsitektur Belanda Kuno serta budaya dan sejarah Indonesia, tak ada tempat yang lebih baik dari Taman Fatahillah. Tak jauh dari taman tersebut terdapat sejumlah museum kelas dunia, termasuk di antaranya Museum Bank Indonesia. Museum ini cukup patut dikunjungi, antara lain karena sistem penataan dalam ruang pamernya yang bersifat modern dan interaktif, informasi yang lengkap mengenai sejarah perdagangan rempah-rempah, uang dan ekonomi Indonesia, koleksi koin dan uang kertas kuno, serta bangunan museum itu sendiri yang bergaya neo klasik dan telah direnovasi.

Setelah berkunjung dari museum ke museum, saya terus berjalan kaki ke Petak Sembilan, Chinatown di era Batavia, dengan jalan-jalan sempitnya yang menawan dan pasar di sisi jalan serta toko-toko yang menjual segala macam, dari kopi dan kuliner yang mengundang rasa ingin tahu, sampai jam tangan, ikat pinggang kulit, mainan anak-anak, barang pecah-belah, jamu tradisional dan obat Tiongkok, dupa dan lilin, serta barang-barang sejenisnya. Selain itu ada kelenteng bercat merah terang dengan dekorasi yang rumit, yakni kelenteng Jin De Yuan, yang sudah berdiri sejak 1650 dan tentunya patut dikunjungi.

jakarta_in8

Juga tak jauh dari sana terdapat Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelabuhan dagang rempah-rempah berusia ratusan tahun di muara Sungai Ciliwung ini telah beroperasi sejak tahun 1800-an. Ada sebuah roman nostalgia tentang pelabuhan ini, yang dihiasi dengan sekunar-sekunar tradisional sepanjang 50 meter yang berlabuh di dermaga yang membentang 2 km. Kapal-kapal unik yang dicat cerah ini tak sekadar dipajang—namun masih memainkan peran penting di zaman modern. Kapal-kapal ini mengangkut dan menurunkan barang pada pagi hari. Para petualang kuliner pasti menyukai Pasar Ikan di dekat pelabuhan, di mana para pedagang dengan ramah menawarkan seafood segar yang bisa dimasak di tempat untuk disantap sambil menyaksikan matahari terbenam.

Untuk mendapatkan pemandangan paling bagus di pelabuhan, naiklah ke puncak Mercusuar Sunda Kelapa, sebuah menara pengawas Belanda dari abad ke-19. Dari sini panorama laut terlihat sangat indah—hadiah bagi mereka yang meluangkan waktu seharian untuk menemukan keindahan Jakarta di balik gedung-gedung pencakar langit.

Dari Colours June 2016

icon_taste

FR3PDP A traditional Betawi food vendor, cooks Kerak Telor, a food made from a mixture of egg and rice and fried with charcoal during the Betawi Eid Festival in Jakarta, Indonesia, 10 September 2012. Jakarta residents gathered at the event to celebrate Eid in the traditional Betawi style. The Betawi are the people who live around Batavia (the colonial name for Jakarta). Betawi people are in majority Muslims. Islamic teachings and traditions are alive and well embedded within their culture and social system. EPA/BAGUS INDAHONO

5 Senses – Taste
KERAK TELOR

Ketika berada di Kota Tua, Anda harus mencoba Kerak Telor, telur dadar tradisional Betawi dari telur bebek dengan nasi ketan yang disajikan dengan kelapa parut goreng, bawang merah goreng serta udang kering asin di atasnya, dan
semuanya dimasak menggunakan arang. Makanan ini memiliki tekstur renyah dan menjadi favorit dalam acara tahunan
Jakarta Fair untuk merayakan ulang tahun Kota Jakarta.