wehea_main

Wehea

wehea_in

Saya berada di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, kira-kira dua jam perjalanan darat ke arah utara dari hub Garuda Indonesia di Balikpapan yang merupakan titik keberangkatan paling pas untuk perjalanan ke Wehea.

Words and Photography by David Burden

Meski demikian, dengan jarak hampir 500 km, perjalanan ini memang cukup jauh, dan sebelum perjalanan panjang di dalam mobil, saya menghabiskan sore dengan meregangkan kaki saya, dan berkeliling di sekitar Masjid Islamic Centre yang mengesankan di pusat kota. Diresmikan tahun 2008 dan menghadap sebuah tikungan lebar Sungai Mahakam, kubah yang besar dan tujuh menara menjulang menjadikan bangunan ini masjid terbesar ketiga di Asia Tenggara. Pada sore hari seperti ini, bermandikan megahnya sinar matahari berwarna keemasan dan taman-taman nan cantik, saya merasa lebih seperti berada di negara-negara kaya penghasil minyak di Timur Tengah daripada di Provinsi Kalimantan.

Setelah itu, pemandu saya, Abdullah, membawa saya ke sebuah restoran ikan bakar di tepi sungai, di mana kami menyantap ikan kerapu dan kakap merah panggang yang lezat, dengan bumbu di atasnya. Abdullah adalah laki-laki periang di usia awal 40-an yang juga merupakan pedagang ahli barang antik Dayak, dan memiliki pengetahuan komprehensif tentang segala hal di Kalimantan. Dia mengatakan bahwa Wehea telah dilindungi secara resmi sejak tahun 2004, titik resmi terjalinnya kerja sama otoritas lokal dan regional, sebuah NGO bernama The Nature Conservancy yang berbasis di Amerika Serikat, Kaltim Prima Coal (KPC), dan yang paling penting, yaitu Pak Ledjie Taq—kepala adat Dayak Wehea. “Jika beruntung, kita akan bisa bertemu dengan dia besok, tapi dia adalah orang
yang sibuk,” kata Abdullah saat dia membonceng saya di malam hari untuk menuju penginapan di Samarinda.

wehea_in3

Keesokan harinya kami berkendara ke arah utara, melintasi khatulistiwa sebelum mengambil tikungan tajam ke kiri ke pedalaman dekat kota pelabuhan Sangatta. Sudah beberapa jam kami habiskan saat melintasi perkebunan Kabupaten Kutai Timur, dan akhirnya tiba di pos kecil Muara Wahau sebelum malam tiba. Kami ditemui oleh pendamping lokal kami, John, di ruangan utama sebuah restoran. Di depan semangkuk rawon panas, John memberi tahu bahwa sayangnya Pak Taq sedang berada jauh di Jerman untuk menghadiri suatu konferensi sehingga kami tak dapat bertemu dengan dia secara pribadi. Tidak kecil hati, kami pun melanjutkan perjalanan; selama beberapa jam terakhir menuju hutan di sepanjang lintasan tanah berlumpur dan bergelombang, kami naik ke kendaraan 4WD milik John, masuk ke penginapan hutan Huliwa sekitar tengah malam, dan terlelap di atas ranjang kami tak lama setelah itu.

wehea_in4

Keesokan paginya saya bangun dengan hirukpikuk yang terdengar jelas dari hutan—ada di mana-mana tetapi luar biasa menenangkan, dan menjadi pengingat bahwa saya dengan sangat baik dan sungguh-sungguh terbenam di alam. Penginapan itu sendiri adalah sebuah rumah dua lantai yang sederhana tetapi indah, dibangun dengan gaya tradisional Dayak dari kayu ulin. Keenam kamarnya yang sederhana didatangi sekitar 100 pengunjung setahun, mulai dari pihak peneliti dan konservasi hingga sekadar wisatawan biasa seperti saya yang senang berada di daerah terpencil. Tidak ada sinyal telepon (bagus) dan tidak ada Wi-Fi (hebat!), Jadi setelah mandi dengan cepat saya berjalan santai ke teras yang menjadi tempat sarapan dan bertemu para rangers, yang dikenal sebagai penjaga hutan, yang ditempatkan di sini. Sekitar 40 orang dari daerah sekitar bekerja selama sebulan secara bergiliran dalam kelompok yang terdiri atas sepuluh orang, bertugas melakukan apa saja yang mereka bisa untuk membantu melindungi daerah yang rapuh ini dari penebang liar dan pemburu. Mereka juga berperan sebagai pemandu bagi pengunjung seperti saya. Dengan demikian ketua kelompok yang bernama Boni menugaskan Umar yang masih muda, 25 tahun, dan bahkan yang lebih muda lagi yaitu Boi, 18 tahun, untuk memandu saya berkeliling. Keduanya adalah pemuda berpengetahuan yang santai, dan terbukti sangat diperlukan dalam membantu saya memperoleh saat-saat terbaik dari waktu saya selama di hutan.

wehea_in5

Wehea meliputi area seluas sekitar 94.000 hektar, dan merupakan kediaman bagi berbagai spesies, terutama orang utan, owa hitam dan merah, babi hutan, macan tutul, beruang madu, berang-berang, dan ular. Lima jalur melingkungi sekitar penginapan dalam satu lingkaran, mulai dari rute santai 600/600 (hanya 600 m), hingga jalur menanjak lintas alam yang lebih menantang (5,4 km), di sini pengunjung berkesempatan melihat satwa liar di sepanjang jalan, sambil meresapi pemandangan dan suara dari lingkungan yang masih asli ini.

