Giethoorn Village

Giethoorn, sebuah desa yang indah di pinggiran Belanda, dengan rumah-rumah pertanian beratap jerami, kanal kecil, jembatan kayu yang tak terhitung jumlahnya, dan lahan basah yang sejuk, paling bagus dijelajahi dengan perahu.

Words by Thessa Lageman

giethoorn_01

Kami memulai kunjungan dengan bersepeda di sepanjang Noorderpad, jalan kecil di sebelah kanal, menuju pusat Giethoorn. Kabut dingin menggantung di udara dan sebagian besar penduduk mungkin masih terlelap.

Saya pernah membaca bahwa kanal dan danau di sini adalah hasil dari pemotongan tanah gambut, material yang secara tradisional digunakan untuk memanaskan rumah-rumah di daerah ini selama ratusan tahun. Kami menyeberangi beberapa jembatan kecil bercat cokelat dan putih, melewati beberapa peternakan beratap jerami dan sebuah danau yang disebut Molengat (celah kincir angin). Warna biji-bijian di ladang, pohon birch, dan air dengan alang-alang memancar indah dalam cahaya pagi.

giethoorn_06

Sudah bertahun-tahun sejak saya mengunjungi Giethoorn, sebuah desa berpenduduk 2.620 orang di pinggiran Belanda. Setelah tinggal di luar negeri selama beberapa tahun dan kembali ke negara asal saya, saya melihat Belanda seperti sesuatu yang baru. Saya penasaran ingin melihat apakah desa yang dijuluki “Venesia dari utara” dan disebut-sebut “bak dalam buku dongeng” dan bahkan “kota paling cantik dan menawan di dunia” ini memang benar-benar indah.

Desa ini dapat dicapai dengan menaiki kereta ke Steenwijk dan dari sana dilanjutkan dengan naik bus. Namun, bus terakhir berangkat dini hari, jadi tak ada salahnya kami bermalam di sini. Saya dan ayah pun menginap di Dames van de Jonge, sebuah hotel kuno yang tak terlalu besar, yang berada di antara kanal dan domba-domba. Hotel ini terletak di bagian utara desa yang tenang, dan lebih jarang dikunjungi wisatawan. Gabriella Esselbrugge (37 tahun) bersama ibunya mengelola hotel ini, mengatakan kepada kami bahwa neneknya mulai menyewakan kamar kepada wisatawan pada tahun 1950-an. “Desa ini selalu memberikan daya tarik yang luar biasa,” ujarnya kepada kami dengan antusias. “Secara pribadi, saya suka naik perahu di danau dan bermain seluncur es pada musim dingin.”

giethoorn_02

Pelukis, aktor, dan penyair
Setelah beberapa waktu, kami sampai di Binnenpad, jalan utama di tengah desa yang terlalu kecil untuk dilewati mobil. Kami pun singgah untuk minum kopi di Grandcafe Fanfare. “Setelah film Belanda Fanfare diputar tahun 1958, banyak orang mengunjungi Giethoorn,” kata pemilik kafe Arie-Willem Vermeij kepada kami. Film tersebut terus diputar di kafe ini dan beberapa atribut yang digunakan di dalam film, seperti terompet, tersimpan di sini. Ketika sang pemilik membeli kafe tersebut 10 tahun lalu, banyak orang-orang mengatakan bila kondisi Giethoorn sedang tak terlalu baik, tapi ternyata hal tersebut terbukti salah. “Dulu, sebagian besar pengunjung datang dan pulang di hari yang sama, tapi sekarang mereka sering menginap lebih lama dan berasal dari berbagai negara.”

Di luar, kami bertemu warga bernama Klaas van der Veen (yang secara harfiah berarti ‘gambut’), yang menawarkan untuk memandu kami berkeliling desa. Umurnya sudah mencapai 75 tahun, namun ia terlihat lebih muda. Dia bercerita bahwa dirinya pindah ke Giethoorn ini dari bagian barat Belanda pada 1970-an. Pada masa itu, banyak pelukis terkenal dan penyair Belanda menetap di sini. Setelah pensiun dari militer, ia mulai menjadi pemandu wisatawan secara sukarela. Menurutnya, pelukis Belanda Willem Bastiaan Tholen bisa dikatakan sebagai orang pertama yang mengangkat nama Giethoorn. “Ia adalah yang pertama dari banyak pelukis yang melukis pemandangan Giethoorn, tahun 1880,” katanya. “Sejak itu, orang-orang dari Amsterdam mulai mengunjungi desa ini.”

giethoorn_03

Tanduk kambing
Giethoorn konon didirikan sekitar tahun 1230 oleh Flagellant, sekelompok pelarian dari Mediterania yang mempraktikkan bentuk penyiksaan diri dengan mencambuki tubuh mereka. Saya membaca bahwa nama Giethoorn berarti ‘tanduk kambing’, karena warga menemukan banyak tanduk di sini setelah banjir besar pada Abad Pertengahan. Namun, Van der Veen meragukan cerita tersebut dan mengatakan bahwa Giethoorn berarti ‘sudut gelap’, yang merujuk pada tempat mengerikan di mana tidak ada kehidupan.

