CXFKKH Sultan Omar Ali Saifuddin Mosque, Bandar Seri Begawan, Brunei. Image shot 2012. Exact date unknown.

Brunei Darussalam: A Sultanate of Smiles

Seiring upaya Indonesia dan Brunei untuk mengembangkan kerja sama di sektor pariwisata, Colours singgah di ibu kota Brunei guna melihat lebih dekat kekayaan wisata negara ini.

Words Jay Tindall

brunei_in

Pada awalnya, saya tidak tahu apa yang bisa saya temukan di negara kesultanan kecil yang kaya minyak, Brunei Darussalam. Selain ulasan-ulasan di internet yang menyebutkan negara ini “tidak asyik”, saya tidak punya banyak gambaran tentang destinasi saya, yang ternyata merupakan persinggahan yang sangat nyaman dalam perjalanan saya dari Sabah ke Bangkok.

Setelah tiba di Bandar Seri Begawan pada larut malam, saya bangun lebih awal untuk menjelajahi kota dan mencari tahu seperti apa Brunei sesungguhnya. Melihat kota ini terbentang di hadapan saya, saya merasakan sedikit nuansa Singapura di dalamnya—bukan pusat kota Singapura seperti yang kita bayangkan, dengan gedung pencakar langit yang menjulang tinggi dan perbelanjaan mewah, melainkan pinggiran kotanya yang tenang, rapi dan bersih. Pengaruh Islam terlihat pada arsitekturnya, dengan masjid warna-warni yang mengintip di cakrawala, dan pada busana tradisional laki-laki dan perempuan yang memakai kerudung. Dari riset saya, saya memperhatikan, di antara beberapa hal yang menyebabkan saya berpikir tak banyak hal menarik di Brunei, salah satunya adalah minimnya foto orang-orang Brunei di internet. Karena itu, saya ingin bertemu dan memotret orang sebanyak mungkin.

brunei_in2

Tempat pertama yang kami singgahi adalah Masjid Jame’asr Hassanil Bolkiah, masjid terbesar di negeri ini, yang dibangun untuk memperingati 25 tahun pemerintahan Sultan. Masjid  yang mengagumkan ini dilapisi blok-blok marmer besar. Namun begitu, tak diragukan lagi, landmark Brunei yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin. Elemen yang paling mencolok—selain emas berlimpah yang melapisi kubah besarnya—adalah repro  dari perahu tongkang seremonial yang mengapung di perairan di depan masjid. Selesai dibangun enam dekade lalu, masjid ini terkenal di seluruh dunia sebagai simbol arsitektur Islam modern, yang menyatukan teknik Mughal dengan gaya Italia. Meski tidak mungkin mengunjungi kediaman Sultan, berjalan-jalan di museum Royal Regalia Centre memberikan sekilas gambaran menarik tentang kehidupan sang Sultan dan budaya Brunei. Tempat ini memamerkan kereta-kereta kuda dari perayaan ulang tahun perak pemerintahan Sultan, perhiasan dengan detail yang rumit dan beragam display mengenai momen-momen kunci saat penobatan Sultan, yang menjadi bagian penting dalam sejarah negara ini.

D7E4GT Umbrellas in the Royal Treasury, Royal Regalia Museum in the capital city, Bandar Seri Begawan, Brunei, Asia

Setelah berwisata di pagi hari, kami berhenti untuk makan siang dan menikmati kelezatan rendang daging sapi pedas khas Melayu dan nasi lemak gurih di restoran setempat, kemudian lanjut menuju pasar—yang menjual sayuran segar, buah, dan ikan-ikan kering. Saya selalu mencari pasar sebagai tempat yang menyenangkan untuk bertemu dengan penduduk setempat, tak terkecuali kali ini. Para pedagang dan pembeli di sini sangat ramah, dengan senyuman lebar dan tak ada pedagang yang menyodor-nyodorkan barang seperti yang sering Anda temui di pasar-pasar lain yang ramai wisatawan.

CXFKPP Kampong Ayer, Bandar Seri Begawan, Brunei. Image shot 2012. Exact date unknown.