Kami mulai dari eco trail dengan tingkat kesulitan menengah (3,3 km), dan tak lama kemudian kami melihat sekelompok owa, kera kecil yang lincah, berayun tanpa beban di atas pohon. Masyarakat lokal mengenalnya sebagai wak-wak karena suara seruan mereka, sungguh menyenangkan melihat makhluk-makhluk lincah ini di habitat mereka. Segera setelah itu, ketika kami melewati pohon meranti merah besar (begitu besar hingga butuh 16 orang untuk melingkarkan lengan mengelilingi batangnya), sepasang burung enggang—burung ikonis Kalimantan—menukik di atas kepala, tapi sayang sekali menghilang terlalu cepat untuk sempat dipotret.

wehea_in6

Kami berjalan kembali ke perkemahan melalui jalur bertanah merah yang luas, menjumpai Boni yang sedang sibuk mengganti gagang kayu pada pisaunya. Penting untuk kehidupan di hutan, pisau panjang yang dikenal sebagai mandau, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya dan tradisi suku Dayak. Setiap orang membawa satu mandau di hutan, tetapi di masa kini generasi muda seperti Umar dan Boi lebih cenderung membeli atau menukar ketimbang membuat mandau sendiri. Sebagai yang tertua, menjadi tugas Boni untuk mengajari yang lainnya, dan semua orang pun menyaksikan, dengan kagum, saat Boni melebur jenis kulit pohon khusus untuk menjadi pegangan baru yang berukir guna melindungi tangan untuk bagian berlogam di pangkal mandau.

wehea_in7

Makan siang sederhana namun hangat dengan menu mi goreng, ayam, dan perkedel yang disiapkan Abdullah di dapur penginapan, dan kami berangkat lagi mencari air terjun terpencil, sekali lagi melintasi sekelompok owa yang
membuat keriuhan luar biasa di atas pohon. Tampaknya sepanjang musim hujan arusnya cukup deras, sehingga pada hari ini air yang jatuh dari air terjun tak begitu banyak. Namun tetap saja indah, kami pun melepaskan sepatu
dan kaus kaki dan membiarkan air yang sejuk membelai kaki kami sebelum melanjutkan perjalanan kembali untuk makan malam dan sekali lagi tidur lebih awal. Perjalanan terakhir kami ke hutan keesokan paginya dimulai dini
hari untuk menjalani jalur menanjak, di mana satu kali perjalanan pulang-pergi jaraknya hampir 10 km.

wehea_in9

Seperti adegan dari Jungle Book, kami melintasi beberapa pohon besar yang ditebang, sejenak dihentikan oleh dengusan kemarahan babi hutan yang berukuran cukup besar di sisi lain dari jurang. Untungnya babi itu bergerak
tergesa-gesa ke semak-semak dan perjalanan kami tetap berlanjut, tak lama kami pun mencapai menara pandang dengan ketinggian 14 m yang memberi kami pemandangan barisan pohon yang berkabut. Waktu saya di hutan pun berakhir, lalu kami kembali ke kota menaiki kendaraan 4WD milik John, mengambil jalan memutar yang sangat singkat ke desa tradisional Dayak, yaitu Miaow. Budaya Kalimantan kuno ini perlahan-lahan menjadi kurang tampak, sehingga merupakan sebuah hal yang fantastis untuk melihat tidak hanya rumah panjang tradisional dikelilingi oleh patung-patung ukiran, tapi juga sejumlah orang Dayak yang masih mempertahankan ciri telinga panjang dan tato suku.

Perjalanan panjang kembali melalui perkebunan menuju Samarinda diwarnai dengan kesedihan karena begitu banyak lahan hutan asli Kalimantan telah dibebaskan, tapi akhirnya ada banyak yang bisa diharapkan. Fakta bahwa ada begitu banyak orang yang peduli seperti Pak Ledjie Taq yang melakukan upaya luar biasa untuk melindungi tempat-tempat seperti Wehea menimbulkan optimisme tersendiri, bahkan lebih baik lagi, dapat menjadi faktor penggerak gelombang baru pariwisata yang bertanggung jawab terhadap hutan kuno yang luar biasa ini.

Jakarta ke Balikpapan


Waktu Penerbangan 1 jam 55 menit

Frekuensi 56 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours Oktober 2016

icon_touch

wehea_senses

5 Senses – Touch
PARKIS STEM

Tanaman menjalar batang pakis yang biasa ditemukan di seluruh hutan adalah simbol kesenian Dayak, dan digunakan untuk membuat sejumlah benda seperti anyaman gelang dan cincin. Lapisan luar batang dikupas hingga ke inti, yang sangat kuat dan tahan lama, sebelum kemudian dijalin dengan tangan.