The Islamic splendour of Xi’an

Sebagai salah satu dari empat ibu kota kuno Tiongkok, Xi’an di Provinsi Shaanxi memiliki banyak situs bersejarah yang mengagumkan, termasuk daerah islami, yang membuat banyak wisatawan terkesima.

Words by Ronan O’Connell

Suara azan bertalun di antara lorong-lorong kuno di kota tua Xi’an yang dikelilingi tembok. Bila di sebagian besar kota-kota Tiongkok azan hanya berkumandang bagi kalangan minoritas muslim, tidak demikian halnya di Xi’an, yang memiliki komunitas Islam terbesar di China tengah.

Kawasan bersejarah ini adalah rumah bagi lebih dari 50.000 warga muslim Hui. Di samping Menara Lonceng ikonis di Xi’an, berdiri kawasan Huimin Jie yang telah ratusan tahun ditempati orang-orang Hui, yang datang ke sini dari barat laut jauh Tiongkok.

Xi’an terkenal dengan Museum Tentara Terakota, tembok-tembok raksasa, Menara Genderang dan Menara Lonceng dari abad ke-14, Pagoda Angsa Raksasa berusia 1.400 tahun dan letaknya yang berdekatan Gunung Huashan nan spektakuler. Semua tempat ini menarik banyak pengunjung. Sementara, Huimin Jie populer sebagai tujuan wisata berkat pesona kunonya, pasar jalanan yang meriah, makanan halal yang lezat dan masjid-masjid bersejarah, termasuk Masjid Agung Xi’an.

Saya begitu tertarik mengunjungi rumah ibadah Islam ini. Saat melewati gerbang kayu megah yang menjadi pintu masuk ke kompleks masjid, saya bisa merasakan betapa besarnya masjid ini. Inilah masjid kuno terakbar di Tiongkok. Menempati lahan seluas 12.000 m², yang dibagi menjadi lima halaman, Masjid Agung Xi’an telah berdiri hampir 1.300 tahun.

Menampilkan perpaduan arsitektur, masjid ini memiliki pagoda-pagoda kayu berwarna cerah dan lengkungan batu abu-abu khas arsitektur Tiongkok, serta pola khas Arab yang biasa menghiasi bangunan-bangunan Islam. Meski ruang salat masjid tertutup untuk pengunjung, saya bebas menjelajahi pekarangannya. Hanya beberapa ratus meter dari sana, saya menemukan Masjid Daxuexi, yang berukuran lebih kecil namun tak kalah menarik.

Simbol Arsitektur Xi’an

Kedua masjid ini bisa dicapai dengan berjalan kaki singkat dari bangunan paling ikonis di Xi’an, yakni Menara Lonceng dan Genderang. Salah satu yang paling saya sukai dari Xi’an adalah kota ini mudah dijelajahi dengan berjalan kaki. Di kota-kota seperti Beijing dan Shanghai, kebanyakan objek wisatanya tersebar, sehingga Anda terpaksa menggunakan taksi. Di sini, di jantung kota tembok Xi’an, saya bisa berjalan kaki dari masjid, ke menara bersejarah, lalu ke salah satu kompleks tertua di kota, yaitu Kuil Dewa Kota yang berumur 600 tahun.

Dari Masjid Daxuexi, saya berjalan melewati beberapa jalan pasar yang ramai oleh pedagang kaki lima Hui yang menjajakan camilan halal, sebelum akhirnya kaki saya menjejak Menara Genderang. Dengan fasad merah, ubin hijau mengilap dan detail emas, menara setinggi 36 m ini mencuar di tengah bundaran lalu lintas yang sibuk. Awalnya dibangun sebagai titik pengawasan militer, Menara Genderang dan Menara Lonceng menyuguhkan pemandangan luas ke seluruh kota. Bersama kerumunan wisatawan, saya menaiki anak-anak tangga menuju lantai observasi di kedua menara.

Namun, yang paling mengagumkan adalah pemandangan dari atas tembok kota, yang panjangnya 14 km dan membentengi bagian tertua Xi’an. Salah satu tembok kota kuno paling terpelihara di Asia ini dibangun lebih dari 600 tahun lalu di era dinasti Ming, untuk melindungi Xi’an dari serangan. Berjalan menyusuri tembok adalah kegiatan yang lazim dilakukan wisatawan. Saat saya berdiri di atas tembok banteng ini, saya membalikkan badan dan memandang ke arah perbukitan hijau di sebelah timur, di mana, sekitar 30 km dari sini, terdapat salah satu penggalian arkeologi paling penting di dunia, yakni Tentara Terakota.

Pada 1970-an, arkeolog menemukan hampir 9.000 patung tentara, kuda dan kereta kuda, yang selama 2.200 tahun berjaga di atas makam Kaisar Qin Shi Huang, kaisar pertama Tiongkok. Saya berjalan melewati tiga ceruk berisi patung-patung yang diukir rumit, seraya mengagumi kepiawaian pembuatnya dan membayangkan betapa tuanya Xi’an. Hampir seribu tahun setelah makam ini dibangun, Islam masuk ke Xi’an. Dan kini, 1.300 tahun setelah muslim pertama menempati Xi’an, kota ini memiliki salah satu komunitas Islam terbesar dan paling menarik di Tiongkok.

from Denpasar is 8 hours.


1 time a week

Book Now

From Colours October 2019

icon_taste

5 Senses – Taste
Green Tea

Segarkan diri Anda dengan cita rasa alami teh hijau China, salah satu minuman paling populer di Xi’an dan bisa dijumpai di hampir semua restoran dan di jalan-jalan kota yang ramai. Nikmati teh hijau dingin ini di tengah panasnya musim kemarau di Xi’an.