Samarinda

Kerajaan patah tumbuh dan berganti di sepanjang aliran Sungai Mahakam. Fatris MF dari Colours mengeksplorasi sejarah budaya di sekitar kota tepi sungai, Samarinda.

Words by Fatris MF

Dari jendela pesawat yang setengah buram saya melihat hutan hijau dan perkebunan luas. Di antara warna hijau dan kuning itu sungai lebar mengalir seperti ular raksasa mengibaskan ekor, membentang panjang membelah perkotaan dengan bangunan yang rapat. Saya membayangkan kehidupan di sepanjang sungai itu.

Tak lama, pesawat saya mendarat di Samarinda, ibu kota Kalimantan Timur dan kota terbesar di pulau ini. Kota ini dibelah oleh Sungai Mahakam, sungai penuh mitos yang berhulu di Gunung Cemaru yang terletak di tengah pulau, mengalir sepanjang 900-an kilometer hingga ke Teluk Makassar

Pagi hari, pemandu saya, Muhammad Nur, 33 tahun, membawa saya ke sebuah kampung di pinggir kota. Hari itu hari Minggu, kampung tersebut terlihat sepi, hanya satu dua orang yang lalu lalang. Saya meniti tangga kayu untuk masuk ke sebuah rumah panggung yang luas, di mana saya bertemu Pajang Apui, lelaki 94 tahun yang tampak terkantuk-kantuk di bangku kayu di ruang tengah lamin, rumah adat masyarakat Dayak Kenyah. Angin pagi bertiup dari utara, menelisik hingga ke dalam rumah. Di halaman, terlihat lelaki tua lainnya, Pui Pesim berjalan gontai, kemudian menaiki tangga lamin. Ia tersenyum dan duduk di samping saya dan Pajang Apui.

“Sebentar lagi, kami akan menari, kamu jangan ke mana-mana,” kata Pui Pesim tersenyum. Ia mulai membenarkan baju adat yang ia kenakan, memasang beragam pernak-pernik dan ikat kepala. Sebilah mandau, senjata tradisonal legendaris suku ini, telah terpacak di pinggangnya. Ia duduk kembali dan belum juga ada tanda-tanda kalau lelaki tua ini hendak menari.

Dari tangga samping, perempuan-perempuan tua masuk menggendong keranjang rotan di punggung mereka. Kepala mereka diikat tapong, anyaman pandan berduri yang digunakan sebagai ikat kepala untuk perempuan. Sebagian dari mereka memiliki tangan dan kaki yang dihiasi tato tradisional.

“Ini dari nenek moyang kami dulu di Apo Kayan,” kata Plampang memperlihatkan tangannya kepada saya. Tatahan arang pada kulitnya, berbentuk motifmotif dan relung-relung purba. Tato merupakan bagian dari ritual budaya Dayak. Restituta Driyanti dalam tulisannya ‘Makna Simbolik Tato Bagi Masyarakat Dayak’ menyebutkan, tato juga berfungsi menunjukkan status sosial si pemakainya.

“Hampir semua penduduk di desa ini berasal dari Apo Kayan. Tempat ini harapan terakhir,” kata Pui Pesim. Lelaki tua itu lantas bercerita bagaimana ia dan keluarganya mengembara dengan perahu, mencari tempat baru yang jauh dari tanah kelahirannya di Apo Kayan, daerah utara yang berbatasan dengan Serawak, Malaysia Hingga pada akhirnya, mereka menetap
di daerah yang sekarang dinamai Desa Budaya Pampang, desa di pinggiran Samarinda, yang terpisah 25 kilometer dari pusat kota yang sibuk.

