surabaya_main

Surabaya

Sekelompok anak muda yang kreatif membawa perubahan pada wajah kota di Jawa Timur. Colours mencoba menjelajahi Surabaya dengan dua cara: lewat musik dan jalan kaki.

Words by Ayos Purwoaji photography by Muhammad Fadli

surabaya_04

Malam sudah larut ketika kami tiba. Malam itu terasa panas-panasnya dan saya juga merasa lelah setelah berkeliling seharian, tetapi saya masih ingin melihat Silampukau beraksi di atas panggung. Kami hadir dalam acara private party yang dibuat oleh sekelompok mahasiswa Sosiologi, dan Silampukau—yang terdiri atas duo Eki Trisnowening dan Kharis Junandharu—sengaja diundang untuk tampil menghibur malam itu.

Lagu-lagu mereka banyak bercerita tentang realitas kehidupan kelas menengah di Surabaya. Pengalaman sehari-hari tersebut kemudian mereka olah menjadi lagu yang enak dan apa adanya. Ada kemarahan dan protes dalam lagu-lagu mereka, namun dibalut dalam lirik satir yang jenaka. Semacam monolog untuk menertawai diri sendiri.

“Melalui musik, kami mencoba untuk merekam Surabaya, sebuah kota yang kami sebut rumah,” ujar Kharis Junandaru.

surabaya_01

Lagu-lagu Silampukau mengambil beberapa lanskap yang umum dikenal warga Surabaya. Mulai dari Jalan Ahmad Yani yang selalu dipadati para penduduk penglaju pada pagi dan sore hari, hingga objek wisata daerah seperti Taman Remaja Surabaya. Kesemuanya itu kemudian disusun dalam bentuk lagu yang bercerita tentang sebuah kota yang terus tumbuh.

Bila Silampukau mencoba menjelajahi Surabaya lewat lagu, maka Anitha Silva, yang akrab dipanggil Tinta, mengajak para wisatawan untuk menjelajahi kota ini lewat ruang; perpaduan antara bangunan tua dan modern, yang dihubungkan dengan jalan dan jembatan serta gang-gang tersembunyi.

“Banyak wisatawan yang mampir di Surabaya untuk melanjutkan perjalanan ke Bromo atau Bali. Tapi mereka bingung, selama di Surabaya mau ngapain?” kata Tinta.

surabaya_02

Karenanya, dia kemudian membuat www. surabayawalk.com, sebuah tur jalan kaki yang mengajak para pesertanya melewati jalan-jalan tak biasa. “Di kota sepanas Surabaya, berjalan kaki sebetulnya adalah kegiatan yang dihindari oleh para penduduk lokal yang lebih suka menggunakan sepeda motor atau mobil. Padahal, pemerintah kota Surabaya sudah membangun infrastruktur yang baik bagi pejalan kaki; pedestrian diperlebar, pedagang asongan dan parkir liar ditertibkan, pepohonan ditanam di sepanjang jalan,” ujar Tinta.

Tinta sudah gemar berjalan kaki berkeliling kota sejak mahasiswa. Baginya, Surabaya memiliki skala yang enak untuk berjalan kaki, karena tidak terlalu luas seperti Jakarta. Selain itu banyak jalur alternatif menembus perkampungan kota yang menarik untuk ditelusuri. “Saat berjalan kaki menyusuri gang dan perkampungan, ada banyak cerita dan penemuan yang tidak terduga,” kata Tinta.

surabaya_05

Tinta mengajak saya untuk ikut serta berkeliling dengan berjalan kaki. Tempat-tempat yang disinggahi dalam turnya antara lain adalah Kampung Pendeleh, salah satu kampung tertua di Surabaya. Di sini, Anda juga bisa menemukan pedagang makanan di pinggir jalan yang tengah menyiapkan dagangannya, masjid yang penuh warna serta mural, para pedagang mainan, dan baju-baju pada deretan tali jemuran. Soekarno, Presiden pertama Indonesia, dilahirkan di rumah di Jalan Pandean yang disewa oleh kedua orang tuanya.

Tempat lainnya yang biasa Tinta kunjungi bersama tur jalan kakinya adalah Pasar Atom dan Pasar Pabean, Kampung China dan Kampung Arab. Tetapi kini, Tinta sedang mengembangkan rute baru untuk tur jalan kakinya—bagian yang sangat disukainya.

Tinta juga mengajak Celcea Tifani, seorang ilustrator muda yang sedang mengerjakan proyek pembuatan illustration map untuk para wisatawan pejalan kaki. Kami bertiga mulai dari Jalan Rajawali, memutari Penjara Kalisosok yang merupakan cagar budaya yang kini merupakan jalan-jalan dengan mural yang cantik, untuk mencapai Museum Bank Indonesia. Beroperasi tahun 2012, museum ini menempati bangunan yang dahulu dikenal dengan nama De Javasche Bank, bank pusat dari Hindia Belanda. Dalam bangunan yang telah diremajakan ini, pengunjung dapat menemukan koleksi uang lama dan juga sejarah bank di Indonesia. Yang paling menyenangkan, untuk masuk ke museum ini tak dipungut bayaran.

surabaya_03

Di tengah perjalanan, Tinta sempat menunjuk pada sebuah rumah lawas. Di dinding bagian depan ada sebuah papan nama yang mulai lapuk dengan tulisan: CV Elka – produksi klise/plat sejak 1949.

Didorong rasa ingin tahu yang besar, Tinta pun melongokkan kepalanya ke dalam rumah tersebut. Seorang pria
tampak sedang duduk di dalam. Pria itu bernama Herman. Dalam obrolannya dengan Tinta, dia menceritakan
tentang CV Elka, yang dibangun oleh kakeknya. Dahulu, perusahaan tersebut merupakan salah satu yang terkenal di
kawasan utara Surabaya pada masanya. Mereka banyak mencetak label kemasan untuk produk komersial seperti kecap, roti, sirup, minuman berkarbonasi, brandy, hingga anggur kolesom. Hampir sebagian besar brand tersebut sudah tidak dapat ditemui lagi saat ini, tetapi Tinta dan Celcea merasa senang walau hanya dapat melihatnya dari setumpuk buku arsip perusahaan yang dimiliki Herman. Celcea terutama, sangat tertarik dengan beragam seni desain grafis di zaman dahulu.

“Pertemuan dan kejutan-kejutan kecil seperti itu hanya bisa didapat ketika kita sedang berjalan kaki,” kata Tinta.

Jakarta ke Surabaya


Waktu Penerbangan 1 jam 15 menit

Frekuensi 112 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours February 2016

icon_taste

surabaya_senses

5 Senses – Taste
SURABAYA BEANS

Dua tahun belakangan, muncul berbagai well-designed cafe di Surabaya. Kudos (Pakuwon Square AK 2 No 3) yang paling
anyar ini sebagai contohnya. Kafe ini menyuguhkan kopi serta menu lokal dalam suasana yang modern namun homey. Kesan kreatif tampak dari arsitektur bangunan dan interior yang insta-genic. Kafe lainnya yang patut dicoba untuk
mendapatkan inspirasi? Anda bisa mencoba Society Complex (www.society.co.id) dan Communal (instagram.com/communal.sby).