pekanbaru_main

Pekanbaru: A Road Less Travelled

Colours menjelajahi Pekanbaru untuk melihat keindahan alam dan keragaman budaya di daerah nan subur di Provinsi Riau, Pulau Sumatera.

Words by Fatris MF Photography by Muhammad Fadli

pekanbaru_feat

Di pinggir sebuah kota yang dulu bernama Senapelan, mengalir Sungai Siak, sungai yang tenang tanpa riak. Selama ratusan tahun, sungai ini menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal pengangkut komoditas dan sumber daya alam dari Pulau Sumatera. Peran sungai ini sangat besar dalam perdagangan dan kekuasaan para raja di masa lalu.

Kini, kota tersebut bernama Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau—salah satu provinsi terkaya di Indonesia, dengan pendapatan utama dari kekayaan sumber daya alam. Pekanbaru adalah salah satu kota yang berkembang paling pesat di Sumatera selama satu dekade terakhir.

pekanbaru_01

Kami memulai perjalanan kami untuk menjelajah Sumatera berkendara pada malan hari, yang makin jauh terasa makin sepi dan dingin. Langit bertabur bintang dan bulan berpendar di langit malam. Tak lama kemudian, pemandangan berganti menjadi perkebunan kelapa sawit dan karet, dua komoditas yang mengubah wajah Sumatera. Ketika malam, hutan tampak berdiri kaku dalam pandangan.

Kami berhenti di Desa Muara Takus yang sunyi di Kabupaten Kampar, Riau. Sebuah gapura tradisional menyambut kedatangan kami, dan saya melangkah memasuki gerbang yang tak dikunci. Di dalamnya, susunan batu berusia ratusan tahun berdiri kokoh. Inilah Candi Muara Takus, bangunan dari masa lalu yang kini diselimuti keheningan pagi. Candi dari bata kuning kecokelatan ini masih berdiri tegak, mengerucut ke langit di tengah perkebunan luas yang mengelilinginya. Kompleks candi ini terdiri atas Candi Tua, Candi Bungsu, Candi Mahligai, dan Palangka. Sementara, beberapa candi lainnya masih menunggu pemugaran.

pekanbaru_02

Matahari mulai tinggi ketika saya beranjak meninggalkan Candi Muara Takus. Tiga jam terguncang dalam mobil, saya tiba di Pekanbaru yang panas. Dua belas tahun silam saya berkunjung ke kota ini, namun sekarang saya seakan tak lagi mengenal Pekanbaru. Pekanbaru begitu ramai bak kota besar, perubahan begitu kencang rasanya. Jalan-jalan yang lebar, kantor-kantor pemerintahan yang besar. Hotel-hotel mewah, mal dan pusat belanja lainnya, restoran-restoran dengan beragam cita rasa menguapkan aroma enak ke jalan raya.

Kota ini memang lebih dikenal dengan minyak, akan tetapi bukan berarti kota ini kehilangan tempat wisata. Taman Wisata Alam Mayang salah satunya, merupakan tempat wisata yang diminati warga kota. Selain lokasinya yang tidak jauh dari pusat Kota Pekanbaru, taman ini seakan memberi ketenangan untuk warga kota dengan beragam fasilitas dan hiasan satwa seperti patung harimau dan gajah yang terbuat dari semen. Di Taman Wisata Alam Mayang juga terdapat beragam permainan untuk keluarga seperti sepeda air, banana boat, karpet ajaib, dan mandi bola.

Semakin jauh ke pesisir, ada Ombak Bono dari Sungai Kampar yang telah mencuri perhatian dunia. Untuk menikmati Ombak Bono, Anda harus pergi ke bagian muara sungai yang ombaknya tinggi. Perjalanan menuju ke muara Sungai Kampar bisa dimulai dari Desa Teluk Meranti dengan menggunakan perahu pompom atau perahu mesin. Ombak yang terlihat memang tidak berwarna biru seperti permukaan laut namun berwarna cokelat selayaknya sungai. Namun baik peselancar lokal hingga mancanegara menunggu Ombak Bono untuk “ditunggangi”.

pekanbaru_04

Di tengah kota, ada sebuah masjid tua dengan lima kubah dan menara yang menjulang tinggi, Masjid Raya An-Nur namanya. Di atas tanah seluas 12,6 hektare ini, Masjid An-Nur dilengkapi ruang-ruang perkantoran yang besar, halaman terbuka hijau tempat anak-anak bermain penuh canda tawa. Masjid dengan arsitektur perpaduan gaya Melayu dan Timur Tengah ini dulunya dibangun pada tahun 1993, dan selesai lima tahun berikutnya. Di seberang masjid raya berwarna hijau ini, terdapat gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Di Pekanbaru, perbedaan telah lama terjaga rukun.

