A gleaming scimitar of talcum-powder soft sand, Muale Beach must surely be one of the most pristine in all Indonesia.

Nias

Pulau Nias sering terlewatkan oleh wisatawan selain peselancar. Colours mengunjungi kawasan di barat Indonesia ini untuk melihat apa yang ada di “surga peselancar” ini.

Words and photography by Mark Eveleigh

Saya datang ke Nias bukan di musim puncak kunjungan wisatawan. Hanya ada satu orang asing lain yang saya lihat di Bandara Gunungsitoli dan saya tidak perlu meliriknya untuk tahu dua hal: dia seorang peselancar dan tujuan akhirnya adalah Pantai Sorake.

Deep in the shelter of the bay - yet seemingly a stone's throw from Keyholes - is a beach-break that is perfect for beginners.

Kami sempat mengobrol saat menunggu bagasi dan peselancar asal Australia itu bercerita tentang kondisi ombak di sana, yang disebut-sebut oleh banyak orang sebagai salah satu dari sepuluh ombak terbaik di dunia. Dia sudah mempelajari statistik ini sebulan terakhir, menganalisis grafik ombak dan arah datangnya ombak, serta mencari foto-foto satelit untuk mengetahui badai yang mengitari Samudra Hindia.

“Ukuran gelombangnya tidak akan besar,” katanya kepada saya, “tapi jarak antar-gelombangnya cocok untuk berselancar.”

Saya tidak terlalu percaya dengan semua prediksi ini. Dalam praktiknya, laut sering mengejutkan kita. Walaupun saya berencana untuk berselancar selama berada di sana, itu bukan tujuan utama saya. Saya datang ke sini untuk melihat apa yang bisa dinikmati pengunjung di Nias selain tantangan ombaknya.

Hash & Family Surf Camp is located on a prime spot directly in front of Keyholes, one of the finest waves in the world.

Beberapa menit setelah tiba di Pantai Sorake, saya berjalan melintasi terumbu karang dengan membawa papan pinjaman. Taksi menurunkan saya di pantai di depan Hash and Family Surfcamp dan saya memperkenalkan diri secara singkat dan tidak fokus kepada sang pemilik Hasrat “Hash” Wau. Ketika kami mengobrol, saya yakin Hash menyadari kalau perhatian saya tertuju pada sesuatu di belakangnya, di luar beranda kayunya, ke arah barisan tiga peselancar beruntung yang merasakan keajaiban ombak legendaris yang dikenal sebagai Keyhole.

Seorang kudus sekalipun akan tergoda oleh karang berkilauan dan gulungan ombak biru yang melaju, ucap saya dalam hati, saat putra Hash yang berusia 14 tahun, Jackson Ametis Wau, memandu saya melewati sebidang tanah yang umurnya lebih muda darinya. Pada tahun 2005 gempa bumi menghancurkan garis pantai ini dan mengangkat dasar laut di Pantai Lagundri, yang sampai sekarang dibiarkan begitu, tidak terjangkau apa pun, kecuali gelombang terbesar.

As the afternoon heat begins to wane the people of Hiliamaetaniha gather on their front steps to watch the world pass by.

Papan-papan selancar yang sudah rusak (mungkin korban dari hantaman ombak keras di Keyhole Point) dipajang untuk mengiklankan “pesona” dari deretan rumah singgah sederhana di sepanjang lekukan pantai pasir putih yang menghubungkan Keyhole dengan ombak yang lebih besar di luar yang dikenal dengan sebutan Indicator.

Para peselancar dan penjelajah hippie yang pertama kali berkemah di hutan ini pada awal tahun 1970-an mungkin tidak mengenali lagi tempat ini. Sorake kini jauh lebih nyaman, namun rasa mendebarkan saat berselancar tak pernah hilang dari desa kecil ini.

“Saya lahir di Desa Botohilitano di tahun yang sama dengan kedatangan orang-orang Australia pertama yang berkemah di pantai,” cerita Hash keesokan harinya saat kami berkendara melalui hutan rimbun. Seperti kebanyakan teman-temannya, Hash juga bekerja di daerah lain untuk beberapa waktu di Medan dan Padang tapi mereka hampir selalu kembali, karena mereka yakin tidak ada tempat yang sebanding dengan Nias Selatan.

An old man in Hiliamaetaniha village in the costume of a traditional Nias warrior. The fearsome mouth piece was designed to intimidate enemies and perhaps represents the mouth of a lasara (the dragon deity of Nias).

Suasana di sini sulit dijumpai di tempat lain di Indonesia. Nias memiliki budaya pulau yang unik serta ritme kehidupan yang tampak selaras dengan musik rakyat yang berdenyut lembut dan irama dari bahasa lokal yang atraktif.

Di Botohilitano (secara harfiah berarti ‘Tanah di Bukit’) kami mendaki tangga batu kuno yang dihiasi kepala-kepala naga lasara dengan wajah menyeringai dan melewati jalanan lebar berlapis batu di sebuah desa tradisional yang hampir tidak berubah selama berabad-abad, terlepas dari banyaknya parabola di sana. Hari itu adalah hari mencuci pakaian dan tumpukan pakaian warna-warni, layaknya tanaman rambat yang berbunga, menghiasi jalanan di depan rumah-rumah kayu tua yang dikenal dengan sebutan omo hada. Hasil panen yang sedang dijemur—kakao, kopi, beras, sirih dan daun nilam (untuk membuat minyak nilam yang dulunya menjadi komoditi ekspor paling penting di Nias)—disebar di tikar anyaman yang berjajar di jalanan.

