solo_main

Solo Blues

Walau sering kali berada di bawah bayang-bayang Yogyakarta, jerat historis Solo sangatlah menggugah hingga Anda bisa merasakan betapa sejarah menjadi faktor yang mendominasi di sini. Mark Eveleigh menikmati birunya Solo.

Words by Mark Eveleigh

solo_in7

“Warga Solo begitu bangga dengan romantisme masa lalu mereka,” kata Ibu Endang Widiastuti. “Tentu saja keluarga kerajaan Solo sudah tak lagi berkuasa  seperti dahulu namun sang raja masih merupakan figur yang sangat dihormati.”

Sebagai pemandu wisata di Pura Mangkunegaran, kualifikasi Ibu Endang sangatlah baik: tak hanya mempunyai pengetahuan yang sangat luas dan jelas- jelas antusias dengan sejarah dramatis kotanya, ia juga masih termasuk  trah kerajaan Solo.

Ketika kami menatap potret penuh kemegahan dari raja yang menjabat saat ini, yang resminya dikenal sebagai Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara, saya merasakan sebuah keistimewaan yang luar biasa untuk dapat diajak berkeliling istana oleh seorang keluarga langsung dari kerajaan Solo.

solo_in4

Tak satu pun daerah lain di Indonesia di mana kekuatan historis negara ini terasa amat lekat. Terbukti dari makin banyaknya wisatawan yang memilih Solo sebagai titik awal penjelajahan ke Candi Borobudur yang mendunia, sebuah situs yang telah menjadi inti perkembangan budaya di saat kota-kota besar di Eropa masih sekadar suatu kawasan biasa. Solo memiliki pesona dan romantika tempo dulu yang lebih dari cukup untuk menjadi kota tujuan wisata  yang menarik.

Ibu Endang lalu memandu saya menuju pendopo yang sangat besar, tempat penyambutan di mana para penabuh gamelan Mangkunegaran berlatih untuk mempersiapkan salah satu pertunjukan  tari yang dipentaskan di sini secara berkala. Pendopo ini dicat biru pastel; warna yang tampaknya sangat populer di Solo. Seperti halnya kota-kota di India yang dapat dibedakan dari warna cat yang dominan di sana, berada  di Solo selama beberapa jam sudah cukup untuk meyakinkan Anda bahwa Solo adalah kota di Jawa yang didominasi warna biru.

Royal guards on duty at the main entrance to Keraton Kasunanan palace.

Menggunakan marmer Italia dan tempat-tempat lilin bergaya Perancis, pendopo ini adalah kombinasi indah nan romantis dari gaya arsitektur avant-garde Eropa yang populer ketika pembangunannya pada tahun 1804. Meski demikian, pendopo ini juga memancarkan gaya Jawa klasik yang telah berabad-abad mendahului pengaruh Eropa. Pilar besi biru langit buatan Belanda berbaur dengan balok kayu jati berukiran motif batik yang cantik dengan warna-warna pastel lembut. Langit-langit di atas panggung penari  dibagi menjadi delapan panel yang  dicat berbagai warna untuk secara  simbolis melindungi para gadis penari  yang tampil di sini.

“Warna merah melindungi mereka dari kejahatan,” kata Ibu Endang, “oranye melindungi dari rasa takut, ungu mencegah pikiran buruk, putih  adalah jimat melawan hasrat seksual, hijau memerangi rasa frustrasi…”

solo_in9

Kami kemudian melepas sepatu sebelum memasuki museum yang dulunya merupakan ruang takhta dalem.

“Saya menganggapnya tak hanya sebagai tanda penghormatan tetapi juga demokrasi,” canda Ibu Endang, “lihatlah, tak ada sepatu hak tinggi ataupun sepatu sneakers di antara kita sekarang. Kita semua ada pada level yang sama.”

Ruang takhta masih seperti sediakala  ketika dibangun pada tahun 1757 dengan patung harimau Sumatera dan macan tutul Jawa yang masih mengapit takhta kerajaan. Lemari kaca menampilkan  koleksi eklektik yang menarik milik sembilan generasi raja-raja Mangkunegara: perhiasan, patung, sabuk kesucian (perempuan dan laki-laki) dan perlengkapan keagamaan  yang berkaitan dengan pengamalan ajaran Islam, Hindu, dan Buddha, sekaligus menunjukkan keyakinan yang dipeluk para anggota keluarga Mangkunegara. Di salah satu ujung ruangan terdapat kumpulan keris, pedang lengkung, bahkan pedang Jepang  dan lemari tempat menyimpan benda-benda lain yang dilindungi dengan sesajen untuk menenangkan roh-roh yang konon masih bersemayam di senjata-senjata ini.

