IPOH Malaysia’s Hipster Hotspot

Terletak di antara perbukitan kapur di Lembah Kinta, Ipoh berjarak dua jam ke arah utara dari Kuala Lumpur dan berada di jalur kereta api bersejarah yang membentang dari Singapura hingga Bangkok. Kereta Eastern & Oriental Express bergaya awal abad ke-20 berulang-alik di jalur ini, melintasi lanskap tropis nan rimbun.

Perjalanan tersebut menghidupkan kembali “Zaman Keemasan” kereta api jarak jauh, ketika kota-kota penting di sepanjang rutenya terhubung bagai untaian permata, termasuk Ipoh yang dibangun di atas timah. Dulu, Lembah Kinta adalah kawasan penghasil timah paling produktif di dunia dan pada peralihan dari abad ke-19, para pengusaha, penambang serta pedagang tiba dengan kereta api untuk ambil bagian dalam industri ini.

Saya pertama kali mengunjungi Ipoh sekitar sepuluh tahun lalu, satu abad setelah serbuan para penambang timah. Saya turun di stasiun Ipoh yang megah, dan langsung berjalan ke Majestic Station Hotel yang lokasinya bersebelahan. Hotel ini menarik, namun sayang tidak semegah namanya. Saat saya menginap di sana, kondisi hotel yang dibuka tahun 1917, berbarengan dengan stasiun ini, tidak terlalu baik. Lantai marmernya tak lagi berkilau, kipas angin di beranda “loggia” tidak berfungsi dan keran art deco-nya bocor. Walaupun bangunan bergaya Baroque dan Indo-Gothic ini tetap dicintai oleh masyarakat setempat yang menyebutnya sebagai “Taj Mahal” mereka, Majestic terpaksa ditutup selamanya pada 2011.

Kuno Berganti Modern

Untungnya, kondisi Ipoh secara umum sudah jauh membaik. Meski sempat menghadapi masa-masa sulit pada 1980-an ketika industri timahnya kolaps, kota ini tahu caranya bangkit dengan menggali potensi baru.

Seperti yang saya temukan pada kunjungan kedua saya. Kali ini, saya tidak mencari pilar dan kubah megah dari era kolonial. Saya menginap di sebuah hotel berdinding bata ekspos dan balok kayu di kawasan bergaya Brooklyn, di antara ruko-ruko dan bangunan kontemporer di Ipoh Old Town, area seluas satu kilometer persegi di dekat stasiun. Hotel bernama M Boutique ini menghadirkan interior industrial vintage yang berpadu nuansa loteng ala Manhattan.

Kafe di hotel ini diberi nama Old Town White Coffee, nama minuman khas Ipoh yang awalnya diperkenalkan oleh para penambang asal Tiongkok. Disebut “white” karena biji kopinya berwarna putih pucat: dipanggang dengan sedikit margarin dalam waktu yang lama dan tanpa tambahan gula yang memberi rasa molases pada kopi hitam Malaysia (kopi o). Tempat lain yang juga layak disambangi untuk mencoba minuman lokal ini adalah kedai kopi Nam Heong dan Sin Yoon Loong, yang terletak berseberangan. Secangkir kopi putih dan roti panggang isi srikaya adalah santapan para penambang sebelum memulai hari!

Tetapi, kalau Anda lebih suka kopi flat white daripada white coffee Ipoh, Anda bisa singgah di Plan B—kafe restoran yang menjadi bukti bahwa semangat muda bergema lewat dinding-dinding bata dan mortar di Ipoh lama. Sebuah bangunan bekas gudang furnitur terbengkalai yang disulap menjadi ruangan yang shabby dan chic lewat sentuhan retro pada kerangka baja aslinya. Kafe ini menawarkan menu bergaya brasserie, dengan sajian internasional (mulai dari makanan goreng sampai scone Inggris dengan selai dan krim) dan menjadi tempat yang mengasyikkan untuk bersantai sambil meneguk secangkir kopi.

Warisan dan Tren

Seperti halnya kopi putih yang merupakan campuran kopi hitam dan susu kental manis, kopi Ipoh Old Town adalah hasil perpaduan warisan kuliner dan tren. Di sebelah Plan B, ada kedai kopi tradisional Kong Heng yang terkenal dengan popiah (sejenis lumpia), sate jeroan dan kai see hor fun (mi sup ayam). Di lantai atasnya terdapat kamar-kamar tamu yang trendi, bagian dari Sekeping Kong Heng Hotel yang awalnya dibangun sebagai akomodasi untuk para pemain teater opera China yang dulu berdiri di sebelahnya.

