merabu_main

Merabu: Go to The Forest

Berada jauh di tengah hutan Kalimantan, Desa Merabu menjadi tempat yang tepat bagi penyuka petualangan alam, sekaligus terdepan dalam ekoturisme dan tata lingkungan yang bertanggung jawab.

Words and photography by David Burden

merabu_01

Mengitari tepi selatan Sungai Lesan di wilayah Berau, Kalimantan Timur, Desa Merabu bukanlah tempat termudah untuk dituju—saya menghabiskan empat jam off-road dan dua kali menyeberangi sungai untuk sampai ke sini dari Tanjung Redeb (Garuda Indonesia Explore melayani rute ini).

Tiba di tepi sungai, sang sopir membawa kendaraan kami menyeberangi sungai. Begitu sampai di seberang, saya langsung disambut bagaikan anak yang telah lama hilang oleh tuan rumah homestay saya, Mama Bunga. Tidak ada hotel atau bahkan guesthouse di sini, tapi menginap di rumah warga lokal justru jauh lebih menyenangkan. Setelah menurunkan perlengkapan saya dan meminum segelas teh panas yang menyegarkan, saya berjalanjalan di sekitar, mencari Pak Franly Oley, kepala desa, yang secara khusus ingin saya temui di sini.

merabu_04

Pada 2014, wilayah Merabu seluas 22.000 hektar dianugerahi status istimewa sebagai hutan desa oleh Departemen Kehutanan Indonesia, yang berarti bahwa daerah ini sungguh-sungguh dilindungi dari pembangunan massal apa pun. Rencana itu dibuat dan ditandatangani oleh Franly bersama pemerintah Kabupaten Berau dengan masukan bermanfaat dari LSM yang berbasis di AS, The Nature Conservancy, untuk menjaga bagian rentan dari masa depan ini serta satwa yang hidup di dalamnya. Bagi sebagian besar populasi di sini seperti orang utan, owa hitam dan merah, babi hutan, macan dahan, dan beruang madu, Merabu adalah rumah mereka, meskipun tak mudah pula untuk mendapati keberadaan mereka karena mereka benar-benar liar dan cenderung menghindari manusia.

merabu_05

Saya bertemu Franly di rumahnya. Saat itu, tampak ia tengah menepis debu yang mampir di tubuhnya setelah melewati jalanan dengan sepeda motor trail-nya. Ketika kami berjalan di sekitar desa, ia memberi tahu saya bahwa ada sekitar 200 penduduk yang tinggal di Merabu—yang kebanyakan adalah keturunan suku asli Dayak Lebo. Franly berasal dari Manado di Sulawesi, tetapi telah tinggal di sini selama lebih dari lima tahun, dan jelas-jelas memiliki kepedulian sangat mendalam untuk wilayah ini. Ia cukup berperan besar dalam mengawali program percontohan pada 2011 bersama The Nature Conservancy dan sejak itu terus bekerja tanpa lelah untuk memajukan berbagai hal. Usahanya tak sia-sia, ia akan berangkat ke Marrakesh untuk menjadi pembicara di konferensi PBB tentang perubahan iklim.

Kami terus santai berjalan, melintasi kebun sayur, perkebunan karet, dan sebuah lahan baru dengan ternak di dalamnya. Langkah kami diselingi dengan teriakan berulang “Helllooooooo misteeerrrrr” dari anak-anak desa yang menggemaskan. “Misi kami adalah untuk bisa menjadi wilayah yang diatur, dilindungi, dan dikelola dengan baik, sambil tetap menjaga identitas, budaya, adat-istiadat, dan kepercayaan Dayak kami,” jelas Franly. “Kami bertekad menjadi kampung asik,” tambah dia—singkatan untuk Aman, Sehat, Indah, dan Kreatif. Hal ini merupakan konsep mulia dan sudah mulai menarik wisatawan untuk datang ke tempat ini guna menikmati wisata ekoturisme dan panorama luar biasa yang disuguhkan oleh kawasan ini.

