Archipelago Journal

Perjalanan ke Taman Nasional Togean memang butuh waktu dan tenaga ekstra. Dari Jakarta, saya terbang dahulu ke Kota Palu, kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Kota Ampana, baru saya bisa menyeberang menggunakan kapal ke Kepulauan Togean.

Togean terletak di Teluk Tomini, jadi sebetulnya bisa diakses dari beberapa tempat yang mengapitnya yaitu Sulawesi Tengah, Gorontalo, ataupun Sulawesi Utara. Namun jalur yang paling populer adalah lewat kota Ampana dan Gorontalo.

Berada di dalam segitiga terumbu karang, area geografis di mana konsentrasi keragaman terumbu karang terbesar di dunia berada, bukan hal yang mengejutkan bila Kepulauan Togean adalah magnet pada penyelam. Ada banyak sekali titik penyelaman di sini. Namun, yang paling terkenal adalah titik penyelaman bernama Una-Una, di mana ukuran terumbu karang di sini bisa dibilang raksasa. Terumbu karang jenis hard coral maupun soft coral terlihat sehat di sini.

Warna ikan dan terumbu karang berwarna warni terlihat sangat kontras dengan latar biru dari dasar laut. Visibilitas tinggi membuat kita bisa melihat banyak sekali ikan termasuk barakuda ekor hitam yang sedang schooling, ikan marlin biru, penyu hingga hiu paus juga bisa kita saksikan berkeliaran di sini jika beruntung.

Kepulauan togean punya enam pulau besar dan 60 pulau kecil. Selain menyelam dan snorkelling, kita juga bisa berkunjung ke pulau yang dihuni warga.

Di sela-sela sesi penyelaman, saya sempat berkunjung ke sebuah pulau bernama Pulau Papan. Saat kapal saya merapat di dermaga, saya disambut oleh anak-anak desa pulau papan. Mereka nampak sangat bersemangat minta diambil fotonya ketika saya mengeluarkan kamera. Tak lama kemudian, mereka menggandeng dan mengajak saya berkeliling kampung. Saya dan beberapa kawan merasa seperti tamu kehormatan ketika mereka menggandeng tangan saya untuk menyapa para warga Pulau Papan.

Saya kemudian dibawa ke Puncak Batu Karang, titik tertinggi pulau ini yang punya panorama 360 derajat sekeliling pulau. Dari atas sini, saya melihat dermaga yang panjang sekali. Setelah saya perhatikan, ternyata itu bukan dermaga, melainkan jembatan ke pulau di sebelah! Saya dibuat takjub oleh jembatan ini yang berdiri di atas laut dangkal sehingga terumbu karang dan ikan-ikan terlihat jelas. Panjangnya hampir satu kilometer, menghubungkan Pulau Papan dan Pulau Malenge.

Jembatan ini tak lebar, hanya cukup untuk dua sepeda motor yang berpapasan. Beberapa warga juga nampak santai duduk di tepian jembatan menikmati angin semilir sore. Anak-anak terlihat berlarian ke sana-sini di sekitar jembatan ini.

Pulau Papan adalah salah satu pemukiman suku Bajo. Mereka terkenal dengan hidupnya yang nomaden di atas kapal. Kebanyakan dari mereka sudah tak berpindah-pindah lagi. Namun, mereka tidak menetap di daratan, melainkan di rumah panggung yang berdiri dengan tiang-tiang pancang di atas karang.

Beberapa orang tampak menggunakan ponsel mereka di atas Puncak Bukit Karang. Mereka mengangkat ponsel ke udara seperti kesulitan mencari-cari sinyal seluler. Usut punya usut, walaupun di pulau ini tidak ada sinyal, tapi jika Anda naik ke puncak bukit ada kemungkinan ponsel bisa digunakan. Walaupun hanya bisa digunakan untuk menelepon atau mengirim SMS. Tapi Anda tidak perlu Netflix di surga ini.

Begitulah keadaan di Kepulauan Togean, selain sulit sinyal telepon seluler, di beberapa pulau juga belum ada listrik dan air. Seperti di resort tempat saya menginap di Pulau Katupat, listrik dengan generator hanya menyala dari jam 5 sore hingga jam 11 malam. Selebihnya, selain island hopping, saya lebih memilih untuk bersantai di hammock sambil membaca buku.

Saya juga sempat mengunjungi Danau Mariona. Danau di mana terdapat ubur-ubur tak menyengat. Di danau ini, mereka tidak memiliki predator. Hal ini membuat mereka berevolusi sehingga sengat ubur-ubur ini menghilang. Melihat ke dalam danau, rasanya sedang berada di dunia lain penuh dengan alien. Ada yang berwarna oranye, berwarna putih, hingga berwarna transparan. Berenang di sini rasanya seperti diawasi beribu pasang mata.

Pemandu wisata saya mengingatkan untuk berenang tanpa kaki katak di sini. Karena tubuh ubur-ubur ini sangat rapuh. Bisa saja kita menghancurkan mereka tanpa sadar saat kita berenang. Penggunaan tabir surya juga sebaiknya dihindari, karena bisa ikut merusak habitat ubur-ubur. Tentu saja kita bisa berfoto dengan mereka selama tidak menyentuhnya.

Setelah dari Danau Mariona, kapal saya merapat ke pantai di sebelah dermaga untuk makan siang di pantai berpasir putih bernama Pantai Karina, sebelum melanjutkan ke penyelaman berikutnya. Kapten kapal kami memanjat pohon kelapa dengan cepat dan memberikan kami buah kelapa segar untuk menemani makan siang.

Banyak hal yang bisa kamu lakukan di Taman Nasional Togean. Mulai dari menyelam, snorkelling, hingga berinteraksi dengan penduduk lokal. Namun jika Anda memilih untuk tidak melakukan apa-apa dan hanya bersantai di pinggir pantai, itu juga merupakan pilihan yang tidak salah. Suasana yang tak bising, udara bersih, pantai cantik, dan tidak akan ada email pekerjaan yang masuk sudah jadi cukup alasan untuk berlibur sambil menyepi ke Togean.

Jakarta to Kuala Lumpur


Waktu Penerbangan dari  Jakarta adalah 3 Jam 10 menit.

Frekuensi Penerbangan 7 Kali Seminggu Ke  Gorontalo.

Book Now

icon_sight

5 Senses – Sight
Mariona Lake

Danau dengan ubur-ubur tak menyengat ini hanya ada beberapa di dunia. Salah satunya ada di kawasan Taman Nasional Togean ini. Tak jauh dari danau, ada juga pantai berpasir putih bernama pantai karina. Tempat ini cocok untuk makan siang sambil menikmati air kelapa segar langsung dari pohon.