makassar_main

Makassar: Port of Call

Sebagai kota kolonial dan perdagangan paling penting di Hindia Timur, selama berabad-abad kota pelabuhan terpenting di timur Indonesia ini didatangi berbagai bangsa. Colours menelusuri kejayaan kelautan Makassar dan keanekaragaman budaya yang dihasilkannya.

Words & Photography by Muhammad Fadli

makassar_01

Pagi baru saja dimulai, tapi Pelabuhan Paotere Makassar telah riuh. Para buruh angkut bergantian melintasi titian kayu menuju geladak kapal sambil memikul bongkahan barang-barang. Suara mereka berkelindan memecah sunyi pagi. Belasan kapal kayu bersandar di dermaga.

Entah karena muka air laut yang sedang surut, atau karena kelebihan muatan, kapal-kapal kayu ini terlihat bersandar agak terlalu rendah daripada yang seharusnya. Di sisi lain, kapal penuh mitos milik kaum Bugis yang disebut pinisi itu bersandar. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, mungkin tidak sebanyak dulu, ketika mesin belum sepenuhnya menggantikan layar.

makassar_02

Saya berjalan sendiri mengitari pelabuhan yang riuh. Di satu warung, saya bertemu Hasidin, seorang kapten pinisi dengan pengalaman berlayar puluhan tahun. Barangkali, karena sekian lama menghadang lautan, Hasidin tak gampang  tertawa, walau kata-katanya kerap dibarengi guyonan. Suaranya berat, mimik wajahnya selalu serius dengan sorot mata yang tajam. “Saya berlayar sejak remaja,” Hasidin kemudian bercerita. Kami sama-sama menyeruput kopi instan di warung yang terbuat dari kayu seadanya. Pelabuhan makin riuh, makin ramai. Di usia yang telah paruh baya, ia masih berkukuh berlayar dengan pinisi—walau masih menggunakan layar, buritannya telah dijejali mesin.

“Dulu kami berlayar kalau ada angin, sekarang baru angin sedikit malah dilarang berlayar,” ujar Hasidin dengan raut muka yang sama: datar. Dulu, kapal-kapal pinisi memang menggantungkan pelayarannya pada siklus dan pergantian musim. Kapal-kapal berbodi kayu ini menjadi andalan para pelaut Bugis yang terkenal nekat dalam ekspedisi-ekspedisi niaga mereka ke penjuru Nusantara. Sewaktu musim barat, angin membawa mereka berlayar ke timur. Saat musim berganti menjelang pertengahan tahun, mereka kembali dibawa angin yang bertiup ke arah berlawanan. Dari pelayaran-pelayaran  itu berbagai komoditas berharga berpindah tangan. Mereka membawa beras, batik, sarung, dan barang pecah belah ke  timur untuk ditukar dengan rempah, mutiara, dan barang-barang eksotis lainnya. Naturalis kondang Alfred Russel Wallace pada pertengahan abad ke-19 juga melakoni petualangannya menuju Kepulauan Aru mencari burung surgawi cenderawasih dengan menumpang pinisi. Itu dulu.

makassar_03

Kini, pinisi tak lagi menjadi kekuatan dominan di lautan Nusantara. Di tengah gegas laju perkembangan teknologi naval  modern, pinisi dipaksa beradaptasi untuk dapat bertahan. “Sejak akhir tahun 1980-an, semua sudah menggunakan mesin,” ujar Kapten Hasidin lagi sembari mengawasi buruh angkut memuat barang-barang ke lambung kapalnya: beras, mi instan, terigu, semen. Segala kebutuhan ini nantinya akan dipasok Hasidin ke Sumbawa. Meski begitu, sisa kejayaan pinisi masih tersisa. Saban hari, perahu-perahu serupa bertolak dari Paotere membawa beragam barang kebutuhan menuju pulau-pulau terpencil di Kepulauan Maluku atau Nusa Tenggara Timur.

Meninggalkan Paotere, saya meluncur ke pusat kota. Truk-truk kontainer menebar debu di jalanan pelabuhan yang sibuk,  kapal-kapal kargo berukuran raksasa bergantian bersandar di dermaga. Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, ini merupakan pelabuhan terbesar sekaligus menjadi gerbang utama di belahan timur Indonesia. Kota di kaki Pulau Sulawesi ini memang tak bisa dipisahkan dari riwayatnya sebagai kota pelabuhan dari masa silam hingga saat ini.

makassar_05

Albert Stuart Walcott, yang melakukan perjalanan di Nusantara awal abad ke-19, merekam wajah Makassar yang agak berbeda dalam bukunya Java and Her Neighbors. Saat ia menyambangi Makassar, seisi kota tengah bermalas-malasan sembari tidur siang, tapi ia tetap mencatat Makassar sebagai salah satu kota kolonial dan perdagangan paling penting di seluruh Hindia Timur. Makassar  adalah sentra dagang selama berabad-abad yang didatangi berbagai bangsa. Dampaknya, Makassar menjadi sebuah kota yang  kosmopolitan. Ada pengaruh yang tinggal dari setiap bangsa yang pernah singgah di kota ini. Salah satu yang paling kentara adalah warisan bangsa Tionghoa.

