rajaampat_main

The Archipelago Journal Lake Toba

Toba adalah danau vulkanis terbesar di muka bumi, yang terletak di tengah belantara Sumatera. Sejak zaman kolonial sampai sekarang, danau ini menjadi destinasi wisata populer. Namun, kawasan Toba tidak semata danau, tetapi juga kaya akan budaya.

Words by Fatris MF

Dari atas lereng bukit menuju Harian Boho, saya menatap hamparan danau yang luas membentang. Angin kering Agustus menampar-nampar ilalang, menggerakkan pucuk-pucuk pepohonan, dan membuat riak di atas permukaan danau. Matahari pagi memacak, memantulkan kilau keemasan. Di ujung tanjung, di tepian danau, perkampungan tersebar di balik barisan perbukitan hijau kecokelatan.

rajaampat_02

Sejak dahulu kala, keindahan danau telah mengilhami banyak penulis. Samuel Beckett, penulis Irlandia peraih Nobel Sastra 1969, dalam Endgame karyanya menceritakan masa paling indah dalam kehidupan seseorang adalah saat berdayung bersama kekasih hati di tengah Danau Como, di Italia. Di Skotlandia, penyair Walter Scott menulis puisi The Lady of The Lake, pada tahun 1810, yang tidak hanya membuat nama penulisnya terkenal hingga ke Amerika, tetapi juga membuat pelancong berbondong-bondong ke Loch Katrine, di Skotlandia, hingga hari ini.

“Danau yang cantik dan masyarakat yang hangat,” catat penulis Belanda R. Freudenbe dalam “De tocht van Overste van Daalen door de Gayo-Alas-en Bataklanden van 8 Februari tot 23 Juli 1904”, catatan perjalanannya melewati “Tanah Gayo dan Batak”.

rajaampat_02

Saya meninggalkan Harian Boho, tempat Sitor Situmorang dimakamkan beberapa tahun silam. Saya berkendara di jalan berliku di pinggir danau, melewati kampung-kampung kecil yang menghadap ke danau, melihat anak-anak kecil berseragam berjalan menuju sekolah sembari bercanda, rumah-rumah panggung tua, dan hamparan sawah yang menguning. Saya melewati perkampungan bernama Huta Siallagan. Kampung yang dipagari batu ini menyimpan peninggalan megalit berupa kursi-kursi batu, yang dahulu berfungsi sebagai ruang persidangan “outdoor”, lengkap dengan tempat melaksanakan hukuman bagi terpidana.

Saya terus berkeliling, berkendara hingga ke Gunung Pusuk Buhit, gunung sakti dalam mitologi Batak, ketika terik siang meradang di atas kepala. Kemarau sedang menyelimuti segenap Pulau Sumatera, dan dari kejauhan bukit-bukit terlihat mengering, berbaris memagari Danau Toba.

rajaampat_02

Bertualang di dataran tinggi Batak ini bagai masuk ke dalam buku gambar kuno yang melukiskan Nusantara. Secara topografi, di bagian utara Toba ada Gunung Sibuatan, dan lebih jauh ke utara, berdiri Taman Nasional Gunung Leuser. Pada bagian selatan, terdapat Taman Nasional Batang Gadis. Jauh di sebelah barat, Samudra Hindia, dan di timur ada Selat Malaka. Berada tepat di jantung pedalaman Sumatera Utara, Toba dikelilingi pemandangan yang luar biasa, dengan banyak air terjun, termasuk air terjun Lumban Rang, Situmurun, Sigarattung, dan Sipiso-piso. Saya melewati Lembah Bakkara, tempat kelahiran Raja Sisingamangaraja XII, raja terakhir dari dinasti yang berkuasa selama 400 tahun, yang dianggap sebagai utusan Tuhan. Sepertinya, semua keindahan inilah yang mendorong lahirnya Peraturan Presiden untuk membentuk Badan Otorita Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba beberapa tahun silam. Bandara Silangit ditingkatkan menjadi bandara internasional pada 2017 dan Garuda Indonesia kini menyediakan rute langsung ke sana dari Jakarta.

rajaampat_02

Ketika angin kering musim kemarau kembali bertiup, saya merapat di Inna Parapat Hotel & Resort yang berdiri di tepi Danau Toba. Sebelum tertidur, saya masih sempat duduk dan memandangi kampung-kampung di pinggir Toba yang dibekap gelap, sementara kelap-kelip lampu dari kejauhan tampak seperti kunang-kunang, dan sesekali perahu masyarakat melintas di depan saya.

