harbin_main

Harbin

Sempat dikuasai Rusia, Harbin, dengan warisan budayanya, menawarkan lebih dari keindahan ukiran es berukuran raksasa dan iklim khas Siberia-nya. Colours menjelajahi kota tertua di Tiongkok ini.

Words and Photography by Daniel Allen

harbin_05

Dalam udara yang sangat dingin yang bahkan dapat membuat napas mengkristal, sinar matahari tampak rendah menyapu permukaan Sungai Songhua yang membeku. Terkunci dalam cengkeraman musim dingin yang erat, es terbentuk begitu tebal hingga penduduk kota menggunakannya sebagai arena permainan, mengemudikan mobil salju, go kart, dan kereta salju yang ditarik kuda bak berada di atas daratan.

Bila pemandangan ribuan penduduk Harbin meramaikan Songhua yang beku adalah daya tarik bagi wisatawan asing, tak begitu halnya dengan seorang pematung setempat bernama Xiu Wu. Di sini, di timur laut Tiongkok, menjalani dan menikmati hidup pada suhu di bawah nol adalah hal yang telah biasa dia lakukan sejak kecil.

“Harbin memiliki reputasi sebagai kota terdingin di Tiongkok,” kata Wu. “Jika besar di sini, Anda akan terbiasa dengan pemandangan salju dan es sepanjang enam bulan dalam setahun.”

harbin_01

Bekerja di luar sebuah pusat belanja di jalan utama Harbin, Wu terlindungi dengan baik dari angin Desember yang menusuk tulang. Dengan menggunakan seperangkat alat pahat, pengikis, dan kuas, pematung berpengalaman ini sudah hampir menyelesaikan pahatan balok es raksasa yang akan ia ubah menjadi sesuatu yang mungkin bisa melelehkan hati orang- orang yang melintas. “Balok es ini akan menjadi patung beruang kutub dengan anaknya,” kata Wu, yang telah memulai karya terbarunya dengan memahat bagian belakang hewan tersebut. “Tampaknya, mematung itu mudah, tapi pada kenyataannya tidak. Bagian tersulit adalah membuat wajah dan mata dengan benar, jadi saya selalu membuat bagian itu di akhir.”

Winter wonderland
Terletak di Provinsi Heilongjiang, lebih dari 1.200 km di arah timur laut Beijing, Harbin adalah Ibu Kota Provinsi Tiongkok Utara yang jauh lebih utara daripada pelabuhan laut Rusia yang terkenal dingin, Vladivostok, yang hanya berjarak 500 km ke arah timur. Terkadang suhu di sini dapat turun hingga kurang dari -40°C, sedangkan musim panas adalah kejadian yang cepat berlalu ketika kehidupan bermekaran selama jeda singkat sebelum musim dingin.

harbin_02

Namun, bukannya berusaha berlindung dari dinginnya suhu, penduduk Harbin ini justru memilih untuk merayakannya. Sungai Songhua, yang membelah kota, adalah sumber kehidupan dari atraksi lokal utama: Harbin International Ice and Snow Sculpture Festival yang diadakan setiap tahun. Berlangsung dari Januari hingga pertengahan Maret, pesona keindahan salju yang membeku ini telah menyihir pengunjung yang jumlahnya terus meningkat sejak tahun 1985.

Dari Songhua-lah setiap tahun lebih dari 30.000 pekerja memotong, mengangkat, dan memindahkan balok raksasa es yang diperlukan untuk membangun dan menciptakan berbagai patung es dan arsitektur berumur singkat di Harbin ini. Terjaga keutuhannya oleh kondisi suhu di bawah nol, karya-karya ini menghiasi beberapa titik di kedua tepi sungai, dari rumah pada zona-zona bertema hingga gemerlapnya cahaya biru-putih dari bangunan-bangunan terkenal di dunia, tokoh-tokoh sejarah, dan hewan-hewan mitos. Karya-karya paling mengesankan dapat dilihat di tiga lokasi: Sun Island Park (Taiyangdao Gongyuan), Taman Zhaolin (Zhaolin Gongyuan), dan Harbin Ice and Snow World.

Dibentuk dengan menggunakan gergaji, patung-patung besar yang ditampilkan dalam festival ini menjadikan patung beruang kutub karya Xiu Wu jadi terlihat kecil. Dilengkapi pencahayaan internal, patungpatung ini tampil cantik menyala begitu malam menjelang. Tak ada yang tidak bisa Anda buat dengan melimpahnya pasokan es, imajinasi yang luar biasa, dan tenaga kerja yang bersemangat mengerjakannya.

harbin_03

“Setiap tahun, segalanya makin besar dan profesional,” kata Wu. Tahun lalu kami melihat Kremlin dari es, Buddha berukuran raksasa, dan sekelompok paus. The Crystal Castle hampir sama tingginya dengan Arc de Triomphe di Paris.”

Patung-patung es yang ditampilkan pada festival Harbin ini sungguh luar biasa, karya serius dari tim-tim yang berasal dari seluruh penjuru dunia.

