An East Bali Adventure

Menyusuri Jalan Ida Bagus Mantra, jalan  by pass yang berada di pesisir timur Pulau Bali, Anda akan sampai pada satu titik di mana seluruh irama aktivitas bergerak… lebih perlahan.

Setelah melewati pelabuhan Padang Bay,  lalu lintas mulai lengang dan jalan raya empat lajur berpembatas tengah, perlahan membentuk jalan dengan hanya dua lajur mengikuti alur garis pantai, berkelok landai menembus lengangnya suasana kota dan deretan pohon kelapa. Sejumlah perempuan Bali tampak menjajakan ikan segar di tepian jalan, sementara para petani hilir-mudik, pulang dan pergi dari sawah, dengan sepedanya. Banyak pura berdiri di pinggiran kota yang berkontur ini, berselimutkan kehijauan nan menawan serta kemegahan Gunung Agung yang kokoh berdiri,  menjaga pulau ini selama ratusan tahun.

Mungkin terdengar klise, tetapi inilah yang disebut dengan “Bali yang sesungguhnya”, jauh dari hiruk pikuk fasilitas wisata yang terus berkembang, seperti yang terjadi di bagian selatan Bali. Lebih dari sepuluh tahun tinggal di Bali, saya harus menyiapkan energi ekstra untuk sampai ke satu tempat, tetapi khusus untuk daerah ini, Kabupaten Gianyar, Klungkung dan Karangasem,  saya tidak merasakan kepayahan itu.

Memasuki daerah pesisir yang unik, Candi Dasa selalu memberikan pengalaman yang menyenangkan. Toko-toko dan rumah makan berada di kanan dan kiri jalan raya, sementara kolam teratai yang luas di tengah kota menjadi tempat yang tepat untuk bersantai. Sementara di pantai, para penjual sate dan bakso siap menghidangkan makanan enak untuk Anda hanya dengan beberapa ribu rupiah. Jangan lewatkan pula gerobak warna-warni yang menjual jagung bakar. Anda bisa menikmati jagung yang dibakar lalu diolesi bumbu mentega pedas.

Hanya beberapa mil dari Candi Dasa

Setelah melewati jalanan berkelok di tepi pegunungan dengan monyet-monyetnya yang berkeliaran dan panorama indah Selat Lombok, para penikmat hangat mentari bisa bersiap untuk berlibur di Pasir Putih. Dikenal pula dengan nama “White Sand” atau “Virgin Beach”, lokasi permata tersembunyi ini memang agak susah dicari, namun sangat tidak mengecewakan hasilnya bila berhasil mencapai tempat ini. Bayangkan segarnya buah kelapa dan nikmatnya bermandikan sinar mentari. Apalagi air lautnya yang tenang, sangat ideal untuk berenang-renang. Seperti namanya, pasir pantai ini berwarna putih, tampak kontras dengan hitamnya pasir vulkanis yang banyak  terdapat di area sekitarnya.

Untuk sedikit mengenal sejarah masyarakat  Bali, Anda bisa menuju ke desa-desa tua Aga, yaitu Tenganan, Trunyan atau Penglipuran.  Bali Aga adalah nama asli masyarakat Bali, komunitas di pulau ini telah jauh ada sebelum kedatangan Hindu dan cara hidup mereka  tak banyak berubah selama ratusan tahun. Penduduk lokal cenderung tetap tinggal  di desa dan tidak diperkenankan menikahi  orang dari luar desa ataupun bercerai. Artinya, komunitas ini memiliki kekerabatan yang  sangat erat serta memiliki keyakinan, arsitektur maupun budaya yang berbeda dengan penduduk Bali lainnya. Kerajinan bambu dan tenun ikat bisa ditemukan di sini, belum lagi upacara  adat seperti Mekare Kare, yang juga dikenal dengan Perang Pandan.

Kembali ke bagian pesisir, sebuah desa kecil bernama Jasri terkenal dengan pantainya yang cantik berkerikil hitam, pohon-pohon kelapanya yang melambai dan bila sesekali ombak sedang tinggi, ombak yang ideal bagi para peselancar. Berjalan sedikit ke utara, Anda bisa menemukan Charly’s Chocolate Factory. Di sana Anda bisa membeli cokelat hitam buatan lokal serta aneka sabun alami sebelum bermain ayunan yang digantung di antara dua pohon kelapa.