“Hotel ini warisan sejarah,” kata Henry Sianturi, salah seorang pegawai Inna Parapat, sembari duduk di samping saya. Ia membawa saya masuk ke ruangan hotel yang penuh foto hitam putih era kolonial. Mungkinkah dari salah satu foto itu ada Van Daalen, perwira Belanda yang terpukau oleh Danau Toba?

Pada sore yang lain, saya bertemu keturunan ke-17 Raja Sidabutar di Tomok, sebuah perkampungan di timur Samosir, pulau seluas Jakarta yang terletak di tengah Danau Toba. Surung Sidabutar namanya, badannya tegap dan bicaranya lantang seperti pengacara. Tiap hari, terlebih bila hari libur, Surung memandu wisatawan ke makam moyangnya. Kepada tamu-tamunya, saya melihat ia memperkenalkan sarkofagus yang berisi tulang-belulang raja, sambil ia menceritakan tentang berbagai ritual, filosofi adat dan budaya orang Batak.

rajaampat_02

Di luar kompleks pemakaman purba Raja Sidabutar, ada pasar suvenir dan totem kayu sigale-gale.Kata Surung, sigale-gale atau boneka kayu ini dahulu dimainkan pada saat menguburkan mayat untuk menghibur keluarga yang berduka.

Saya kembali duduk di pinggir danau, tak jemunya memandang “lautan mini” dan senja yang luluh di balik perbukitan. Di hadapan saya, banyak wisatawan menaiki perahu menuju Tuk Tuk yang menjadi sentra wisata Pulau Samosir, atau menyeberang ke Balige, atau singgah di Museum T.B Silalahi. Dan, malam baru saja dimulai di Tomok. Dari pasar, saya pindah ke lapo, warung tempat orang Batak berkumpul untuk mengobrol, minum, bersenda gurau dan bernyanyi. Puas berbincang dan tertawa bersama pemuda-pemuda Tomok di lapo, saya mendatangi Hotdiman Sijabat untuk berdiskusi tentang adat dan ajaran tua Batak.

rajaampat_02

“Danau Toba,” kata Hotdiman, ”adalah Boru Saniang Naga, titisan Tuhan yang menghuni air. Ia harus terus dijaga, tidak boleh dikotori, dicemari.” Dalam kepercayaan purba orang Batak, yang menyembah Opung Debata Mulajadi Nabolon, menjaga lingkungan adalah perkara yang tidak bisa ditawar.

“Engkau harus menanam sebanyak yang engkau tebang. Engkau menggantungkan hidupmu pada Toba, jadi jangan mengotori Toba,” kata Hotdiman, lelaki paruh baya yang hampir tiap sebentar mengeluarkan kata-kata bijak menurut adat Batak, sebelum akhirnya saya pamit. Malam itu saya menginap di tepi danau, di rumah bangsawan Tomok milik Surung.

rajaampat_02

Begitu tiba di rumah, istri Surung menghidangkan makanan hangat. Kami makan di malam yang telah larut, sementara dingin dataran tinggi mulai merambat, riak danau mengeluarkan ritme halus dan kantuk mulai memanggil. Suara air danau yang menghempas ke tepi rumah Surung terdengar lebih jelas di tengah kesunyian. Saya membayangkan Nell (tokoh dalam cerita End Game karangan Samuel Beckett) tengah berkata: masa paling indah dalam kehidupan seseorang adalah ketika ia dan kekasihnya berdayung di tengah danau. Di ujung malam itu, saya kembali duduk sendiri di tepi Toba, menyeruput kopi hangat, merasakan belaian angin dan riak lembut air danau. Dahulu, sebelum meninggalkan Toba, penulis Belanda R. Freudenberg menuliskan kekagumannya atau semua yang ia lihat dan rasakan di sini. Di akhir catatannya, satu abad silam, ia menulis dengan penuh takjub seperti seseorang yang sedang jatuh cinta: nam ik afscheid van het schoone meer, saya ucapkan selamat tinggal pada danau yang indah. Kini, saatnya saya melakukan hal yang sama.

Jakarta to Silangit


Flight Time 1 hour 40 minutes

Frequency 2 flights per week

Book Now

From Colours February 2020

icon_sound

5 Senses – Sight
Lake Toba from the Hilltop

Nikmati panorama danau biru ini, serta perbukitan yang mengelilinginya. Ada banyak tempat untuk melihat pemandangan spektakuler ini, salah satunya dari puncak Bukit Tele