masai_main

Masai Mara: Heart of The Wild Planet

Kenya dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam liar terbaik dunia. Colours melakukan safari ke Masai Mara dan menemukan surga petualangan yang dramatis.

Words and Photography by Mark Eveleigh

masai_feat

Sekawanan gnu bergerombol di tepian sungai, kaki dan tanduk mereka saling bertautan. Dari seberang Sungai Mara, kami mengamati para gnu tersebut berkerumun hampir satu jam lamanya. Akhirnya, dengan jumlah yang sangat banyak, hewanhewan yang terdekat dengan punggung bukit pun terpaksa melompat ke atas bukit dan saling dorong pun mulai terjadi.

Sangat sulit memperkirakan berapa banyak hewan yang tengah bermigrasi ini, tetapi Joseph pemandu kami menaksir ada sekitar 30.000 gnu yang berlari menyeberangi sungai dan berebut memanjat tebing di tepian sungai dan menuju ke arah kami.

Para gnu itu memilih tepian sungai yang paling curam. Mereka memanjat tebing setinggi 10 meter yang bila sampai jatuh kuda pun bisa mati. Saya juga tak berani membayangkan para gnu yang terancam tercabik-cabik oleh buaya yang telah menunggu di dalam air, begitu kawanan tersebut melewati sungai.

masai_02

Saya sudah beberapa kali melakukan perjalanan ke Kenya, namun kali ini diam-diam saya berharap safari ini tak terlalu ganas seperti biasanya, karena saat ini, ada Lucia yang berumur 10 tahun di samping saya. Dia tengah berpegangan erat pada pinggiran Land Rover beratap terbuka, dan gadis kecil itu langsung terperangah melihat gnu muda yang tergelincir tak berdaya tepat ke arah rahang buaya raksasa. Sesaat tebersit rasa sesal karena dia harus melihat kejadian itu.

Saya berharap agar safari pertama bagi Lucia ini bisa menjadi pengalaman yang mengubah hidupnya, tetapi saya juga tak boleh lupa bahwa Kenya sering kali memiliki hal-hal di luar prediksi. Berkendara sendiri di sekitar padang rumput Kenya memang tidak mudah, namun masih mungkin dilakukan bagi mereka yang berjiwa petualang, terutama bila didukung mobil dengan roda penggerak 4×4 dan perlengkapan penuh serta waktu yang cukup untuk berjalan perlahan. Bila membawa anak-anak, menjelajah dengan irama yang lebih lambat sangat bermanfaat. Hari-hari pertama Lucia di Afrika dihabiskan dengan menginap di Nairobi Tented Camp yang menyenangkan, sebuah pengalaman belajar yang luar biasa baginya. Kami mengajarkannya cara membaca GPS genggam sehingga dia bisa ikut terlibat dalam navigasi dan tidak hanya duduk diam sebagai penumpang. Kami
menunjukkannya cara memasang tenda atap di atas Land Rover layaknya rumah pohon, dan bagaimana membuat tenda atap tersebut aman dari jangkauan monyet-monyet nakal.

masai_01

Kami memasukkan barang-barang ke dalam Land Rover Defender yang kami sewa dan berkendara ke selatan menuju Taman Nasional Amboseli di mana kawanan besar gajah membuatnya takjub dan besarnya kuda-kuda nil yang sedang berjalan berhasil memesona Lucia. Puncak Kilimanjaro yang tertutup salju, menjulang curam di balik kabut gurun, yang baru pertama kali dia lihat ini terasa lebih menakjubkan daripada latar dalam film Lion King yang tertanam dalam benaknya. Tanah di sini kering dan berdebu, dan putaran angin kecil yang menari di antara danau-danau mengingatkan Lucia akan penari balet yang berputar-putar.

Lucia tak mengalami masalah dalam berkemah di tengah alam. Ketika dia bangun dengan rambut berantakan—tampak seperti Mowgli—dengan bersemangat dia bercerita tentang singa yang kami dengar mengaum semalam. Hanya butuh beberapa hari untuk membiasakan gadis kota ini mengumpulkan kayu bakar dan menyiapkan daging untuk makan malam barbeku.

Biasanya, kami berkendara sendiri di cagar alam ini. Namun ketika kami menginap di pondok atau perkemahan bertenda, kami sering bergabung dengan kelompok safari agar bisa mengikuti pemandu lokal yang tahu betul di mana kami bisa menemukan binatang-binatang liar.

masai_04

Ketika melihat singa pertama kami, saya lebih banyak menyaksikan Lucia terkagumkagum daripada melihat sekumpulan singa tersebut. Beberapa malam kemudian saat senja, seekor singa jantan yang sedang sendirian mengejar kendaraan terbuka kami dengan raungan yang besar. Singa itu hanya mengejek kami, lalu berhenti mendadak hanya beberapa meter dari kami. Spontan saya menarik Lucia untuk merapat ke dasar mobil, dan ia marah karena saya tidak sengaja menarik rambutnya saat itu. “Lagipula,” kata Lucia, “kita semua bisa melihat kalau singa itu tidak benar-benar akan menyerang!”

Tampaknya, Lucia sedang mempelajari Afrika dengan cara yang tidak dapat diperoleh lewat buku atau film.