Senja datang lagi di Pekanbaru. Lampu-lampu kota mulai dinyalakan. Saya berjalan melintasi Jalan Hang Tuah, menyusuri keramaian kota dengan jalan yang tertata, jembatan-jembatan, kantor-kantor yang megah dan bermandikan cahaya. Rasa lapar membawa saya singgah di sebuah restoran di Jalan Sudirman. Restoran begitu banyak di kota ini, dan saya begitu ingin menyantap menu andalan Kota Senapelan: ikan salai dengan beragam cita rasa, dari gulai hingga goreng. Dari restoran, saya pindah ke kafe-kafe yang sarat aroma kopi. Hal yang tidak membutuhkan energi di Pekanbaru adalah menemukan kafe dan restoran dengan kualitas dan cita rasa enak.

pekanbaru_05

Setengah jam berkendara dari Pekanbaru ke Siak, kami tiba di Pusat Konservasi Gajah, di mana saya berkenalan dengan gajah bernama Reno dan beberapa kawannya yang bertubuh besar, saat mereka sedang makan.

Usai makan, Reno dan beberapa gajah lainnya digiring ke sungai untuk mandi. Sekelompok wisatawan bergantian naik ke punggung gajah-gajah itu untuk berfoto dan membelai mereka.

Saya meninggalkan Pusat Pelatihan Gajah dan meluncur menuju arah timur. Jalan lurus yang terentang panjang, barang sebentar, mobil bersisian dengan truk-truk sarat muatan buah kelapa sawit. Setelah tiga jam berkendara, saya tiba di pintu gerbang Ibu Kota Kabupaten Siak yang bernama Siak Sri Indrapura. Beberapa menit memasuki gerbang kota yang lengang, sebuah jembatan begitu megah menyambut kami untuk melintasi Sungai Siak. Tak berapa lama kami tiba di tengah kota.

pekanbaru_06

Selain Istana Siak yang indah dan museum di pusat kota, ada banyak taman dan ruang terbuka hijau di jantung Siak Sri Indrapura. Ada taman yang dirancang khusus sebagai tempat anak-anak mempelajari rambu lalu lintas, dan ada yang dijadikan tempat bermain sepatu roda. Tidak ada pohon sawit di dalam kota, yang banyak adalah gazebo untuk berteduh dari terik matahari, dan sekolahsekolah dengan halaman sangat luas yang sekaligus berfungsi sebagai tempat berkemah. Taman dan area hijaunya membuat suasana kota ini terasa tenang dan damai.

Kembali ke Pekanbaru—yang terkenal sebagai salah satu kota terbersih di Indonesia dan meraih penghargaan Adipura tujuh kali berturut-turut—saya membayangkan gedung-gedung bertingkat, serta jalanan dan persimpangannya, saat saya berendam di kolam hotel yang berada di atas gedung. Angin bertiup dari arah Sungai Siak, dan saya jadi teringat akan candi-candi, gajah, dan sungai yang membentang di daerah nan menakjubkan ini.

Jakarta ke Pekanbaru


Waktu Penerbangan 1 jam 40 menit

Frekuensi 49 kali seminggu

Pesan Sekarang

From Colours April 2017

icon_touch
pekanbaru_senses

5 Senses – Touch
CIAN CUI

Festival Perang Air atau Cian Cui merupakan sambutan untuk perayaan Imlek di Kota Selatpanjang. Di perhelatan ini wisatawan lokal dan mancanegara dapat bermain air dan menyemprot busa sambil berkeliling kota menggunakan becak motor.