Menyusuri Old Town adalah menyaksikan aspirasi dan keragaman Ipoh pada masa kejayaannya. Anda bisa berjalan santai di Concubine Lane untuk melihat bangunan Masjid India (dari tahun 1908), bank HSBC yang cantik (1931), F.M.S. Restoran (1923) dan toko obat herbal Cina, Eu Yan Sang (perusahaan farmasi yang sekarang memiliki 300 cabang di Asia dan Australia ini didirikan tahun 1879 di Gopeng, kota penghasil timah lainnya). Di antara fasad ruko tahun 1920-an dan tembok-tembok bersejarah, Anda akan menjumpai beberapa karya seni jalanan, termasuk mural “Paper Plane” di Jalan Sheikh Adam, dan

“Evolution” di dekat Han Chin Pet Soo, sebuah museum pribadi yang dahulu adalah tempat perkumpulan para penambang Hakka. Museum ini menjelaskan sejarah industri pertambangan timah dan komunitas Hakka di sana.

Ipoh tahu betul potensi ekonominya dan warga kota ini sudah sejak lama memahami arti penting sebuah brand. Kawasan New Town misalnya, telah menyandang nama tersebut sejak pertama kali berkembang sekitar tahun 1910, berlomba dengan Old Town sebagai pusat bisnis di Ipoh. Kini, kawasan itu menjadi destinasi kuliner new-age—dengan frozen yoghurt lounge dan gastropub yang nyaman—serta pasar malam. Di ujung timurnya, ada restoran adik dari kopitiam Nam Heong di Old Town. Di sini, pesanan Anda akan dicatat menggunakan tablet dan diantar oleh satu dari delapan robot pelayan!

Tepat di tengah New Town, ada Aun Kheng Lim yang populer sejak tahun 1987. Sajian andalannya adalah ayam garam yang dibungkus kertas dan dipanggang dalam oven berisi kristal garam panas. Hasilnya adalah daging ayam yang lezat dan empuk, dengan aroma lembut goji dan dong guai (ginseng China).

Ayam memang menjadi makanan favorit di seantero Ipoh. Hidangan ayam lainnya yang juga terkenal di kota ini adalah tauge ayam, yang direndam dalam kaldu (ditambah sedikit kedelai dan minyak) dan disajikan dengan tauge renyah (direbus selama 15 detik). Saat saya menyantap sajian makan siang sederhana namun memuaskan ini di Ong Kee (restoran ini bersaing dengan tetangganya, Lou Wong, yang juga terkenal dengan tauge ayam), seorang pria lansia menepuk bahu saya. “Kamu tahu tidak,” ia tersenyum, “kamu bisa merebus ayam dengan air keran biasa dan rasanya sama enaknya.” Ia melirik ke sekeliling, seolah ingin menjaga rahasianya. “Kuncinya adalah kandungan mineralnya.”

Setinggi Gunung, Sedalam Gua

Air tanah juga diklaim sebagai kunci kelezatan mi hor fun yang terkenal di Ipoh—dan sangat penting dalam produksi bijih timah yang menjadikan kota ini pusat kekuatan di era kolonial. Air inilah yang digunakan untuk menggiling bijih timah yang terkandung di bawah tanah di sekitar perbukitan kapur sampai ke sebelah timur kota.

Meski air tanah membutuhkan waktu bertahuntahun untuk disaring melalui perbukitan, hasilnya jernih dan kaya mineral serta basa. Selama ribuan tahun, air ini mengikis dataran tinggi batu kapur menjadi lanskap karst yang menakjubkan dengan gua-gua yang dikelilingi hutan. Di gua-gua ini,umat Buddha dan Tao mendirikan sekitar 30 kuil. Selain itu, terdapat mural dan lukisan gua yang sangat menarik, seperti seni Neolitik di Gua Tambun atau grafiti pemberontak komunis dari tahun 1950-an di Gua Tempurung. Sementara, di Banjaran Hotsprings Retreat yang kontemporer dan berlokasi di sekitar danau yang dikelilingi tebing kapur, gua-gua diubah menjadi tempat pemandian uap panas, ruang meditasi dan bahkan restoran dan bar.

Menjelajahi gua dan kuil tersebut pasti membuat perut lapar—dan itu tandanya Anda harus kembali ke Old Town untuk menikmati bermacam hidangan yang lebih lezat lagi. Melintasi jalan-jalan di kota yang selalu menarik ini, terlihat jelas bahwa zaman keemasan timah di Ipoh akan selalu dikenang, tetapi budaya urban yang kian dinamis menjadi pertanda baik untuk masa depannya.

From Travel Colours October 2018