Ronny Gani : Superhero Behind the Scenes

Menonton petualangan Captain America dan superhero lainnya dalam film Avengers: Endgame, banyak penonton tidak menyadari bahwa ada kontribusi dari animator Indonesia di dalamnya. Ia adalah Ronny Gani, satu dari tim animator berbakat untuk film yang hits di dunia itu.

Interview by Vikaria Lestari

Walau kesukaannya menggambar dan membaca komik biasa dilakukan sejak kanak-kanak, Ronny sendiri tidak pernah membayangkan dirinya akan menjadi seorang animator profesional. Namun demikian, begitu lulus dari Universitas Indonesia, jurusan arsitektur, Ronny mulai menyadari bahwa pilihan kariernya bukanlah menjadi seorang arsitek.

Kesadaran untuk meniti jejak karier
yang berbeda dengan jurusan yang diambilnya, berawal dari perkenalan Ronny dengan perangkat lunak 3D untuk visualisasi desain, di semester akhir kuliahnya. “Rasa tertarik yang semakin besar itu membuat saya memutuskan untuk belajar secara autodidaktik,” ungkap Ronny. Ia pun menghabiskan waktu sekitar enam bulan untuk mempelajari sendiri segala hal tentang animasi sebelum kemudian mendapatkan pekerjaan pertamanya di Batam, Indonesia. Setelah genap setahun bekerja di sana, Ronny lanjut mengambil sejumlah proyek guna lebih mengasah kemampuannya. Ia pun sempat magang untuk proyek televisi di Singapura, salah satunya adalah serial Star Wars yang tayang pada Cartoon Network.

Bekerja pada perusahaan Visual Effects (VFX) membawa Ronny, yang kini menjabat sebagai animator senior, bertemu dengan film-film Hollywood papan atas. Hasil karyanya pun tampil pada sejumlah film seperti The Avengers (2012), Pacific Rim (2013), Transformers: Age of Extinction (2014), Avengers: Age of Ultron (2015), Warcraft (2016), The Great Wall (2017), Avengers: Infinity War (2018) dan banyak lagi.

Ketika ditanya, dari sekian film yang pernah dikerjakan, film manakah yang memiliki kesulitan terbesar dalam pengerjaan animasinya, Ronny menjelaskan bahwa setiap film memiliki kompleksitasnya masing-masing, tergantung dari tokoh dan performanya. Baik itu robot raksasa, kaiju ataupun manusia sebesar semut, setiap animasi yang dibuat tentunya memiliki physicality-nya masing- masing. “Tapi saya tidak pernah melihat kesulitan sebagai hambatan. Saya justru melihatnya sebagai kesempatan untuk menggali lebih dalam ide dan kreativitas,” ujar pria yang kini berdomisili di Singapura ini.

Guna membantu anak muda berbakat lainnya yang tertarik dengan animasi, Ronny pun mendirikan kursus animasi daring pada 2014. Lewatbengkelanimasi.com and @bengkelanimasi di Instagram, Ronny membuka akses informasi dan pengetahuan bagi mereka yang tertarik meniti karier di bidang animasi. Para tutor yang mengajar di kursus tersebut juga merupakan animator dari studio besar sehingga ilmu yang diterima peserta didik sejalan dengan apa yang dibutuhkan oleh dunia industri.

Bagi Ronny, kunci suksesnya dalam industri yang kompetitif ini tidak lepas dari filosofi yang dipegangnya, yaitu selalu berusaha memberikan yang terbaik. “Kenali dulu siapa diri Anda dan apa yang ingin Anda capai dalam hidup ini,” ujar Ronny. “Karena saya yakin ketika Anda sudah menemukan jawaban, Anda akan berusaha merealisasikannya dengan penuh semangat,” tutupnya.