Shanghai

 

Dengan bentang alamnya yang berbukit, diselimuti hutan bambu, perkebunan teh subur dan bermacam hotel ramah lingkungan elegan, Moganshan adalah pilihan terbaik untuk menikmati kehijauan di Shanghai.

Pada awal pagi, udara membubung ke atas lereng Gunung Mogan setinggi 720 meter, membawa aroma bambu dan teh yang menyegarkan. Kontur Pegunungan Tianmu membentang ke cakrawala bak lautan hijau dan biru yang berkabut, sementara suara seseorang memotong bambu sesekali terdengar di sekitar lereng. Meski tempat ini hanya berjarak dua jam dari kota pencakar langit Shanghai, tak satu pun bangunan terlihat di sini.

Taman Nasional Moganshan, sebuah oasis yang sejuk dan tenang seluas 43 km2, menawarkan keteduhan di tengah teriknya musim panas di Shanghai (dan selalu menarik untuk dikunjungi sepanjang tahun). Mudah diakses dari Kota Hangzhou di selatan, taman ini menjadi destinasi akhir pekan yang populer di kalangan turis lokal maupun internasional. Dengan sejumlah resor eksklusif baru dan hotel-hotel kelas menengah, Moganshan menawarkan relaksasi serta pengalaman kembali ke alam, menikmati keindahan. Tak heran, daerah ini dijuluki “The Hamptons of China”.

Mereka yang baru sekali melihat keindahan Moganshan mungkin akan merasa dirinya trendsetter. Tetapi sebenarnya, tempat ini sudah sejak lama dikunjungi.

“Saya selalu berpikir kisah menarik Moganshan sedikit mirip dengan kisah Tiongkok selama 150 tahun terakhir,” kata pemandu lokal Chen Xi, sambil mengedipkan mata. Sekarang, orang-orang kosmopolitan datang mencari ketenangan, menjauh dari hiruk pikuk kehidupan.”

Kejayaan Masa Lalu

Lebih dari seratus tahun lalu, bukit hijau Moganshan adalah destinasi para ekspatriat di Shanghai saat musim panas tiba. Berbekal jaring kupu-kupu dan botol kaca, ahli botani dan pengamat burung lebih dulu menjejakkan kaki di sini untuk mencari spesies baru. Tak lama setelah itu, misionaris-misionaris asing yang berbasis di Shanghai, bersama keluarga mereka, membangun vila-vila musim panas di daerah beriklim sejuk ini.

Pada 1930-an, rumah-rumah batu mulai menghiasi lereng Moganshan, lengkap dengan kolam renang pribadi, lapangan tenis, dua gereja, toko buku, toko roti, bioskop di puncak bukit, bank dan bahkan sebuah kastil.

“Moganshan adalah tempat meleburnya berbagai kalangan, bahkan lebih beragam dari Shanghai masa kini,” kata Chen Xi. “Politisi kelas kakap dan pengusaha Eropa melebur dengan pendeta terkenal, mereka semua disatukan oleh kecintaan pada alam nan subur ini.”

Resor-resor Pertama

Kini, setelah beberapa dekade meredup, Moganshan kembali membangun namanya. Sejumlah vila yang masih bertahan diubah menjadi hotel butik dan pondok penginapan baru. Resor lainnya dibangun dengan elegan dari batu, bambu dan material hijau lokal lainnya.

Akomodasi paling menarik adalah Le Passage Mohkan Shan, sebuah hotel pedesaan bergaya Prancis yang dikelilingi perkebunan teh. Para tamu bisa berjalanjalan di kebun mawar yang terawat indah atau menyegarkan diri di kolam renang air asin. Lantai ubin mosaik antik, perabotan Prancis dan gambar-gambar adegan bersejarah di hotel ini menunjukkan kejayaan dan keindahan di masa lalu.

