rajaampat_main

Shinjuku Going for gold

Shinjuku, kawasan hiburan nomor satu di Tokyo, akan menjadi fokus dunia olahraga pada musim panas ini sebagai tuan rumah upacara pembukaan Olimpiade Tokyo 2020 serta cabang-cabang atletiknya.

Words and Photography by Mark Parren Taylor

Tak ada rekor yang abadi, karena manusia terus bergerak lebih cepat, menggapai lebih tinggi, dan mendorong lebih kuat. Begitu juga pada Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020, akan ada banyak rekor yang terpecahkan saat para atlet berkompetisi memperebutkan medali emas. Namun, distrik Shinjuku punya rekor dunia yang sementara ini belum terpatahkan.

rajaampat_02

Terletak di sebelah barat ibu kota dan bertetangga dengan Shibuya (terkenal dengan zebra cross terpadat dan fashion uniknya), Shinjuku adalah pusat bisnis dan hiburan. Komuter serta para partygoer datang dari seluruh penjuru Tokyo dan sekitarnya, siang dan malam. Sementara, bagi para pelancong, Shinjuku adalah titik embarkasi ke berbagai destinasi di Jepang tengah, termasuk Pulau Enoshima yang akan menjadi lokasi lomba layar Olimpiade.

Semua hilir mudik ini menjadikan Stasiun Shinjuku stasiun tersibuk di dunia, dengan rekor 3,6 juta penumpang setiap hari. Stasiun ini adalah labirin jalur kereta api dan kereta bawah tanah, dengan persimpanganpersimpangan yang terhubung ke sejumlah toserba dan pusat perbelanjaan bawah tanah. Kalau saja ada medali emas untuk ruang publik paling rumit, Stasiun Shinjuku akan jadi pemenangnya.

rajaampat_02

Statistik menunjukkan bahwa pada jam-jam sibuk, saat para penjaga stasiun bersarung tangan putih mengasak para penumpang ke dalam kereta yang sudah penuh sesak, sekitar 68.000 orang melintas dalam waktu kurang dari 15 menit.

Sebanyak itu pula penonton yang bakal memenuhi New National Stadium, yang nanti menjadi tuan rumah upacara pembukaan dan penutupan Olimpiade, serta perlombaan cabang atletik.

rajaampat_02

Stadion ini hanya 20 menit berjalan kaki dari jantung Shinjuku. Rute terdekatnya sekaligus terindah adalah melewati Shinjuku Gyoen. Taman (harga tiket masuk Y100 atau sekitar Rp12.500) yang memukau ini berstatus taman nasional. Namun dalam banyak hal, apalagi dalam semangat Olimpiade, taman ini sangatinternasional, karena selain menampilkan gaya tradisional Jepang, ada taman ala pedesaan Inggris dan taman formal Prancis. Dua kedai teh kuno di sini menyajikan teh hijau dikawani manisan klasik Jepang (¥700, sekitar Rp86.000). Cara yang menarik untuk bersantai barang setengah jam.

rajaampat_02

Untuk memahami geografi Shinjuku, dan melihat bagaimana taman dan stadion menyatu dengan ekosistem Tokyo yang luas, naiklah ke puncak menara kembar Gedung Pemerintah Metropolitan Tokyo, alias Tokyo Tocho. Dek observasinya di lantai 45 gratis dan buka hingga pukul 23:00 (masuk terakhir 22:30). Anda bisa melihat Tokyo Skytree setinggi 634 m di timur kota dan Gunung Fuji yang romantis (95 km ke barat) menjulang di tengah panorama bagaikan tanda seru raksasa!

Dari ketinggian, terlihat jelas bahwa kebanyakan bangunan di Tokyo bertingkat rendah, dan karakteristik ini tidak hanya di permukiman atau kawasan budaya. Di antara bangunan-bangunan bertingkat tinggi di jantung Shinjuku, tempat paling menyenangkan justru sering kali berskala kecil. Di ujung utara stasiun, misalnya, Omoide Yokocho, atau ‘Lorong Kenangan’, adalah lorong dengan deretan restoran mungil yang hanya muat alat panggang yakitori dan sedikit ruang untuk sekitar enam pengunjung dalam satu waktu.

rajaampat_02

Suasana serupa terasa di Golden Gai, 10 menit berjalan kaki. Lorong-lorong padat ini dijejali puluhan kafe kecil dan izakaya (bar) yang dari luar mungkin tampak usang, tetapi di dalamnya antik elegan. Saya langsung mengantre di Ramen Nagi (n-nagi.com) yang menyajikan dua jenis mi lezat dengan kaldu kaya umami dari sarden kering. Distrik ini bahkan punya Golden Street Theater berukuran mini. Kadangkadang, para senimannya keluar untuk mengundang para pejalan kaki bila masih ada kursi kosong.

Di selatan Yasukuni-dori Avenue, di distrik Sanchome yang ramai, ada Suehirotei Playhouse (suehirotei.com) yang menampilkan seni bercerita humor jadul yang disebut rakugo. Pertunjukan ini begitu populer, sampai-sampai penonton rela membayar walau tidak kebagian kursi. Meski sudah berjalan sejak tahun 1897, bangunan kayu yang ditempatinya baru didirikan tahun 1946. Dan tepat di sudut Shinjuku, ada Isetan yang juga merupakan warisan budaya lokal. Anda mungkin tidak pernah berpikir sebuah toserba bisa menjadi harta budaya, namun tempat perbelanjaan ini menghuni bangunan art deco megah sejak 1933.

rajaampat_02

Shinjuku menunjukkan bahwa Tokyo adalah kota besar yang lahir dari momen-momen kecil, sekaligus kota yang fokus pada masa depan dengan tetap merangkul masa lalu.

Distrik Kagurazaka, di tepi timur Shinjuku, membawa pengunjung kembali ke masa lalu. Luangkan waktusatu hari di sini untuk menjelajahi jalan berbatu, kafe, restoran, dan butik-butik unik. Lorong-lorongnya yang sunyi dan berbelok-belok akan terasa sangat jauh dari stadion baru, yang penuh soraksorai saat satu demi satu rekor Olimpiade dipecahkan.

Jakarta to Tokyo


Flight Time 7 hour

Frequency 7 flights per week

Book Now

From Colours February 2020

icon_sound

5 Senses – Sight
A Relative Hush

Istirahat sejenak dari keramaian Shinjuku dan manjakan lidah di pusat kuliner Isetan. Kunjungi konter Suzukake untuk membeli kue kecil lezat berbentuk lonceng yang disebut monaka, dan nikmati di taman rooftop yang tenang. Toserba Marui di seberangnya juga memiliki taman atap yang indah. Pada hari Minggu sore, Shinjuku-dori Avenue (jalan antara kedua toserba) dikhususkan bagi pejalan kaki.