merabu_02

Salah satu destinasi wisata yang ditawarkan di sini adalah misteri yang ada pada Gua Beloyot dengan tebing kapurnya yang mengarah ke selatan. Ditemukan tahun 2006, pada dinding gua tersebut didapati lukisan dan cetakan tangan dari manusia prasejarah—diperkirakan berusia lebih dari 4.000 tahun. Keesokan harinya, saya mendaki dengan ditemani Pak Parhan sebagai pemandu untuk melihat langsung. Jalur sepanjang 5 km tersebut melalui hutan yang rimbun, agak tergenang air walaupun relatif mudah dilalui, namun gua itu sendiri cukup sulit untuk disusuri. Bagaikan Indiana Jones yang melarikan diri dari sebuah kuil kuno, kami berjuang dengan tangan dan lutut kami melalui terowongan sempit yang berujung di sebuah ruang dalam gua, lalu terkadang mendapati kami sudah berada di atas tepian tebing yang tinggi, jauh di atas barisan pepohonan, sebelum kemudian kembali merunduk ke lorong bawah tanah berikutnya. Kami pun akhirnya muncul di sebuah ruang besar dalam gua yang menghadap ke hutan dan dinding yang dipenuhi lukisan. Sungguh mengesankan (Beloyot ini berada dalam daftar tunggu Warisan Dunia UNESCO) dan saya merasa sangat beruntung telah menyaksikan lukisan kuno tersebut dengan mata kepala saya sendiri. Keesokan paginya saya mengucapkan selamat tinggal pada Franly dan mendoakan kesuksesannya ketika nanti berangkat ke Maroko. Saya berjalan lebih dalam ke hutan untuk mengunjungi lagi pemandangan luar biasa Merabu dan menghabiskan malam berkemah dalam hutan di tepi Danau Nyadeng di pegunungan karst. Meski demikian, kali ini kami tidak mendaki karena para pemandu saya, Yusup dan Hendri, mempunyai suatu hal yang jauh lebih dahsyat….

merabu_06

Saya memandang tanpa daya ketika perahu kayu kami yang ramping itu menabrak batu dan tiba-tiba terlempar ke depan untuk ketiga kalinya dalam hitungan menit. Saya mengambil dayung dan mulai mendorong ke samping seperti yang diinstruksikan, sambil memandang cemas pada tas saya yang penuh perlengkapan kamera, karena hanya cukup satu guncangan lagi, tas itu bisa langsung jatuh ke jeram dangkal. Ekspresi datar dan biasa di wajah para pemandu saya terasa sedikit menenangkan karena mereka jelas sudah terbiasa dengan hal ini, tapi tetap saja, jantung saya berdegup kencang. Dengan dorongan arus kuat, kami terlempar kembali ke air yang lebih dalam dan kembali berlayar, berderak dengan kecepatan berbahaya di hulu ketika seekor burung yang terkejut kemudian terbang ke langit dan melintasi cabang pohon yang menjorok, bersiul melintasi kepala kami. Jika Anda belum pernah menaiki perahu panjang khas Dayak, pengalaman seperti ini bisa dimasukkan ke dalam daftar hal yang wajib dicoba—pengalaman seperti menaiki roller coaster di saluran air yang deras.

Kami menambatkan kapal di Nyadeng dan mengemasi perlengkapan kami beberapa ratus meter sebelum berlabuh dan menuju penginapan malam itu, yang ternyata adalah sebuah rumah pohon dengan konstruksi biasa namun sangat bagus dan dibangun menghadap ke danau yang sangat indah. Tempat ini sunyi dan kami menghabiskan sore dengan memancing dan berenang santai di air jernih berwarna biru kehijauan, yang tampaknya begitu dalam entah berapa meter pastinya. Kemudian saat senja turun dan pohon-pohon dihidupkan oleh pendar kunang-kunang, kami menyantap makan malam sederhana, yaitu ikan panggang dengan nasi. Rumah pohon ini bukanlah penginapan bintang lima, tapi pengalaman yang didapat di sana memang bintang lima. Di hari terakhir perjalanan, kami bangun subuh untuk memandang keindahan matahari terbit dari atas Puncak Ketepu yang tidak jauh dari sini. Kami terbangun oleh suara owa hitam yang berkejaran di tebing yang tinggi. Perjalanan satu jam untuk mencapai puncak berbatu melalui jalanan yang curam dan licin memang melelahkan, tapi hal itu terbayarkan dengan pesona kabut yang bergerak di atas puncak pepohonan sementara elang dan burung enggang di bawah sana terbang melingkar, memberikan momen indah bagi akhir petualangan saya di tempat ini.

Tak lupa kami sampaikan ucapan terima kasih pada The Nature Conservancy (www.nature.org) dan penduduk Desa Merabu yang telah mendukung perjalanan ini.

Jakarta ke Balikpapan


Waktu Penerbangan 1 jam 50 menit

Frekuensi 56 kali seminggu

Balikpapan ke Berau


Waktu Penerbangan 40 menit

Frekuensi 14 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours December 2016

icon_taste
merabu_senses

5 Senses – Taste
FOREST HONEY

Musim madu di Merabu datang setiap beberapa tahun sekali ketika bunga-bunga kumbang bermekaran, dan sarang liar berukuran besar muncul di atas dahan pohon tertinggi. Para pemanen lokal dapat mengumpulkan hingga 2.000 liter madu selama musim itu, yang kemudian dibotolkan dan dijual sebagai pendapatan. Rasanya sangat istimewa dan memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.