“Saya suka menebak dahulu negara asal tim pembuat patung sebelum membaca keterangannya,” kata seorang penduduk Harbin berusia 20-an, Chen Yan. “Tidak sulit menebak bila patung es yang Anda lihat adalah Napoleon atau prajurit samurai. Tetapi untuk patung lainnya agak sulit.”

Warisan Sejarah
Acara utama di Harbin mungkin memiliki sejarah setua tiga dekade, tapi kreativitas lokal terhadap es berasal dari zaman yang lebih lama. Dari abad ke-17 dan seterusnya, para pemburu dan nelayan biasa membuat lentera dari balok es untuk digunakan pada malam yang berangin di musim dingin.

“Lentera tersebut dibuat dengan cara menuangkan air ke dalam ember, yang kemudian diletakkan di luar agar membeku,” jelas sejarawan Harbin, Zhang Luo. “Es yang berbentuk ember tersebut kemudian dikeluarkan, bagian dalamnya dikeruk, dan lilin ditempatkan di dalam. Akhirnya orang-orang mulai menggantungnya di rumah mereka sebagai dekorasi.”

harbin_04

Akan tetapi justru sejarah Harbin yang barulah yang telah menganugerahi dinginnya kota metropolitan ini dengan karakter dan pesona yang tak hanya melulu salju dan es. Harbin, seperti halnya Shanghai yang jauh di selatan, adalah sebuah kota di Tiongkok dengan warisan dari sejumlah pengaruh asing.

Dengan nama yang berarti tempat untuk mengeringkan jaring ikan di Manchu, Harbin hampir tidak lebih dari pedesaan terpencil hingga akhir abad ke-19. Hal itu berubah seiring dengan dibangunnya jalur kereta api dari Vladivostok pada tahun 1896; pedagang Rusia masuk terlebih dulu, diikuti oleh kelompok White Russians yang melarikan diri dari Revolusi Bolshevik pada tahun 1917.

Pada pertengahan tahun 1920-an, penduduk Harbin membengkak dengan lebih dari 100.000 orang Rusia, yang mulai menciptakan kota kecil dan hidup dalam gaya Moskwa atau St. Petersburg.

“Harbin pada kenyataannya merupakan kota Rusia di luar Rusia,” kata Zhang Luo. “Itu berarti bangunan, surat kabar, masakan, musik, dan semua ornamen lain berasal dari masyarakat Rusia. Pada masa kejayaannya, ini dikenal sebagai Moskwa dari Timur.”

Warisan Peninggalan Rusia
Kini Harbin telah kembali pada lingkup pengaruh Tiongkok, namun tanpa meninggalkan atmosfer khas Barat. Zhongyang Dajie, sebuah jalan berkonblok yang memanjang hingga pusat kota, berkesan lebih Eropa ketimbang Oriental, dengan deretan rumah-rumah klasiknya yang bergaya Baroque, Renaissance, dan Art Nouveau. Katedral megah St. Sophia, yang merupakan karya arsitektur terbaik Harbin, tampak mendominasi dengan kubah besarnya yang mengingatkan orang pada bentuk bawang bombai berwarna hijau, dan batu batanya yang berwarna kuning tua.

harbin_06

Pengalaman khas Rusia juga bisa didapatkan saat bersantap dan berbelanja di Harbin. Pengunjung bisa menikmati camilan pangsit Rusia bernama pelmeni sama halnya ketika mereka menikmati jiaozi, kembarannya yang bergaya Tiongkok. Tak hanya itu, beef stroganoff dan blinis pun menjadi menu utama yang ditawarkan restoran-restoran di sini. Sebagian besar restoran di Harbin ini juga menawarkan aneka macam minuman impor, sementara rak-rak yang terdapat di toko suvenir dipenuhi aneka macam boneka matryoshka dan memorabilia bergaya Soviet lainnya.

“Harbin bukan lagi Moskwa dari Timur,” kata Xiu Wu, yang bangga akan pembangunan yang semakin maju di bawah ekonomi Tiongkok. “Tetapi kami harus tetap bangga dengan warisan budaya yang kami miliki di sini. Bagaimanapun, budaya yang terpengaruh Rusia ini telah berlangsung jauh lebih dulu daripada patung-patung saya.”

Jakarta ke Beijing


Waktu Penerbangan 6 jam 35 menit

Frekuensi 4 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours February 2017

icon_taste
harbin_senses

5 Senses – Taste
HONG CHANG

Apa lagi yang lebih Eropa daripada sosis asap? Dengan cita rasa yang mengingatkan pada wurst Jerman, sosis merah Harbin yang terkenal atau hong chang pada bulan Maret 1909, untuk pertama kalinya diproduksi di Churin Sausage Factory, yang terletak di Distrik Daoli. Dibumbui dengan bawang putih dan lada hitam, hong chang sangat lezat disajikan bersama roti sourdough lokal, dan cita rasanya cocok sebagai pendamping minuman dingin. Tersedia di berbagai restoran, pub, dan toko-toko.