Penginapan lain yang juga populer adalah naked Stables, bagian dari jaringan resor naked Retreats yang ramah keluarga dan memadukan alam, kesinambungan serta kemewahan. Dibuka pada akhir 2011, naked Stables terdepan dalam menjaga lingkungan. Resor ini memakai pemanas matahari, mendaur ulang air dan mengompos limbah restorannya, sementara pertanian organik dan perkebunan tehnya menyuplai produk segar untuk para tamu.

“Ini resor pertama di Moganshan, bahkan mungkin di Tiongkok, yang benar-benar ramah lingkungan,” kata Marco Militzer, general manager naked Stables. “Kami menjaga dampak terhadap lingkungan serendah mungkin. Sebab, alam adalah daya tarik utama kami di sini.”

Memang, Moganshan tempat yang sempurna untuk menikmati alam Tiongkok. Dengan akses jaringan jalur yang diberi papan petunjuk lengkap, lereng hijaunya sangat ideal untuk pendakian dan berkuda. Tersedia juga beragam pilihan aktivitas yang lebih ringan di naked Stables, seperti berenang, kaligrafi, yoga, membuat tembikar dan bermain layang-layang.

Selain itu, Moganshan juga menjadi surga bagi para pesepeda. Musim gugur dan musim semi adalah waktu terbaik, tetapi Anda bisa bersepeda melintasi daerah ini hampir sepanjang tahun. Untuk Anda yang suka tantangan, lintasi pegunungan dan jalan tanah yang curam melewati hutan bambu. Bila ingin bersepeda santai, pilih jalan-jalan beraspal dan landai mengitari waduk yang indah, yang menghubungkan desa, lahan pertanian dan kuil-kuil.

Tak hanya tamu asing, penduduk Shanghai pun sangat menyukai keindahan Moganshan

“Makin banyak orang Tiongkok yang datang untuk istirahat dari sibuknya kehidupan perkotaan,” kata Marco. “Mereka sangat menghargai keindahan tanah pedesaan Moganshan. Bahkan, beberapa tamu kami tidak pernah melihat kuda sebelumnya.”

Gerisik Hutan

Pagi-pagi sekali, pemotong bambu Li Keyuan berjalan melintasi hutan yang menggerisik.Batang-batang bambu berayun tanpa henti ditiup angin lembut, dan berderit saat bergesekan. Sinar matahari pagi menembus kanopi hutan, menerangi lantainya yang diselimuti daun

Tidak ada yang bisa menyamai rasanya berada di hutan bambu, namun Li sepertinya sudah terbiasa. Menggunakan peralatan tradisional dari batang bambu tua, selotip dan pisau berbentuk bulan sabit, penduduk asli Moganshan itu bersiap memotong bagian paling atas dari bambu yang sudah tua.

“Keluarga saya sudah lebih dari 60 tahun menanam bambu di sini,” cerita Li. “Pada batang bambu, Anda bisa melihat aksara dan angka. Aksara menunjukkan siapa pemilik pohon bambu, sementara angka menunjukkan usianya.”

Selain teh, bambu adalah hasil alam paling penting di Moganshan. Meski jenis bambu tertentu bisa tumbuh hampir satu meter setiap hari, pertumbuhan ini hanya berlangsung pada musim semi. Di Moganshan, bambu digunakan untuk membuat segala macam, mulai dari perancah, keranjang, sumpit, sampai untuk tumisan dan sup yang disajikan di tempat-tempat wisata. Mereka yang ingin tahu lebih banyak tentang tanaman ini bisa datang ke museum bambu yang dekat dengan Moganshan, di mana sekitar 400 varietas bambu dibudidayakan.

Pencinta film juga akan tertarik mengetahui Moganshan adalah lokasi syuting adegan menakjubkan dalam film box-office tahun 2000, Crouching Tiger, Hidden Dragon. Dalam adegan itu, Chow Yun-fat dan Zhang Ziyi terbang di atas pepohonan bambu yang bergoyang. Pengunjung pun akan merasakan sensasi bagai melayang di udara setelah menghabiskan beberapa hari di tempat yang indah ini

From Travel Colours November 2018