Seeking paradise in Manokwari

Dikelilingi pantai-pantai cantik, Manokwari di Papua Barat adalah gerbang menuju hutan dataran tinggi yang berselimut kabut dan dipenuhi nyanyian dan tarian burung-burung cenderawasih. Fatris MF dari Colours mengeksplorasi keajaiban alam dan makna spiritual daerah ini.

Words by Fatris MF

london_01

Lebih dari satu setengah abad silam, naturalis Inggris Alfred Russel Wallace datang ke sebuah perkampungan kecil di Semenanjung “Kepala Burung” Papua. Dorey, begitu nama kampung itu ia tulis dalam catatannya. Di kampung itu, ia meringkuk di sebuah pondok dan berangan-angan tentang lebatnya hutan di pedalaman Papua dan segala jenis fauna yang ada di dalamnya.

london_02

“Tempat yang memiliki begitu banyak benda-benda alam yang asing, baru dan cantik dibandingkan belahan dunia lain,” katanya dalam buku The Malay Archipelago. Hutan Papua, kata Wallace lagi, begitu rimbun, padat dan sangat sulit untuk ditembus. Terlebih lagi, ia dan beberapa awaknya diserang demam.

Kini, perkampungan kecil tempat Wallace singgah itu telah menjelma sebuah kabupaten sekaligus ibu kota Provinsi Papua Barat bernama Manokwari. Dan, saya ingin menjumpai apa yang diangan-angankan Wallace: hutan yang penuh kicauan dan tarian burung-burung dari surga yang disebut Wallace sebagai ”burungburung dewata“ (cenderawasih).

london_02

Pukul tiga dini hari, sahabat saya dari PT Gapura Angkasa yang membantu perjalanan ini, Deni Karnabi dan Gunardi menjemput saya di penginapan. Kami menumpang mobil 4WD untuk mencapai hutan. Mobil dengan kabin ganda membelah kegelapan dini hari, melewati tikungan tajam dan jalan curam. Melihat burungburung yang anggun menari di habitatnya tentu perlu perjuangan, bukan? Dan, perjuangan itu seakan sirna ketika kami tiba di Kampung Kwaw di daerah Mokwam, dataran tinggi yang dingin di Pegunungan Arfak.

Kabut pagi yang meyelimuti hutan lebat perlahan hilang dan menampakkan lapisan-lapisan hutan. Pergunungan Arfak memunculkan wujudnya; hijau dan dingin, pepohonan yang rapat, lembah-lembah sunyi, dan orang-orang yang keluar dari rumah kayu dengan pakaian tebal dan menyilangkan tangan di dada untuk menghalau dingin.

london_02

Seorang pemuda bernama Seman Mandacan membawa kami memasuki hutan yang hanya satu lemparan batu jaraknya dari jalan. Udara sejuk di pagi itu dipenuhi suara nyanyian burung. Ia menyuruh kami duduk dan bersembunyi di sebuah pondok yang ditutupi dedaunan. Dari celah sempit di dinding pondok, kata Seman, kami bisa melihat bagaimana burung-burung pintar menari untuk memikat pasangannya, sambil membuat sarang.

london_02

Agaknya, burung pintar yang dimaksud Seman inilah yang disebut oleh Wallace dalam bukunya. Namun, pemandu kami ini menyebutkan begitu banyak jenis burung dan perilaku mereka, hingga saya tidak bisa menghafalnya satu per satu. Pegunungan Arfak adalah habitat beragam unggas, mulai dari burung namdur polos (Amblyornis inornata) yang pintar membangun sarang, cenderawasih kuning (Paradisea minor) yang pandai menari di atas pohon, hingga Parotia Arfak (Parotia sefilata), burung dengan antena yang lebih senang menari di atas tanah.

london_02

Saya meninggalkan burung-burung cenderawasih di Pegunungan Arfak ini dan terhenyak di bangku restoran di Aston Niu Manokwari yang menghadap ke lautan luas pada satu siang. “Ini perpaduan hutan dan laut,” kata Chef Slamet Ponco, menyajikan tuna dan jantung pisang yang telah diraciknya menjadi hidangan yang memanjakan selera.

Seorang nona muda, Fransince Magdalena namanya, mengajak saya ke Pantai Petrus Kafiar yang menghadap ke Samudra Pasifik. Dari sana, kami berpindah ke pantai-pantai lain, minum air kelapa, dan duduk di balebale Pantai Bakaro yang jernih..