Kami menghabiskan sore di sungai, melaju ke hilir dengan taksi air menuju desa terapung Kampong Ayer Water Village. Dengan populasi mendekati 40.000 penduduk dan jembatan sepanjang hampir 100.000 kaki yang menghubungkan desa-desa kecil di Kampong Ayer, kawasan ini jelas bukan kawasan kecil. Ketika saya melihat sekelompok pelajar tiba di sekolah terapung mereka, kami menghampiri untuk menyapa. Dilihat dari reaksinya, kami adalah orang asing pertama yang menyapa mereka. Para pelajar itu tersenyum saat difoto, kelihatan jelas mereka gembira menerima kunjungan kami, dan sekali lagi saya terpegun melihat kehangatan dan kejujuran mereka. Kami  juga berkesempatan mengunjungi sebuah keluarga di desa itu dan mendapatkan sekilas gambaran tentang kehidupan mereka.

brunei_in3

Kami meneruskan perjalanan di sepanjang sungai, ke luar dari kota menuju kawasan berlumpur dan hutan bakau di sekitarnya. Sayangnya air sedang pasang, padahal saya diberi tahu kalau air surut daerah itu dipenuhi buaya. Meski begitu, kami bisa melihat beberapa kawanan bekantan,  dengan hidung gepeng dan panjangnya  yang khas, masing-masing kawanan dipimpin oleh satu bekantan jantan laki-laki dengan segerombolan betina dan bayi. Satwa yang terancam punah itu masih relatif banyak di sini dan di taman-taman nasional Brunei, bersama aneka ragam flora dan fauna  eksotis lainnya. Taman-taman nasionalnya diselimuti hutan hujan asli, dengan  jembatan yang saling-silang sehingga Anda dapat menikmati pepohonan dan menemukan keajaiban alam.

brunei_in4

Malam itu, saya jalan-jalan ke pasar malam. Walaupun tidak luas seperti kebanyakan pasar malam yang pernah saya kunjungi, Pasar Gadong sangat bersih (ini sepertinya menjadi tema Brunei), dan saya begitu berselera melihat makanan-makanan di sana. Ada buah-buahan dan sayuran segar,  potongan tebal daging domba, ikan bakar, sosis, daging sapi dengan mi, sate dan  hidangan lokal lainnya dan bahkan ada salah satu stan yang menjual burger ala Brunei. Sekali lagi, kesan paling kuat yang saya tangkap adalah kehangatan dan senyum ramah para pedagang saat saya menghampiri untuk mencoba dagangan mereka.

Mungkin alasan kebahagiaan rakyat Brunei adalah sistem sosial negara ini. Tak ada pajak penghasilan, bahan bakar 30 sen per liter, perawatan medis gratis dan subsidi perumahan dalam jumlah besar—bisa dibilang ada banyak alasan untuk bahagia di sini. Tapi mungkin juga karena fakta bahwa, selain kota mereka adalah salah satu kota terbersih yang saya kunjungi, kota ini juga dikelilingi hutan hujan alami  yang indah dan sebagian besar masih terjaga.

BXF4KB Food Stalls at Pasar Gadong in Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Asia

Sebagai negara yang terkadang salah diasumsikan, Brunei bukan tempat bagi wisatawan yang ingin mencari bar gemerlap  dan kehidupan malam seperti di daerah-daerah tujuan wisata Asia lain yang lebih terkenal, yang berarti pariwisata tidak dibiarkan mengubah Brunei seperti yang biasa terjadi di kawasan-kawasan wisata pada umumnya. Sebagai gantinya, warga Brunei benar-benar ramah  dan menyambut para pengunjung yang datang untuk melihat pesona asli dari tempat ini  dan juga orang-orangnya.

Jakarta ke Bandar Seri Begawan


Frekuensi 6 kali seminggu

Joint passenger with Royal Brunei Airlines

Pesan Sekarang

Dari Colours August 2016

icon_scent
brunei_senses

5 Senses – Scent
MARKET FRAGRANCES

Untuk keharuman yang menggoda di Brunei, Anda cukup pergi ke pasar-pasarnya. Berjalan di antara warung-warung yang rapi dan menghirup wewangian segar dari buah dan sayuran serta aroma pedas kari kelapa yang sedang dimasak, dibumbui dengan rempah-rempah. Pasar di sini umumnya sangat bersih, sehingga Anda dapat menikmati semua kelezatan ini tanpa melihat hal-hal yang kurang sedap dipandang.