ARIES SUSANTI RAHAYU THE INDONESIAN SPIDERWOMAN

Mendapat julukan Spiderwoman dari Indonesia, Aries menjadi pemberitaan di berbagai media pada bulan Mei ketika ia memenangkan medali emas di kategori women speed pada kejuaraan International Federation of Sport Climbing (IFSC) World Cup yang dilangsungkan di Chongqing, Tiongkok. Sukses memanjat hanya dalam waktu 7,51 detik, Aries mengalahkan Elena Timofeeva dari Rusia yang menjadi juara dua hanya dengan selisih waktu sekitar 1 detik lebih.

Interview by Yani Lauwoie

Wajar saja bila wanita berusia 23 tahun yang berasal dari Jawa Tengah ini tidak menyangka bisa memenangkan kejuaraan dunia untuk pertama kalinya. “Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan seperti apa perasaan saya. Saya merasa sangat bersyukur,” katanya sambal menambahkan bahwa ia tidak mungkin bisa melakukannya tanpa dukungan dari tim Indonesia.

Kemenangan Aries hadir seiring dengan olahraga panjat tebing yang makin mendapatkan pengakuan di dunia internasional—olahraga ini secara resmi telah dikonfirmasi sebagai olahraga tambahan untuk Olimpiade Tokyo 2020 dan memvalidasi keputusan Aries untuk pindah jalur dari olahraga atletik menjadi panjat tebing. “Saat saya duduk di bangku sekolah dasar, saya mengikuti berbagai kompetisi atletik tapi tidak pernah menang Saat gagal, jangan menyerah: terus berusaha dan berikan yang terbaik, banyak berdoa dan momen keberhasilanmu akan datang suatu hari nanti. sampai tingkat provinsi, jadi saya beralih ke panjat tebing ketika saya masuk SMP,” dia menjelaskan. Aries menghargai guru olahraganya yang telah mendorongnya melakukan perubahan tersebut.

Sejak ia mulai mendaki pada tahun 2007, Aries mendedikasikan diri terhadap gairah barunya tersebut. Ia mulai mengikuti kejuaraan panjat tebing di tahun 2008 dan tidak pernah berhenti sejak saat itu. Ia telah memenangkan berbagai medali perak, perunggu dan emas, baik secara individu maupun tim di kejuaraan panjat tebing tingkat nasional, Asia dan dunia.

Mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah, Semarang ini berkata bahwa setiap kompetisi memiliki kesan tersendiri, tapi kenangan yang paling luar biasa adalah ketika ia dan tim panjat tebing Indonesia dengan bangganya bisa mengibarkan bendera merah putih di Chongqing.

Sebagai seorang atlet, Aries sadar benar bahwa tidak selamanya dia bias berada di puncak. Satu minggu setelah memenangkan medali emas di Chongqing, kakinya tergelincir saat ia mengikuti kompetisi IFSC Climbing World Cup berikutnya yang dilangsungkan di Tai’an, kota lainnya di Tiongkok. Ia pun harus puas hanya bisa memenangkan medali perunggu.

Meskipun merasa kecewa, semangatnya tetap tinggi dan ia terus berkomitmen untuk selalu memberikan yang terbaik pada setiap penampilannya. “Seperti idola saya, Etty Hendrawati (mantan juara panjat tebing tingkat dunia) dan Aspar Jaelolo (rekan sesama atlet panjat tebing), saya memiliki semangat pantang menyerah,” ucapnya.

Colours berbincang dengan Aries saat ia sedang mempersiapkan diri untuk kompetisi besar berikutnya, yaitu Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus hingga 2 September 2018. Dia berkata bahwa ia telah mempraktikkan semua pelatihan yang diajarkan pelatih kepadanya dan tidak lupa untuk berdoa. Ritual lain yang ia lakukan sebelum berkompetisi adalah bercengkerama dengan orang tuanya. “Saya selalu meluangkan waktu sebelum pertandingan untuk berbicara dengan orang tua saya dan meminta restu mereka sehingga saya bisa memberikan yang terbaik dalam pertandingan,” ungkapnya.

Latihan tanpa akhir dan tekanan saat berkompetisi tentu membuat kehidupan seorang atlet tidak mudah. Meskipun demikian, Aries menekankan bahwa saat ini ia melakukan hal yang benar-benar ia cintai. Bukan hanya karena bias memenangkan medali, tapi juga karena ia menemukan teman-teman baru melalui olahraga panjat tebing.

Aries ingin berkontribusi lebih kepada Indonesia dengan terus memenangkan berbagai kompetisi tingkat internasional, dan bila suatu hari nanti tidak bias bertanding lagi, ia ingin menjadi seorang pelatih. Saya ingin melatih generasi selanjutnya, sehingga paling tidak mereka bisa merasakan berkompetisi di tingkat internasional,” tuturnya. Dia juga mendorong para pendaki baru untuk tetap gigih. “Saat gagal, jangan menyerah. Terus berusaha dan berikan yang terbaik, banyak berdoa dan momen keberhasilanmu akan datang suatu hari nanti.”

Aries mengakhiri wawancara kami dengan mengingat momen istimewa bersama Garuda Indonesia. Ketika terbang pulang dari kejuaraan dunia di Tiongkok, awak kabin memberikan hadiah kepada Aries dan rekan-rekan atlet dalam timnya sebagai penghargaan atas prestasi yang diraih mereka. Akhir yang sempurna setelah periode kompetisi yang sangat ketat. Tidak diragukan lagi, kita akan mendengar lebih banyak lagi tentang atlet muda yang penuh tekad ini karena ia akan terus melanjutkan pendakiannya.
From Colours SEPTEMBER 2018