kendari_main

The Archipelago Journal: Kendari

Pariwisata Kendari sedang dalam masa perkembangannya. Walau banyak penyelam yang singgah di Kendari sebelum melanjutkan perjalanan ke Taman Nasional Wakatobi, Kendari masih menanti wisatawan yang khusus datang untuk berlibur di kota ini. Mark Eveleigh mengunjungi Sulawesi Tenggara guna menjelajahi sejumlah objek wisata di Kota Kendari.

Words and Photography by Mark Eveleigh

kendari_in6

“Oooh ya, banyak wisatawan asing datang kemari!” ujar Wah Mohinu sambil duduk di hadapan mesin tenun bak seorang pembalap yang memasuki kokpit mobilnya. “Anda yang pertama di tahun
ini… tetapi ada satu orang lagi tahun lalu dan dua orang di tahun 2014, toh!”

Seperti kebanyakan orang Sulawesi Selatan, Wah Mohinu sering kali mengakhiri kalimat dengan seruan lembut “toh”.

Wah Mohinu adalah seorang penenun di Departemen Kerajinan Tangan Sulawesi Tenggara, yang membuat tenunan tangan terbaik dari Provinsi Kendari. Ada masa di mana ketika perempuan
yang tidak tahu cara menenun adalah hal yang memalukan namun kini menenun menjadi seni yang langka. Dia menuturkan dirinya belajar menenun dari seorang perempuan tua Suku Muna. Hingga kini, ia memilih untuk tetap menenun dengan menggunakan alat tenun sederhana khas Suku Muna ketimbang alat tenun besar.

kendari_in

“Papan ini seperti sedang dipijat,” ujar perempuan itu sambil membetulkan posisi duduknya dan tertawa ketika saya sebutkan dirinya bak pembalap. “Ini sedikit lebih lambat! Saya bisa menenun hingga 4 meter dengan alat tenun besar itu tetapi kurang dari 25 cm kalau di alat ini, toh!”

Sarung cantik karya Wah Mohinu diletakkan di tengah toko dan siap dibeli para warga untuk keperluan upacara atau mengunjungi pejabat ketika perjalanan dinas ke kota. Terdapat beberapa atraksi hiburan untuk para wisatawan di sini. Salah satunya museum yang menampilkan berbagai baju khas suku setempat dan sebuah mobil yang dulunya milik Jenderal Soeharto.

Mobil Mercedes berusia 38 tahun tersebut sangat butuh perbaikan, layaknya Menara Persatuan yang sudah berusia 10 tahun yang mendominasi kota ini. Menara menakjubkan ini dibangun dalam rangka Kontes Pembacaan Al Quran Nasional dan dinamakan sebagai simbol pemersatu kota. Seharusnya menara ini bisa menjadi pusat atraksi wisata Kendari. Namun kini hanya beberapa anak sekolah nekat yang berani menaiki anak tangga yang sudah karatan untuk mencapai puncaknya yang menghadap ke Teluk Kendari.

kendari_in2

Dari kehijauan Gunung Jatih-lah Anda bisa melihat pemandangan Teluk Kendari yang masih menyajikan kecantikan alami. Pasar ikan lama tak banyak berubah, dan tempat ini merupakan tempat ideal untuk menikmati teh jahe ataupun berbincang dengan para nelayan di tengah kesibukan pasar di pagi hari. Malamnya, sepanjang tepi laut bernama Jalan Bypass menjadi pusat kegiatan sosial masyarakat Kendari. Lebih dari 100 pedagang kaki lima dan warung kopi menjajakan makanannya di sini. Mereka meletakkan kursi plastik berwarna-warni di sepanjang pantai.
Alunan musik serta lampu neon menyatu dengan lembutnya suara debur ombak.

Teluk Kendari ini dulunya menjadi persinggahan favorit pelaut Bugis dan penjelajah Suku Bajo Laut (Sea Gypsy). Belakangan Suku Bajo Laut meninggalkan kehidupan nomaden mereka dan menetap di desa apung jauh dari pusat kota.

kendari_in7

Di Desa Bungkutoko, di jalan menuju Pantai Nambo, Suku Bajo Laut hidup seperti biasanya. Kini meski kebanyakan rumah mereka adalah bangunan permanen, masih banyak dari mereka yang dibesarkan di laut, entah di atas desa apung atau tumpukan karang. Walaupun perjalanan ke Desa Bangkutoko bukan pilihan utama berwisata ke Kendari, keramahan dan sikap menyenangkan Suku Bajo Laut menjadikan perjalanan ini menyenangkan bagi siapa pun yang berkunjung.

Awal tahun ini, jembatan kayu besar dengan papan nama bertuliskan, “Tracking Mangroves di Pulau Bungkutoko” selesai dibangun di Pulau Bungkutoko. Melalui jembatan ini masyarakat
setempat bisa berjalan kaki menuju hutan bakau, untuk sekadar berpiknik di tempat yang dahulu hanya dapat diakses dengan perahu.

kendari_in4

Belakangan banyak kapal menuju Pulau Bokori, wisata pantai favorit di Kota Kendari. Pulau ini cukup besar untuk menampung enam pondok. Tetapi ketika hari Minggu tiba, penuhnya tempat melebihi pusat kota dan seluruh banana boat terombang-ambing bak balon besar di atas air laut yang tenang.

“Pada akhir pekan biasanya kami kedatangan lebih dari seribu pengunjung,” ujar pengelola pulau, Pak Naim. “Sekarang kami memiliki rumah kayu yang dapat disewa. Sangat romantis jika hanya untuk berdua namun setiap rumah mampu menampung hingga sepuluh orang, toh!”

kendari_in3

Saya mulai terbiasa mendengar “toh” di akhir kalimat. Orang-orang sering kali menggunakannya sama halnya dengan penduduk London melontarkan “know wha’ I mean?” Kebiasaan ini adiktif dan sebelum saya menyadarinya, kata ini sudah telanjur terpatri di kamus berbahasa saya. Rasanya seperti menambah keakraban, sentuhan lokal ke dalam setiap percakapan. Sama halnya dengan sesendok sinonggi yang menambah rasa ke dalam saus ikan. Sinonggi, semacam sagu kental, yang mungkin terdengar biasa tetapi justru merupakan makanan yang paling membuat ketagihan di seluruh Indonesia.

Warga lokal mungkin agak heran melihat orang asing menikmati sinonggi tetapi di kota yang berpenduduk sekitar 314.000 ribu jiwa ini, sangat mudah berbaur menjadi warga setempat. Beberapa hari lagi setelah meninggalkan Kendari, saya yakin saya akan merindukan sinonggi, toh!

Jakarta ke Kendari via Makassar


Waktu Penerbangan 2 jam 25 menit

Frekuensi 7 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours July 2016

icon_touch
kendari_senses

5 Senses – Touch
NAMBO BEACH

Pantai Nambo adalah tempat untuk merasakan air hangat di selatan Sulawesi. Pantai ini dangkal dan tak berombak. Pada akhir pekan, hamparan pasir putihnya dipenuhi para remaja yang sibuk ber-selfie dan anak-anak bermain air. Jika Anda menuju Nambo, pastikan Anda juga mengunjungi Desa Bajo Laut di Bangkutoko, di mana Anda bisa merasakan keakraban dari suku setempat yang dijamin meninggalkan rasa hangat melebihi air laut di Tambo dan kepuasan melebihi setumpuk piring sinonggi.