Saumlaki

Sebagai salah satu wilayah terluar Indonesia, Kepulauan Tanimbar menawarkan pantai berkarang, panorama bawah air yang brilian dan warisan budaya yang kaya dan beraneka ragam. Untuk Colours, Yogi Ishabib menjelajahi Kota Saumlaki dan sekitarnya.

Words Yogi Ishahib

Begitu tiba di Bandara Mathilda Batyaleri, saya langsung disambut oleh Pierre Temmar, kawan yang mengundang dan akan memandu saya selama di Saumlaki

Humor ringan yang meluncur darinya membuat senyum saya terkembang. “Selamat terdampar,” katanya sambil membuka lengan lebar-lebar. Orang-orang Saumlaki dan penghuni gugusan pulau sekitarnya dikenal sebagai suku Tanimbar yang berasal dari kata tnebar yang berarti terdampar.

Sebutan “terdampar” mungkin ada benarnya. Saumlaki yang terletak di Kabupaten Kepulauan Tanimbar ini adalah kawasan terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Australia. Jaraknya yang dekat dengan Australia membuat Saumlaki populer bagi para yachter yang berlayar di perbatasan laut Indonesia dan Australia yang terbentang dari Laut Arafura hingga Samudra Hindia. Setiap tahun, acara Internasional Darwin-Saumlaki Yacht Race and Rally dihelat, turut menambah popularitas Saumlaki sebagai destinasi wisata yang wajib dikunjungi di bagian timur Indonesia.

Dari bandara, saya menuju hotel Harapan Indah di ibu kota Saumlaki yang berada di bagian selatan Pulau Yamdena. Belum ada transportasi umum dari bandara, tapi Anda bisa menyewa mobil yang tersedia di bandara untuk menuju ke lokasi-lokasi yang Anda inginkan. Selama 20 menit perjalanan dari bandara menuju hotel, saya disuguhi oleh hamparan bukit berkarang dan lambaian pohon-pohon kelapa yang saling menguntai membentuk lanskap Pulau Yamdena ini.

Hari pertama, selepas dari hotel saya langsung mengunjungi Monumen Kristus Raja di Desa Olilit Timur yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari pusat kota Saumlaki. Sejenak monumen ini mengingatkan saya pada patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro karena berada di dataran paling tinggi sehingga kita bisa menyaksikan gugusan pulau-pulau sekitarnya. Dalam komplek monumen, figur Yesus Kristus diabadikan dalam patung-patung besar yang tersebar di tiga titik: patung Yesus Memberkati menghadap ke timur, patung Yesus Disalib menghadap utara, patung Yesus dan Bunda Maria menghadap selatan. Berada di antara patung-patung besar dan megah itu membuat saya merasa bagaikan liliput yang bermain-main di bawah kaki para raksasa seperti dalam dunia petualangan Gulliver.

Selain Monumen Kristus Raja, Saumlaki memiliki tiga destinasi wisata rohani lainnya: Monumen Pembaptisan Pertama, Monumen Pendaratan Misionaris dan Monumen 100 Tahun Masuknya Injil. Destinasi wisata rohani itu ramai dikunjungi pada bulan November bertepatan dengan perayaan Kristus Raja Alam Semesta. Tampaknya wisata rohani Saumlaki tengah bergeliat, akses jalan menuju destinasi wisata rohani telah diaspal mulus, homestay mulai bertebaran di beberapa titik. Bukan tidak mungkin di tahun-tahun mendatang Saumlaki juga membuat perayaan kolosal upacara keagamaan yang melibatkan wisatawan dan mengundang decak kagum sebagaimana di Larantuka dan Manado.