Lucia sering mengunjungi negara-negara di Asia sehingga dia tidak lagi terkejut dengan perbedaan budaya dan saya senang melihat betapa mudahnya dia bergaul dengan pemandu Maasai kami, yang mengenakan atribut tradisional khas mereka. Hanya dalam waktu beberapa hari dia sudah belajar cara memanah,
cara memerah susu kambing, dan dasar-dasar untuk melihat jejak satwa liar.

masai_03

Lucia sangat percaya kepada kemampuan bangsa Maasai mengenai alam liar. Pada satu pagi, beberapa mil dari perkemahan kami di dekat Cagar Alam Masai Mara, kami berjalan bersama dua prajurit Maasai yang hanya bersenjata tombak assegai. Saat itu kami mengikuti jejak tiga ekor singa. Kami tersadar bahwa jejak kaki yang besar itu adalah jejak macan tutul. “Chui kubwa sana,” bisik salah satu pemandu (seekor macan tutul yang sangat besar). Wilayah Mara dan konservasi sekitarnya memiliki lokasi khusus pemusatan kucing besar tertinggi di Afrika. Selama perjalanan pagi yang paling bersemangat selama hidup saya, pikiran saya tak lepas dari para predator lokal itu. Tetapi ketika saya bertanya kepada Lucia saat kami sedang sarapan, apakah dia merasa khawatir, dengan tanpa beban dia hanya mengangkat bahu dan menjelaskan bahwa dia yakin para pemandu itu tidak akan membiarkan dirinya mendekat kepada singa-singa itu.

Markas kami di Porini Mara Camp, yang berada dalam Konservasi Ol Kinyei, berusaha menyatukan antara kesenangan berkemah dengan fasilitas pemandu berpengalaman, makanan berlimpah, dan hutan rimba yang masih asli (dan juga sepi). Bersama para pengunjung lainnya—di antaranya membawa anak-anak—kami menghabiskan sore yang panjang dengan bercengkerama di sekeliling api unggun, yang langsung disebut Lucia sebagai “the bush telly” (kumpul-kumpul dekat perapian).

masai_06

Ada beberapa hal yang harus ditentukan terlebih dahulu ketika merencanakan safari Masai Mara dan lokasi yang dipilih sepertinya adalah keputusan yang paling penting. Kebanyakan pengunjung yang datang untuk pertama kalinya merasa bahwa pengalaman terbaik hanya dapat ditemukan dengan berada sedekat mungkin dengan pusat cagar alam. Tetapi Mara dikelilingi oleh lahan Masai yang telah disewakan bagi kegiatan safari. Karena cagar alam ini tidak dipagari, satwa liar yang dapat Anda lihat di konservasi satwa liar ini sama banyaknya dengan di cagar alam itu sendiri. Selain itu, Anda lebih bebas bergerak daripada di dalam kawasan cagar alam. Jalan-jalan di pagi hari melalui wilayah singa dan berkendara santai sepanjang siang (dilanjutkan dengan jam berburu kucing-kucing besar saat senja) tidak diperbolehkan di cagar alam. Ol Kinyei berada tidak jauh dari pusat cagar alam dan dapat dicapai cepat dengan mobil, sehingga kami pun menghabiskan sepanjang siang di sana, menyaksikan sekelompok anak singa berguling-guling dan bergulat di tanah rumput sabana.

Saya hampir melewatkan migrasi pada beberapa perjalanan sebelumnya. Kali ini, berharap untuk menyaksikannya hingga tuntas, saya pun meminta bantuan salah satu pemandu ahli Porini untuk membawa kami ke posisi terbaik.

masai_07

Setelah debu yang tersisa dari perlintasan paling dramatis dalam beberapa tahun terakhir itu sudah menyingkir, saya merasa lega mendapati bahwa keganasan yang memesona itu tidak memakan terlalu banyak korban. Ketika seluruh kawanan telah memanjat tepian untuk mencapai padang rumput di sekitar Land Rover kami, kami menghitung hanya ada enam bangkai gnu yang tertinggal di air. Buaya-buaya tersebut tampaknya sangat dipuaskan oleh “perjamuan bergerak” dalam bentuk migrasi besar-besaran ini sehingga mereka mengumpulkan tenaga hanya untuk menangkap satu anak gnu yang malang tersebut.

Pada saat kami kembali ke Nairobi, kami telah berkendara sejauh 2.000 km melewati beberapa wilayah satwa liar terbesar di dunia dan Lucia telah merasakan petualangan yang tak terlupakan seumur hidupnya. Kenya, sekali lagi, melampaui semua ekspektasi.

Bangkok ke Nairobi


Frekuensi 7 kali seminggu

SkyTeam partner route with Kenya Airways

Pesan Sekarang

From Colours April 2017

icon_sight
masai_senses

5 Senses – Sight
LION SIGHTINGS

Anda bisa melihat penampakan singa hanya 20 menit setelah tiba di Bandara Internasional Jomo Kenyatta. Nairobi Tented Camp—satu-satunya perkemahan di Taman Nasional Nairobi—merupakan salah satu hal menarik di Kenya yang tak banyak diketahui. Hindari kemacetan kota dan mulai perjalanan safari Anda dengan mengambil jalan langsung ke padang belantara tempat kucing besar, badak, banteng, jerapah, kuda nil, dan antelop yang tak terhingga jumlahnya.