The legendary hondo batu (jumping rocks) of Nias typically measure around 2 metres high.

Sejam kemudian saya merasa seperti Jack si pemanjat pohon kacang saat menaiki anak-anak tangga yang tinggi untuk memasuki rumah raja di Bawomataluo. Semua benda yang ada di dalam rumah memiliki ukuran yang lebih besar dari umumnya dan saya pun sedikit berimajinasi akan sosok berukuran raksasa yang bisa mengambil langkah-langkah tinggi seperti itu. Tapi sungguh itu hanyalah imajinasi belaka, karena pada kenyataannya Bapak Laowo Fau memiliki sosok sama seperti pria lainnya namun dengan sikap yang sangat ramah.

“Raja pertama, kakek moyang saya, dimakamkan di bukit di belakang rumah ini,” ungkap Bapak Laowo Fau. “Para ahli tidak yakin dari mana asal kami, tetapi saya percaya nenek moyang kami hijrah dari Vietnam.”

Faktanya, perkakas batu yang ditemukan di gua Togi Ndrawa, Nias Tengah, membuktikan bahwa pulau ini telah dihuni setidaknya 12.000 tahun. Daftar kemungkinan rute migrasi yang diklaim para ahli—Taiwan, Kamboja, Thailand, Filipina, Vietnam—bahkan melebihi daftar antropolog yang membuat klaim ini. (Dan yang membuat misteri ini makin membingungkan, Hash setuju dengan asumsi saya bahwa bahasa Nias yang rumit memiliki kesamaan yang unik dengan bahasa Madagaskar nun jauh di sana)

The snarling heads of lasara dragons guard the entrance to most southern Nias villages.

Setelah berpamitan kepada Bapak Laowo Fau, kami menuruni tangga untuk kembali ke jalan dan saat itu saya menyadari bahwa mungkin anak-anak tangga raksasa ini dibuat untuk orang-orang yang hobi melompati batu lebih dari 2 meter. Hombo batu (batu lompat) kuno di Bawomataluo tingginya mencapai 2,1 meter dan saat kami keluar rumah, kami melihat tiga atlet muda desa sudah melemaskan otot untuk tampil menunjukkan kecepatan, kelenturan dan nyali murni yang bahkan bisa membuat penakluk ombak besar di pantai Nias terkagum-kagum.

Ketika bayangan sore mulai memanjang, Hash merekomendasikan sesi selancar senja, dan karena saya berpikir ini bisa menjadi sebuah “riset”, saya pun setuju. Kami memasukkan papan selancar ke mobil dan berangkat menuju lokasi berselancar bersama putra Hash, Jackson dan Kevin Gilbert Fotorama Wau yang berusia 11 tahun.

14 year old Jackson Ametis Wau is one of several talented young surfers that have be lucky enough to have grown up surfing Keyholes on a regular basis.

Ketika kami berjalan keluar menuju pantai, saya menyadari bahwa Pantai Muale merupakan salah satu pantai yang paling tidak terekspos di Indonesia. Jajaran pohon kelapa yang tak terputus menciptakan bayangan di atas pantai bak pedang berkilauan dengan pasir selembut bedak, yang membentang tanpa satu pun bangunan, dan sungguh sepi sejauh mata memandang di sekitar teluk. Hash menunjukkan lokasi titik berselancar di ujung-ujung teluk. Bahkan di tempat yang hanya berjarak satu jam dari Sorake ini kami menemukan surga baru yang sepi dari peselancar. Tapi karena terhipnotis oleh matahari merah yang dengan cepat tenggelam di hamparan laut tak bertepi, kami pun membatalkan rencana berselancar dan hanya duduk menyaksikan keindahan.

Saya menyadari bahwa Nias menyimpan jauh lebih banyak pesona dari semata-mata ombak besarnya yang legendaris.

Jakarta ke Nias via Medan


Waktu Penerbangan

Frekuensi

Pesan Sekarang

Dari Colours May 2016

icon_sight
At Hiliamaetaniha, 16 year old Haryanti Wau is one of just 5 young men in the village who is fast enough, agile enough and courageous enough to jump over the 1.95m hondo batu (jumping rock).

5 Senses – Sight
STONE-JUMPING

Saksikan pemandangan mengagumkan dari para pelompat batu Fahombo Nias yang legendaris. Setiap desa memiliki sekelompok kecil pemuda yang mampu melompati tembok yang biasanya setinggi kurang lebih dua meter. Di Hiliamaetaniha, Haryanti Wau, 16 tahun, adalah salah satu dari lima pemuda saja di desa itu yang cukup cepat, cukup lincah dan cukup berani untuk melompati hondo batu (batu lompat) setinggi 1,95 m. Dia menaklukkannya dengan gaya yang membuat para penonton terpesona dan berpikir bahwa sudah waktunya mereka membangun batu yang lebih tinggi!