Menuju Desa Sangliat Dol, kami mesti menaiki 106 anak tangga yang terbuat dari batu dengan kemiringan mencapai 35 derajat agar bisa menjumpai gagahnya situs peninggalan zaman megalitikum. Situs kuno berupa susunan batu yang membentuk sebuah perahu itu dinamakan Natar Sori Fampompar oleh penduduk setempat. Sirih pinang dan sopi disuguhkan sebagai adat penerimaan tamu dan tolak bala. Ketika mengunyah sirih pinang, rasa getir langsung memenuhi mulut saya, seketika saya tenggak sopi sambil tetap mengulum senyum meski pahitnya awet bergelantungan di seluruh
rongga mulut saya.

Setelah sehari sebelumnya puas mengunjungi monumen-monumen di jantung Kota Saumlaki, keesokan harinya saya berniat menyisir pantai dan gugusan pulau terdekat. Anda cukup menempuh perjalanan darat selama tiga puluh menit agar sampai ke Batlosa. Sebuah batu karang besar yang berlubang tepat di tengahnya adalah pintu gerbang yang menyambut siapa saja yang hendak mengunjungi pantai ini. Pintu batu Batlosa adalah Arch de Triomphe dalam versi yang lebih arkaik. Dari garis pantai yang sama Anda bisa mengunjungi Pantai Weluan atau Pantai Sembunyi, pantai dengan air laut biru jernih yang diapit oleh dua batu karang raksasa seperti di Fiordo di Furore. Saat terbaik untuk menikmati keindahan pantai di Saumlaki adalah bulan Maret–April dan September–Desember. “Antara bulan-bulan itu,” Pierre mengatakan,”lautan sedang teduh, angin tak begitu ganas, ombak juga sedang bagus-bagusnya.”

Jika ingin merasakan petualangan bahari tingkat lanjut, Anda bisa menyeberangi pulau-pulau terdekat seperti Pulau Matakus dan Pulau Selaru dengan menggunakan kapal cepat yang selalu tersedia di dermaga tiap harinya. Untuk menikmati indahnya panorama bawah laut, Anda bisa melakukan diving dan snorkelling di tengah perairan Pulau Matakus. Perairan Saumlaki merupakan rumah bagi kelompok ikan pelagis besar seperti tuna (thunidae), cakalang (katsuwonus pelamis), dan marlin (makaira sp) serta kelompok ikan demersal macam kakap merah (lutjanus campechanus) dan kerapu (epinephelus). Spot memancing terentang dari Laut Timor hingga Laut Arafura yang mengepung Saumlaki.

Selama di Saumlaki, saya tidak hanya punya kesempatan untuk mengunjungi pantai-pantainya saja. Saya juga mengunjungi sentra pengrajin tenun ikat Tanimbar. Tenun ikat Tanimbar yang sebelumnya hanya diwariskan melalui jalur kerabat kini telah diproduksi secara umum oleh 12 kelompok penenun. “Ada 45 motif, tapi yang paling utama adalah motif dorkie (jaring) dan libir (panah),” ujar salah satu ketua kelompok penenun, Sam Malisngorar.

Jaring dan panah adalah simbol kehidupan Saumlaki yang kental akan kultur bahari yang lestari dari generasi ke generasi. Dari pengalaman dan kesempatan berkunjung ini, sudah semestinya Saumlaki tak lagi dianggap sebagai kawasan terluar Indonesia semata. Ada begitu banyak kekayaan alam dan budaya yang bisa kita jelajahi.

Jakarta to Saumlaki


Flight Time1 hour 35 mins

Frequency 3 times a week

Book Now

From Colours September 2019

icon_sight

5 Senses – Sight
Batlosa Stone Door

Pintu Batu Batlosa adalah pilihan tepat bagi para pemburu keindahan senja. Lubang di tengah pintu batu seperti sedang memerangkap matahari dan membiarkan semburat warna jingga keemasan menerobos seisi cakrawala. Anda juga bisa melihat puluhan kapal layar (yacht) yang akan bertanding di International Darwin-Saumlaki Yacht Race-Rally yang dibuka pada akhir bulan September di Saumlaki.
dwnsail.com.au