singapore_main

Singapura

Di Singapura, Anda akan melihat taman publik di mana-mana. Untuk merayakan Hari Bumi, Colours mengunjungi Singapura, salah satu kota terhijau di dunia untuk mengeksplorasi dan menikmati alam di ruang-ruang terbukanya.

Words by Angela Richardson

singapore_01

Singapura memang unik. Di negara yang padat dengan 5,78 juta penduduk ini, bahasa yang terdengar di jalan bermacammacam, dari Mandarin sampai Tamil, Melayu sampai bahasa Inggris. Perdana Menteri pertamanya, mendiang Lee Kuan Yew, memelopori gerakan “Garden City” pada pertengahan 1960-an, sebuah ideologi yang telah diwujudkan dalam bentuk ruang-ruang hijau yang tersebar di kota metropolis nan ramai ini.

Dinobatkan sebagai “Kota Terhijau Kedua di Dunia” oleh World Cities Culture Forum, hampir setengah dari luas tanah Singapura dijadikan taman dan kebun. Memilih taman mana yang akan saya kunjungi bukanlah hal mudah, jadi saya memutuskan untuk bertanya kepada beberapa penduduk lokal.

“Tergantung di daerah mana Anda tinggal,” kata Lina, ekspatriat asal Belanda yang telah tinggal di kota ini selama dua tahun. “Saya tinggal di Robertson Quay dan saya ikut pelatihan di taman tiga kali seminggu.” Ruang terbuka hijau favoritnya adalah Fort Canning, karena dekat dari rumah, berbukit dan memiliki banyak tangga, cocok untuk latihan keras yang sangat ia sukai.

singapore_02

Bagi Byron Lim, pilihannya adalah MacRitchie Reservoir, yang terletak lebih jauh ke utara. “Anda harus berkendara atau naik MRT ke Marymount, tapi begitu sampai di sana Anda akan benar-benar merasa jauh dari kehidupan kota, dan anak-anak menyukainya,” katanya pada saya sambil minum kopi di Orchard Road yang ramai. “Tapi jangan memberi makan monyet!” katanya sambil tertawa.

Jelas, ungkapan “penilaian setiap orang berbeda-beda” berlaku ketika memilih ruang hijau yang wajib dilihat di kota ini. Dengan gambaran umum tentang taman-taman yang harus dikunjungi, saya mengikat tali sepatu dan bergerak untuk menjelajahi alam.

The Futuristic Garden
Gardens by the Bay bisa dibilang merupakan ruang terbuka paling ikonis di Singapura. Letaknya di dekat Marina Bay. Yang membuat taman ini unik dibanding taman-taman lain adalah pemandangannya yang kian indah bila dinikmati di malam hari.

Taman kota revolusioner ini memiliki 18 “supertrees” atau ‘pohon super’ yang menjulang setinggi 25–50 meter—keajaiban arsitektur dengan tanaman merambat yang melindungi dari sinar matahari tropis pada siang hari dan menyala seperti video musik elektronik di malam hari. Memiliki fungsi ramah lingkungan dengan panel-panel surya yang menangkap energi matahari, pohon-pohon super ini menjadi bukti kemampuan Singapura. Saat berjalan-jalan di taman yang megah ini pada Sabtu malam, saya terpesona melihat kemampuan manusia yang memadukan unsur futuristik dengan alam.

singapore_03

Saya mendengar tawa dari sekelompok pengunjung yang sedang menikmati kehijauan di bawah supertrees, sambil menghabiskan waktu dengan minuman dan makanan ringan yang dibawa dari luar taman. Beberapa orang tampak asyik mengobrol dan hampir tidak memperhatikan pertunjukan lampu dan suara di atas supertrees. Saya berjalan melewati kerumunan itu dan bersantai di atas sebuah batu besar, menikmati pertunjukan dan mengagumi permainan warna dan musik yang menakjubkan.

The Colonial Garden
Singapore Botanic Gardens didirikan tahun 1859 oleh Agri-Horticultural Society dan berfungsi sebagai taman yang lebih tradisional dibanding Gardens by the Bay. Dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada 2015, taman yang merefleksikan gaya lanskap Inggris ini begitu luas, sehingga diperlukan beberapa hari untuk menjelajahi keseluruhan taman.