Denting suara sampe, instrument petik tradisional Dayak, membahana. Rumah panggung yang tadi sepi, telah dipenuhi oleh hampir 300 tamu dari berbagai provinsi, termasuk beberapa turis asing. Pui Pesim memulai tariannya diiringi sampe. Lancit Lasan, begitu tarian itu dinamakan. Tarian pembuka ini dimaksudkan untuk menjauhkan hal-hal buruk yang mengganggu manusia. Setelah itu, Emi Liana Ladeq menari. Di tangan gadis itu, bulu enggang melambai-lambai, sementara kakinya merentak pelan menghantam lantai papan, dan manik-manik di bajunya berkilauan diterpa sinar lampu. Tatapannya tenang, bagai sorot mata moyangnya dalam rekaman hitamputih video-video kolonial. Liana selesai menari, dan saya yang duduk di bangku kayu terkesima melihatnya. Usai Liana, tarian remaja, anak-anak dan perempuan tua menyusul. Tarian perang, tarian perdamaian, tentang perjalanan mereka dari tanah kelahiran Apo Kayan, menyisiri Sungai Kayan, hingga ke Sungai Mahakam, sampai bermukim dan menetap di kampung ini. Mereka menarikan apa saja di atas rumah adat yang dibangun secara tradisoinal ini. “Hidup di sini seperti cerita dalam sebuah tarian saja,” kata Liana.

“Datanglah tiap hari Minggu ke sini, kamu bisa melihat saya menari. Dan saya akan terus menari,”Liana berbisik. Gelap mengambang di cakrawala. Muhammad Nur membawa saya beranjak dari Pampang menuju gemerlap Samarinda. Saya meninggalkan Pajang Apui, Pui Pesim, juga Liana. Esoknya, saya menenangkan diri di Air Terjun Tanah Merah, lalu berpindah ke air terjun Berambai. Betapa, Samarinda ternyata memiliki destinasi yang beragam.

Pada hari yang lain, saya duduk di tepi Sungai Mahakam, melihat kapal-kapal sarat muatan batu bara dan biduk-biduk kecil lalu lalang. Saya beralih ke sebuah dermaga tempat kapal-kapal kecil ditambatkan. Pesut Etam sebentar lagi akan berangkat. Kapal dengan dua dek ini akan membawa saya dan seratus wisatawan lainnya mengarungi Sungai Mahakam.

Pesut Etam berlayar sudah. Kapal ini membelah sungai saat senja memacak dan lampu-lampu kota mulai menyala. Dari posisi kami di tengah sungai, Samarinda terlihat bersinar oleh lampu yang memantul di riak sungai. Pesut Etam terus melayari sungai, melewati Jembatan Mahakam yang berwarna-warni. Tak terasa, dua jam kami berlayar dan Pesut Etam kembali merapat di dermaga. Saya bisa membayangkan bagaimana riuhnya saat Festival Mahakam digelar di kota ini pada minggu pertama November (tahun ini tanggal 1-3 November). Tidak terbayang betapa ramainya Sungai Mahakam dengan perahuperahu kecil, serta beragam tarian yang digelar di kota ini.

Pada malam hari, ketika gerimis turun menyirami kota, saya termangu di sebuah kafe yang terletak di ketinggian, melihat kota yang penuh lampu, dan sungai yang samar berkelok panjang hingga ke hulu yang tak terlihat. Wilayah, yang dulunya bagian dari Kerajaan Kutai Kartanegara pada awal abad ke-14 di Kutai Lama, ini telah tumbuh menjadi sebuah kota bersar dan sibuk. Saya kembali duduk di pinggir Mahakam, memandang dari jauh lampu-lampu yang berkilauan seperti manik-manik di baju Liana. Riak sungai menghempas pelan, dan saya membayangkan Liana menari, saya membayangkan Pui Pesim dan apa yang dikatakannya kepada saya bahwa Samarinda adalah Tanah Harapan.

Jakarta to Samarinda


Flight Time2 hours, 30 Minutes

Frequency 14 flights per week

Book Now

From Colours November 2019

icon_taste

5 Senses – Taste
Seafood

Pepes kepiting,
kepiting asap, ikan
bakar patin, semuanya
akan memanjakan lidah
Anda. Jenis kepiting
yang digunakan adalah
kepiting soka. Diracik
dan dimasak dengan
daun kemangi,
serai, cabai, ditambah
beragam rempah khas
Samarinda untuk
menciptakan rasa
yang segar dan gurih.
Pepes kepiting direbus
terlebih dahulu, kemudian
dibakar dan dibumbui.