Didiet Maulana : Fashion Takes Flight

Desainer Didiet Maulana bagai menemukan pasangannya ketika diminta berkolaborasi untuk merancang seragam tematik yang akan dikenakan oleh flight attendant Garuda Indonesia.

Interview by Megiza

“Kita sama-sama membawa nama baik mempromosikan Indonesia. Menurut saya kolaborasi ini bisa menjadi titik awal untuk Garuda Indonesia dan saya untuk melakukan pengembangan dari perspektif budaya,” ujar Didiet.

Pria kelahiran Jakarta 38 tahun silam ini menceritakan karya yang dia ciptakan untuk penerbangan khusus (special flight) Garuda Indonesia digodok hanya dalam waktu satu bulan. Didiet mengambil tema untuk desain khusus itu dari berbagai riset tentang busana Indonesia yang telah dilakukan selama beberapa tahun belakangan. Menariknya, proses diskusi dengan Garuda Indonesia untuk desain busana istimewanya kali ini dilakukannya saat dia berada di Negeri Sakura. “Menjadi menarik karena jadi seru mendapat insight dari travelling,” ungkap Didiet.

Desainer yang pernah mendapat kesempatan merancang tas yang dihadiahi kepada selebritas dunia pada gelaran Grammy Awards 2016 lalu ini memaparkan konsep desain busana spesial untuk Garuda Indonesia sebagai rancangan bertema Asmaranala Puspa Nusantara. “Karena Puspa itu kan bunga, jadi diharapkan ketika dipakai akan merepresentasikan keindahan tidak hanya perempuan Indonesia, tapi dari budaya kita juga,” tutur Didiet

Pemilik rumah busana IKAT Indonesia itu mengungkapkan cutting busananya kali ini menukil konsep dari sayap burung Garuda, khususnya di bagian lengan, dengan detail-detail dari tenun yang juga sudah menjadi identitas dirinya. “Sehingga bagian tenun akan tersingkap ketika flight attendant memberi servis pada penumpang. Bagi saya, sesuatu yang tersembunyi akan lebih menarik perhatian,” tukas dia.

Kemudian, pada bagian perut, Didiet memadukan ikatan yang terinspirasi dari Senteng, atau kain yang mengikat dan menutupi pinggang yang biasanya dikenakan sebagai kelengkapan busana adat Bali. Senteng yang dikenal sebagai lambang hubungan anak dengan ibu, serta hubungan manusia dengan Tuhan, menjadi wujud harapan penggunanya untuk selalu mengingat diri sebagai manusia yang harus rendah hati dan saling menghargai sesama manusia.

Kemudian pada bagian kain, Didiet juga menggunakan tenun khas Nusantara dengan shade warna yang cantik, dan berbentuk seperti sayap pada bagian bawah. “Karena penumpang Garuda Indonesia tidak hanya dari Indonesia, tapi juga internasional, karenanya ini menjadi
cara pengenalan budaya yang baik,” tutur Didiet.

Dengan kolaborasi ini, Didiet berharap akan ada kolaborasi lain dengan Garuda Indonesia yang tidak hanya mengangkat budaya, namun juga turut membantu pengrajin seperti pembuatan suvenir khusus yang dibuat dari berbagai kain tenun.