Ketika saya dan Fransince menikmati pemandangan, Lukas A. Barayap yang berusia 60 tahun duduk di samping kami. Sembari mengunyah sirih, ia memulai percakapan serius. “Apa yang kita tanam, itu yang kita tuai. Tidak ada orang yang menuai kebaikan bila ia menanam kejahatan,” ucapnya, sementara burung camar berkoak di cakrawala dan ombak menghempas bibir karang. Dengan kaki telanjang, Lukas mengajak saya berjalan ke tepi laut. Tubuhnya tegap dengan otot-otot yang liat. Ia turun ke laut dengan membawa beberapa bongkah tanah berisi rayap.

london_02

“Tuhan memberkati laut, Tuhan juga memberkati Manokwari,” ia berujar sendirian, mungkin menyambung perkataannya sebelum ini. Ia mengutip kata-kata suci dari Alkitab, juga dari Alquran. Setelah itu, ia diam. Dipandangnya laut yang lapang. Satu dua perahu melintas dan ia terus menabur rayap, memanggil para penghuni lautan dengan caranya yang unik. Ikan-ikan mulai berenang mendekati tempat Lukas berdiri. “Dulu, ikan-ikan lebih besar dari ini bisa saya panggil. Bom ikan mesti dihentikan, jangan biarkan laut ini hancur pelan-pelan,” Lukas kembali berkata-kata, tetapi kali ini tidak mengutip firman Tuhan. Katanya lagi, ia telah menjaga pantai dan terumbu karang dari kerusakan selama bertahun-tahun, dan atas kerja kerasnya itu, beberapa bulan silam ia dipanggil pemerintah ke Jakarta untuk menerima hadiah Kalpataru 2019.

london_02

Meminjam kata Lukas, Manokwari adalah kota yang diberkati. Di kota ini, kata-kata pemberkatan Tuhan tertancap di perempatan jalan, di dinding-dinding sekolah, dan di rumahrumah. Dari tempat inilah agama Kristen diperkenalkan ke Papua, hasil dari usaha misionaris Jerman Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, yang tiba pada tahun 1855. “Im Gotes Name Tu Betraten (Dengan nama Tuhan, kami injak tanah ini),” kata-kata kedua pemuka agama itu terpahat di tugu di pinggir pantai Pulau Mansinam, destinasi populer bagi peziarah religi. Tak heran, sangat mudah mencari tempat ibadah di daerah ini, entah Anda Kristen, Katolik, ataupun Buddha.

london_02

Pada hari Minggu, jalanan sepi dan gereja-gereja dipenuhi umat yang sedang beribadah menyebut nama Tuhan. Saya menginap di sebuah hotel di samping gereja, dan pada pagi Minggu, lamat-lamat kor rohani membangunkan saya.

Hendak ke mana lagi saya berwisata? “Kita ke Pulau Mansinam,” Deni dan Gunardi mengajak saya, dengan mata yang berbinar-binar. Sebagai pelancong, saya ikuti saja ke mana mereka membawa saya. Di pelabuhan kecil, kami menunggu seorang lelaki. Namanya Nikolaus Manim.

“Tenang saja, semua ada di Manokwari. Ada tempat wisata, ada wilayah adat,” kata Niko, pria paruh baya yang menjabat kepala dinas pariwisata dan olahraga setempat.

“Saya berasal dari sana, pegunungan Arfak,” Niko menunjuk barisan bukit biru pekat, seperti pagar raksasa yang mengelilingi Manokwari. “Ini Pulau Lemon, banyak lemon di sini. Menyelam di sebelah sana, bisa lihat kapal tenggelam. Semua cantik,” kata Niko lagi.

“Pada 5 Februari 2020 akan ada festival. Acaranya sekali dalam lima tahun,” kata Deni. Kami berkendara ke puncak bukit, melihat patung Yesus, plakat-plakat, dan sebuah gereja. Banyak keluarga berziarah ke pulau ini, mengenang dua lelaki yang datang membawa ajaran keselamatan.

Saya kembali ke kafe Aston Niu dan sekali lagi menikmati pemandangan pegunungan dan lautan tenang. Saya membayangkan hutan yang penuh kicauan burung, saya membayangkan Lukas dan ikan-ikan di lautan luas. Barangkali, di satu teluk yang sunyi di Manokwari, sebuah kapal akan bersandar dan saya membayangkan senyum Fransince Magdalena menghadap lautan Pasifik yang luas.

Jakarta to Sorong


Flight Time 4 hours 35 minutes

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours December 2019

icon_taste

5 Senses – Taste
Banana Heart

Jantung pisang, andalan masyarakat setempat, yang dipadu dengan tuna adalah kombinasi sempurna alam pegunungan dan lautan Manokwari. Anda bisa mencobanya di Hotel Aston Niu Manokwari, diracik oleh Chef Slamet Ponco. Dan jangan lupa, mencicipi Hawai Bakery Manokwari dan membeli oleh-oleh di Bandara Rendani Manokwari.