Kunjungan saya ke sini dimulai dari Visitor Centre dan kantor pusat National Parks (NParks) kemudian saya berjalan turun ke Symphony Lake, yang dihuni kura-kura dan biawak besar, serta Shaw Foundation Symphony Stage. Sedikit lebih jauh, di atas hamparan rumput luas yang disebut Palm Gardens, pengunjung lainnya telah mendirikan kemah untuk sore hari, berbaring di kehijauan sambil menikmati bekal piknik dan bermain Frisbee atau sepak bola. Ini sepertinya bagian yang paling ramai di Botanic Gardens. Sementara, mereka yang ingin suasana lebih tenang bisa dengan mudah melanjutkan jalan kaki ke banyak hamparan rumput lainnya di taman ini.

singapore_04

Anda yang menyukai anggrek mungkin tertarik mengunjungi National Orchid Garden, yang memiliki koleksi anggrek terbesar di dunia. Dengan biaya masuk 5 SGD untuk turis dan hanya 1 SGD untuk lansia dan mahasiswa, banyak yang akan Anda temukan di dalamnya, termasuk VIP Orchid Garden, tempat penyilangan anggrek yang didedikasikan bagi tamu-tamu penting dari seluruh dunia. Saat saya berkunjung ke sana, anggrek Barack dan Michelle Obama, jenis anggrek pygmy berwarna ungu dan kuning lembut, menjadi kebanggaan di bangunan utama..

Jika Anda lupa membawa bekal piknik seperti saya, Anda bisa mengisi perut di sejumlah kafe yang terdapat di Botanic Gardens, atau membeli kebutuhan piknik di Halia Provisions. Dengan bekal es kopi hitam di tangan, saya duduk di bangku dan menyaksikan pengunjung taman lalu-lalang, burung-burung terbang di atas kepala, dan dedaunan di ribuan pohon berdesir ditiup angin sore yang sejuk.

The Beach Garden
East Coast Park, tempat favorit warga lokal untuk berakhir pekan, membentang lebih dari 15 kilometer di garis pantai yang indah, dalam area seluas 185 hektare. Saya ke sana pada hari Minggu sore dan memilih menyewa sepeda di taman seharga 5 SGD. Menyusuri sepanjang garis pantai, saya merasa begitu jauh dari hiruk-pikuk Singapura dan mengerti mengapa orang-orang rutin datang ke sini untuk menikmati ketenangan.

singapore_06

Pelari, pemain sepatu roda dan pengendara sepeda lainnya mendahului saya yang memilih bersepeda pelan di sepanjang pantai, menikmati angin sore yang lembut dan sinar matahari yang hangat. Di atas pasir dan di bawah pohon kelapa, orang-orang berkumpul bersama keluarga dan teman untuk menikmati sore dan suasana santai di pantai. Di air, orang-orang bermain jet ski, sementara puluhan tanker memenuhi cakrawala, satu-satunya hal yang mengingatkan bahwa saya masih berada di Singapura.

The Historic Garden
Terletak di jantung Kota Singapura, Fort Canning memiliki sejarah seterjal deretan tangganya. Berada di ketinggian 60 meter, bukit ini pernah menjadi markas Pusat Komando Timur Jauh dan Barak Tentara Inggris. Kini, taman seluas 18 hektare ini menjadi tempatnya para ahli sejarah, dengan situs-situs bersejarah seperti Raffles House, Fort Gate dan Underground Bunker yang dikenal sebagai Battlebox.

singapore_05

Sebuah pintu kecil yang mengarah ke dalam dan luar benteng, yang memungkinkan para serdadu keluar-masuk tanpa terdeteksi saat terjadi pengepungan, hingga kini masih berdiri di dalam kebun dan menjadi pengingat akan perang yang menakutkan. Meski Fort Canning berfungsi sebagai museum outdoor, non-sejarawan juga bisa menikmati taman ini dengan kegiatan seperti yoga, pelatihan boot camp, festival musik, dan tur mengelilingi taman.

Selain tur dengan pemandu yang tersedia di sebagian besar taman (biasanya pada akhir pekan), Pemerintah Singapura juga telah menyiapkan fitur yang disebut DIY Trail Guides, untuk para pengunjung taman yang lebih suka berjalan-jalan sendiri. Fitur ini dapat diunduh dengan mudah dari www.nparks.gov.sg. Saya sendiri tidak tuntas menjelajahi taman ini, dan pergi untuk melihat monyet-monyet nakal di MacRitchie Reservoir Park.

Jakarta ke Singapura


Waktu Penerbangan 1 jam 25 menit

Frekuensi 62 kali seminggu

Pesan Sekarang

From Colours April 2017

icon_sound
singapore_senses

5 Senses – Sound
MEDITATION SITE

Singapura tak pernah tidur, dan sulit menemukan tempat untuk duduk tenang. Namun, di dalam Fort Canning Park ada sebuah ruang di mana Anda bisa menenangkan pikiran Anda. The Meditation Site karya Han Sai Por adalah ruang tenang dengan deretan bangku kayu alami, dikelilingi tanaman hijau dan pohon-pohon tinggi yang melindungi dari sinar matahari. Di sini, saya duduk dan menikmati suara kicau burung selama setengah jam, cara yang bagus untuk menyegarkan pikiran sebelum kembali menghadapi dinamika kota.