Pasar Triwindu - a musty, dusty Aladdin’s Cave of an antique market - might be the most enchanting market in all Indonesia.

Sementara benda-benda tradisi mengisi  ruang takhta, di luar, di salah satu kandang tua terdapat sepeda motor Volkswagen beroda tiga milik raja saat ini yang kebetulan adalah seorang penggemar berat Harley Davidson.

Tiba-tiba saya tersadar bahwa Solo memiliki banyak sejarah yang masih  bertahan hingga kini.

Pura Mangkunegaran telah banyak mendapatkan renovasi di sana-sini, namun Keraton Kasunanan yang berusia sedikit lebih tua di sisi lain kota tampaknya juga mulai membutuhkan hal yang sama.  Cat biru langitnya telah terkelupas dari paviliun di kebun yang berhiaskan ukiran (satu-satunya bagian yang terbuka untuk pengunjung, karena Keraton tetaplah merupakan rumah keluarga kerajaan). Sejumlah gerbong yang megah masih mengisyaratkan kejayaan masa lalu, namun tampaknya membutuhkan perbaikan guna menyelamatkan salah satu permata yang mulai memudar dari Kota Biru.

solo_in2

Rasanya tak ada tempat di kota ini yang menampakkan jalinan historis Kota Solo mulai dari dinasti kuno feodal, era kolonial Belanda, hingga masa penjajahan Jepang seperti yang ditunjukkan oleh Pasar Triwindu. Pasar barang antik seperti gua Aladdin di Jalan Diponegoro ini  mungkin adalah pasar yang paling memesona  di seluruh Indonesia. Gedung setinggi dua lantai dengan kios-kios yang menjajakan tumpukan barang antik asli yang bagus dan pernak-pernik retro keren. Penjaga kios yang santai dan ramah lebih dari senang untuk membiarkan Anda berjalan dan melihat-lihat tanpa tekanan sedikit pun untuk membeli, sehingga pastinya menjadikan pasar ini sebagai salah satu pasar paling menyenangkan di Asia.

Ini adalah salah satu tempat paling menarik untuk mengisi waktu selama menjelajahi sejarah misterius Solo.

Becak (cycle-rickshaws) remain an icon of the timeless backstreets of old Solo.

Di luar pintu biru istana, gang kecil dan pasar di Solo  juga cukup menggugah untuk berperan sebagai suatu museum hidup dengan dayanya sendiri. Becak dan kereta kuda menjelajahi lorong-lorong tua  di sekitar Pasar Klewer dan di rumah-rumah kuno megah di kawasan industri batik tersebut, para perempuan setempat yang berbakat memproduksi desain batik keraton yang bahkan hingga hari ini hanya dikenakan oleh keluarga-keluarga ningrat Solo.

Di sinilah, di pusat produksi batik Kampung Kauman dan Kampung Laweyan yang menjadi tempat sejumlah kain batik paling ikonis di seluruh Asia dibuat, kesejukan dari birunya Solo seakan meledak menjadi sebuah kaleidoskop nyata berwarna pelangi.

Jakarta to Solo


Waktu Penerbangan 50 menit

Frekuensi 35 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours June 2016

icon_sight

At Batik Gunasti the talented women of the neighbourhood produce fine batik.

5 Senses – Sight
KAMPONG KAUMAN

Kampung Laweyan memiliki banyak outlet batik halus sedangkan Kampung Kauman adalah kawasan utama produksi batik. Batik Gunasti, salah satu produsen paling terkenal, terletak di sebuah bangunan kayu dan memiliki kafe penuh nostalgia. Selain menyediakan banyak sekali stok baju batik dan suvenir bagus, di sini Anda juga bisa menyaksikan beberapa pengrajin paling berbakat sedang berkreasi. Anda bahkan dapat mengikuti kursus singkat dan membuat batik Anda sendiri.