Sama halnya seperti Pasir Putih, untuk menemukan pantai di Jasri ini tidaklah mudah, karena tidak banyaknya papan penunjuk jalan dan, sering kali, malah tidak memiliki papan penunjuk jalan sama sekali. Karena itu ada baiknya Anda menyewa mobil dengan sopir agar bisa diantarkan langsung ke tujuan, atau bisa juga menyetir sendiri mobil rental dan menikmati saat tersesat di jalan, karena kemungkinan Anda malah menemukan pantai sepi hingga serasa  milik sendiri di sepanjang perjalanan.

Di sepanjang pantai berpasir hitam yang terbentang mulai dari Istana Air Taman Ujung hingga Seraya tampak dipenuhi deretan jukung, perahu tradisional khas  Bali, dan pantainya yang sepi itu bisa  menjadi tempat ideal untuk berjalan  kaki. Atau sebagai alternatif, Istana Air  yang tak jauh dari pantai ini bisa menjadi tempat menyenangkan untuk menikmati sejumlah bale di atas air ataupun berjalan  di jembatan cantik berornamen. Dibangun oleh keluarga kerajaan Karangasem pada 1909, Istana Air ini merupakan objek  wisata yang banyak dikenal, namun  rasanya masih jarang dikunjungi.

Dari Istana Air ini, garis pesisir terus berkelok drastis hingga ke pesisir utara Bali dan juga ke daerah berisi desa-desa nelayan bernama Amed. Khas kawasan di daerah Bali Timur, ada aura tenang penuh kedamaian, ditambah suasana menyenangkan, perahu-perahu nelayan yang cantik dan panorama fajar yang menakjubkan. Warna-warni layar dari perahu bercadik yang tertimpa sinar mentari kala melewati tanjung, sungguh menjadi pemandangan yang cantik, secantik taman terumbu karang di bawah laut Amed, yang menarik minat para penyelam untuk menjelajah.

Di sebelah utara Amed, tampak Gunung Agung berdiri. Bagi penyuka petualangan, mendaki hingga ke puncak gunung berapi Bali bisa dimasukkan dalam agenda perjalanan. Ada sejumlah rute pendakian yang bisa dilalui, baik dari Pura Besakih atau Pasar Agung, namun Anda harus menyiapkan diri untuk pendakian yang berat dan menantang, dari mana pun Anda bertolak. Stamina tinggi sangatlah penting, sama pentingnya dengan memiliki pemandu berpengalaman yang memahami betul rute yang akan dilalui. Dalam pendakian ini, pastikan Anda memiliki banyak waktu, sepatu khusus untuk mendaki dan beberapa hari untuk mengistirahatkan badan yang pegal-pegal setelah mendaki.

Sebagian besar pendakian dilakukan  tengah malam karena memerlukan sekitar lima jam untuk sampai di puncak agar  dapat menyaksikan (sekaligus beristirahat) keindahan nan menghipnotis merekahnya fajar. Dari atas puncak gunung lalu memandang ke arah Pulau Dewata  di satu sisi dan Gunung Rinjani Lombok  di sisi lainnya, sungguh satu pengalaman menakjubkan. Namun jangan terlena,  Anda masih harus menghabiskan lima  hingga enam jam yang menantang serta melelahkan untuk kembali ke dasar gunung.

Menjauh dari kaki gunung berapi serta pesisir, Anda akan bertemu dengan kota provinsi yang sibuk, Amlapura, di mana pasar-pasar lokal terbaik Bali Timur ada  di sini. Berbagai produk segar didatangkan ke tempat ini tepat sebelum fajar tiba, sehingga ada baiknya bila Anda datang pagi-pagi sekali guna merasakan puncak ramainya pasar. Cobalah untuk menawar buah, sayur, ikan dan rempah-rempah sebelum membawa pulang sejumlah produk lokal seperti garam krosok, madu hutan dan aneka macam oleh-oleh.

Dengan begitu banyak hal yang bisa dinikmati, Bali Timur sungguh menyenangkan untuk dijelajahi. Tentu masih banyak lagi hal-hal menarik yang bisa dinikmati, karenanya, jangan lupa untuk memasukkan dalam agenda perjalanan yang akan datang. Dijamin, Anda tidak akan kecewa.

From Travel Colours October 2018