ketapang_main

Ketapang: The Way West

Ketapang, sebuah kabupaten di Kalimantan Barat yang sering terlewat dari radar wisatawan, menyuguhkan pesona pantainya yang tenang dan hutan kotanya yang terjaga.

Words by Fatrif MF, photography by Muhammad Fadli

ketapang_02

Dari jendela pesawat, saya melihat hutan datar berwarna hijau, separuhnya telah menguning. Di antara kedua warna itu, sungai-sungai berwarna cokelat melintang, mengilap diterpa sinar matahari. Sungaisungai lebar, berkelok seperti ular raksasa yang ekornya bermuara ke lautan lepas. Sebentar lagi, pesawat yang membawa saya akan mendarat di Ketapang, sebuah kabupaten di Provinsi Kalimantan Barat.

Pagi telah berangkat tinggi dan terik mulai menyengat. Hamidi, seorang pemuda Ketapang berbadan tegap dan berkulit terang, telah menunggu saya. Dia akan membawa saya berkeliling kota dengan mobilnya, menyusuri pesisir barat Kalimantan, pulau yang dahulu sempat membuat jerih para penjelajah. Ketapang, kota pesisiran yang menurut Prapanca dalam Nagarakertagama disebut sebagai Tanjungpura ini, rata-rata dihuni sebagian besar oleh suku Melayu, kemudian Jawa, Tionghoa, dan Dayak.

ketapang_01

Mobil meluncur melewati tugu-tugu dan sejumlah persimpangan serta rumah dan ruko dengan warna menyala. “Pembangunan sedang menjadi-jadi,” kata Hamidi lagi, ia kemudian mengenalkan kota kelahirannya pada saya. “Kota saya ini dihidupi dari pertambangan, kayu, dan sawit,” Hamidi terus bercerita tentang kehidupan di sini, tentang pantai-pantai yang hendak kami kunjungi. Mobil terus melaju melintasi jembatan, sungai dengan rumah-rumah beton bertingkat, di pinggirnya tempat bersemayam jutaan burung walet. Bisnis sarang walet memang sedang marak di Ketapang. Namun saya bukan seorang pebisnis walet.

Saya sedang mengeksplorasi Kota Kabupaten Ketapang di delta Sungai Pawan yang bagai terdepak dari jalur wisatawan, minim diperbincangkan turis, walau tempat ini mengoleksi berbagai destinasi untuk dikunjungi.

ketapang_06

Saya tiba di Pantai Tanjung Belandang yang sepi. Lautnya tenang tak berombak. Saya duduk di sebuah pondok yang menghadap langsung ke laut, membelakangi rumah-rumah nelayan, pondok-pondok kayu beratap daun sagu berjejal. Di depan saya, bapak-bapak, juga ibu-ibu, sedang mencari ale-ale, kerang yang banyak terdapat di pinggir laut ketika pasang sedang surut. Angin bertiup perlahan, ombak menepis kecil ke pasir. Gadis-gadis kecil berlarian ke sana kemari, saling berkejaran. Matahari mulai mengeluarkan semburat warna jingga di barat sana. Seorang perempuan menghidangkan saya kelapa muda untuk diminum. “Sendiri ja?” ia mencoba berbasa-basi melihat saya bermenung sendiri. Orang-orang di sini berbicara dengan dialek Melayu yang lembut, dan saya seperti berada dalam kampung Upin dan Ipin. Hanya saja Tanjung Belandang terletak di pesisir pantai. Di seberang sana, Gunung Palung berdiri perkasa, bagai muncul begitu saja dari rahim lautan.

Satu siang yang terik, saya masuk Museum Keraton Gusti Muhammad Saunan yang mengoleksi benda-benda dari dunia lama: kepingan keramik dari berbagai bangsa, tenunan berumur ratusan tahun, hingga senjata. Benda-benda dari masa lampau ini menandakan kesultanan di sini telah berhubungan dengan dunia luar sejak dulu kala. Uti Musri, penjaga museum yang masih keturunan keraton, berkisah tentang benda-benda zaman lampau itu, tentang meriam-meriam peninggalan penjajah yang keramat, tentang penjajahan zaman lalu.

ketapang_03

Meninggalkan Uti Musri, saya kembali teronggok di pesisir pantai. Pantai Pulo Datok, berjarak kira-kira dua jam dari Ketapang, tepatnya di kabupaten baru bernama Sukadana. Bertepatan dengan libur panjang dan tahun baru, beberapa keluarga tampak sedang berlibur di teluk yang dihambat oleh pulau kecil Sempadi dan Pulau Datok ini. Walau di masa libur, pantainya tetap tidak ramai. Lelaki-lelaki muda berkano sambil tertawa, gadis-gadis menegak air kelapa. Senja luluh di balik bukit horizon sana. Saya kembali ke Ketapang, membelah malam.