Walau demikian, kondisi itu kini telah berubah. Kami melewati sebuah jembatan curam—satu dari 176 jembatan di desa ini—sementara seorang gadis Tionghoa tengah berswafoto dengan latar belakang jembatan. Van der Veen membandingkan jembatan yang sekarang terdiri atas delapan papan kayu dengan jembatan yang dahulu dibuat hanya menggunakan satu batang papan. “Tak mudah untuk melewati jembatan di malam hari,” komentar dia. Pada beberapa jembatan yang mengarah ke taman pribadi, kami melihat rambu-rambu dengan aksara Tionghoa, yang mungkin berarti ‘Properti pribadi. Dilarang masuk tanpa izin’. Popularitas Giethoorn di kalangan wisatawan asing, terutama dari Asia, menjadi fenomena baru dan sebagian wisatawan tidak menyadari bahwa ini adalah sebuah desa sungguhan yang berpenghuni, bukan sebuah museum terbuka.

Kami melewati peternakan dengan atap yang tinggi agar unta dapat masuk, di mana jerami digunakan untuk pakan. Bangunan vertikal adalah satu-satunya pilihan, karena peternakan dikelilingi oleh kanal. Artinya hanya bisa dicapai dengan perahu atau jembatan penyeberangan. Karena itu, aktivitas seperti berbelanja dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain dilakukan dengan perahu dan bahkan tukang pos, pengangkut sampah dan pemadam kebakaran menggunakan perahu.

giethoorn_04

Gondola atau punts
“Baru-baru ini, saya mengunjungi Venesia di Italia untuk pertama kali,” kata Van der Veen tersenyum. “Saya katakan pada keluarga saya bahwa kami akan mengunjungi ‘Giethoorn dari selatan’.” Ia menambahkan, “Saya suka keduanya, tapi tentu saja keduanya berbeda.” Yah… mungkin benar, meskipun keduanya sama-sama memiliki kanal dengan perahu tradisional—gondola di Venesia dan punters di Giethoorn. Perahu—dengan bentuk dasar rata, yang dikenal sebagai punt dalam bahasa Inggris—ini terbuat dari kayu ek, dan telah digunakan sejak Abad Pertengahan. Perahu ini dikayuh dengan tiang bergalah panjang yang didorong ke dasar kanal, yang kedalamannya biasanya tak lebih dari satu meter karena ekstraksi gambut.

Dulu ada lebih dari 20 galangan punt di sini, namun sekarang hanya ada satu perusahaan di seluruh dunia yang masih memproduksi perahu ini, yang berlokasi di sepanjang jalan utama. “Saya generasi kesepuluh,” kata sang pemilik Jan Schreur, sambil menunjukkan punt baru yang sedang ia kerjakan. Di ruangan lain, ia memperbaiki perahu-perahu wisata yang sudah tua. “Sekarang wisatawan suka perahu yang benar-benar nyaman,”
katanya. “Jadi kami memasang pemanas listrik di perahu, bahkan Wi-Fi dan soket untuk mengisi baterai ponsel.”

giethoorn_05

Saya merasa kunjungan ke Giethoorn belum lengkap tanpa berkeliling dengan perahu, jadi kami naik perahu wisata yang berangkat dari sebuah kafe di dekat galangan. Tiga gadis asal Australia duduk di belakang kami. “Tempat ini berbeda dengan tempat lain yang pernah kami lihat dan, yang menyenangkan, tidak ada mobil di sini,” kata mereka saat perahu kami meluncur di bawah jembatan kayu yang melengkung.

“Ada banyak peninggalan unik di sini,” seorang pensiunan ahli bedah sekaligus fotografer asal Taiwan tampak tersenyum saat kami pulang melewati Danau Bovenwijde. “Pondok-pondok ini memang fotogenik.”

Rasanya itu semua benar, apalagi ketika kami menuju Smit’s Paviljoen, sebuah kafe yang sudah ada sejak 1935, dan menyajikan panekuk khas Belanda yang lezat dengan gula bubuk. Saya menikmati kunjungan ini dan ingin segera dapat kembali ke sini lagi. Mungkin saya bisa menyewa punt seharian, mengunjungi salah satu festival musik atau festival perahu layar di musim panas atau bersepeda melintasi lahan basah di Taman Nasional De Weerribben-Wieden.

Jakarta ke Amsterdam


Waktu Penerbangan 13 jam 20 menit

Frekuensi 6 kali seminggu

Book Now

Dari Colours March 2017

icon_scent
giethoorn_senses

5 Senses – Scent
KNIEPERTJES

Dari jauh, Anda sudah bisa mencium aroma kniepertjes, wafel keras tipis yang manis. Jajanan ini dipanggang di wajan khusus wafel di Museumboerderij ’t Olde Maat Uus (Binnenpad 52, di samping gereja) oleh wanita berpakaian tradisional— gaun hitam dan topi berenda. Delapan wafel dijual seharga satu euro. Di dalam museum (bekas peternakan), Anda bisa melihat gambaran kehidupan pada masa lalu dan belajar tentang beberapa tradisi desa ini.