Pagi-pagi, saya kembali berkendara. Hanya beberapa menit dari pusat kota, mobil terhenti. Jalan tertumbuk. Di depan kami, hutan kota terbentang. Saya turun dari mobil, menggulung kaki celana melintasi air setinggi betis. Gerbang hutan kota terpampang di depan mata. Saya memasukinya. Kicau burung dan suara kera pun memecah sunyi. Jalan yang terbuat dari susunan papan sepanjang dua kilometer terhampar panjang dan berliku dengan pepohonan hijau di sekelilingnya saling menjuntaikan daun.

ketapang_05

Wilayah dan kota yang dihidupi oleh perkebunan dan tambang, ternyata memiliki hutan kota dan mengoleksi pantai-pantai yang melenakan mata. Di tengah menyusutnya hutan yang makin deras atas berbagai alasan, ketika dunia berjuang melawan pemanasan global, saat manusia makin sangsi akan tidak terpenuhinya kebutuhan oksigen di bumi, Ketapang masih menyediakan hutan di tengah kota.

“Hutan ini tidak terlalu luas. Namun, pergilah berkeliling, semua ada di dalam sana,” Raden Sebaan, lelaki tua yang mengaku telah 12 tahun bekerja menjaga hutan kota ini, menyilakan saya masuk. Inilah Hutan Kota Ketapang. “Bekantan, lampiyau (monyet hitam), beruang madu, kupu-kupu endemik, rusa, orang utan, semua bisa kau lihat. Hanya saja, di sini tidak sejinak di Tanjung Puting. Tapi, tidak juga menyerang manusia. Nah, di tepi sana, banyak monyet mandi, cuma tidak pakai sabun,” kata Raden mulai berseloroh.

Saya menyusuri jalan papan yang membelah hutan. Detak jam yang terburu-buru, hiruk pikuk kota yang menderu semua begitu jauh terasa. Di sini hanya ada keheningan, suara hewan dan riak air. Saya bertemu kembali dengan Raden Sebaan. Dia menyambut saya kembali dengan tawa. Matanya yang kecil, hanya tinggal segaris ketika tertawa. Ia kembali bercerita tentang hutan, tentang rusa yang mulai jarang terlihat. Sebentar lagi sore, dan saya ingin beranjak meninggalkan lelaki tua ini. Kami bersalaman. “Saya tidak ingin anak cucu saya mengenal hutan hanya dari buku, tapi hutan aslinya sudah tidak ada. Menjaga lahan kecil di Kalimantan yang luas ini bukan pekerjaan yang ringan,” Raden Sebaan setengah berbisik.

ketapang_04

Malam turun lagi di Ketapang. Kerlap-kerlip lampu kota, desis riak Sungai Pawan yang membelah kota begitu kentara pada malam hari. Saya duduk di sebuah kafe di pinggir Sungai Pawan, mengira-ngira apa yang
terjadi bila semua hutan telah musnah dan semua manusia menumpuk tinggal di kota? Riak Sungai Pawan yang tenang seperti benang kusut dalam kepala saya. Mata saya enggan terpejam, pagi datang begitu saja seketika.

Pesawat kembali membawa saya meninggalkan Ketapang, melintas di garis Khatulistiwa, sebuah garis imajiner yang memisahkan utara dan selatan bumi. Saya kini sedang berada tepat di atas belahan bumi, di atas Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat. Inilah salah satu kota di muka bumi yang dinamai dari nama hantu, “ponti” “anak”. Dari jendela pesawat, saya kembali lihat ke bawah: sungai-sungai lebar yang panjang berwarna cokelat, kota yang dipadati rumah-rumah, lahan datar yang terkotak-kotak oleh lahan perkebunan mahaluas. Dan saya membayangkan hutan kota yang penuh kicau burung, kecipak hewan-hewan mandi. Saya juga membayangkan di bawah satu pohon rimbun, Raden Sebaan sedang duduk menunggu saya.

Pontianak ke Ketapang


Waktu Penerbangan 35 menit

Frekuensi 15 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours March 2017

icon_touch
ketapang_senses

5 Senses – Touch
MATAN KINGDOM

Bersentuhan dengan masa lalu Kerajaan Matan di Museum Keraton Gusti Muhammad Saunan yang terletak di Kecamatan Benua Kayong, seperti rongga yang mengantar ke masa lalu yang jauh menampilkan artefak-artefak seperti kepingan keramik dari berbagai bangsa, tenunan berumur ratusan tahun, hingga senjata tradisional.