Betapa wajah Makassar kini telah banyak berubah. Saya mampir di Wihara Ibu Agung Bahari yang terletak di kawasan Pecinan. Lokasinya tak jauh dari kawasan pelabuhan, di Pecinan yang kini dipenuhi ruko—bangunan paling generik di negara ini. Dibangun pada 1738 oleh seorang pelaut asal negeri Tiongkok, wihara ini hanya menyisakan sedikit fasad aslinya. Melewati gapuranya—bagian tertua kelenteng ini—saya kemudian dipersilakan penjaga wihara untuk menuju lantai atas. Lantai empat wihara merupakan tempat pemujaan. Terasnya menyisakan tempat duduk yang menghadap langsung ke pelabuhan. “Sebelum pelabuhan Makassar dibangun, kita bisa melihat laut lepas tanpa halangan,” kata penjaga. Sejatinya, menurut penjaga, wihara ini dibangun sebagai penghormatan bagi Dewi Lautan demi keselamatan sewaktu berlayar.

makassar_04

Hanya sepelemparan batu dari kawasan Pecinan, Benteng Rotterdam yang dibangun oleh Belanda pada abad ke-17, berdiri. Patung Sultan Hasanuddin yang tengah berkuda dipajang di depan gerbangnya. Benteng ini adalah salah satu tempat favorit untuk menghabiskan hari bagi warga kota.

Saya memasuki museum yang terletak dalam area benteng. Bangunan luar terbuat dari susunan batu yang telah berwarna kusam. Bagian dalam telah direnovasi dan dicat berwarna gading. Peninggalan masa lalu terpajang: beragam jenis badik, tombak, parang. Sisa pelayaran masa silam begitu dominan mengisi setiap bagian Museum La Galigo. Nama museum ini mengingatkan saya pada pelayaran Sawerigading dalam naskah epik La Galigo. Pelayaran penuh tantangan, yang tertera dalam naskah epik terpanjang di muka bumi, yang menjadi acuan sekaligus kebanggaan masyarakat di selatan Sulawesi ini.

makassar_feat

Dari Benteng Rotterdam, saya bergeser ke Pantai Losari untuk menghabiskan sore. Tiap petang, pantai ini penuh sesak oleh orang-orang, tak peduli apakah akhir pekan atau tidak. “Ini adalah meja makan terpanjang di dunia,” seloroh seorang pedagang di Pantai Losari. Di sepanjang pantai berjejer warung-warung yang menjajakan beragam menu jajanan. Setelah dipusingkan oleh banyaknya pilihan, akhirnya saya hanya memesan pisang epe dan segelas teh. Di sepanjang kawasan Pantai Losari, begitu banyak patung dan slogan-slogan kota dengan huruf raksasa seperti “City of Makassar”, Pantai Losari, Mandar, Toraja, patung ibu-ibu penenun, patung kerbau—semua menyesak dan saling berebut tempat dengan pengunjung.

Saya menatap ke ujung lautan. Di horizon, awan tebal bergulung, tanda hujan sebentar lagi akan datang. Musim barat sepertinya datang lebih awal di Makassar. Inilah musim yang dulunya mengantar saudagar-saudagar dari dunia lama ke Makassar. Dan bagi orang-orang Bugis, musim ini menjadi pertanda pelayaran sudah harus segera dimulai.

Jakarta ke Makassar


Waktu Penerbangan 2 jam 55 menits

Frekuensi 35 kali seminggu

Pesan Sekarang

Dari Colours February 2017

icon_sight
makassar_senses

5 Senses – Sight
BENTENG SOMBA OPU

Berlokasi di pinggiran Kota Makassar, tepatnya di Kabupaten Gowa, Benteng Somba Opu adalah bagian penting riwayat kawasan sekitar yang kerap terlewatkan. Dibangun pada abad ke-16 oleh Raja Gowa ke-9 Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi’ Kallona, tempat ini sejatinya pernah menjadi sentra dagang yang dikunjungi oleh saudagar Asia hingga Eropa. Tapi malang, VOC menghancurkannya pada 1669 dan membiarkan reruntuhannya direndam air laut sebelum akhirnya  ditemukan kembali pada 1980-an untuk kemudian direkonstruksi. Belakangan, kompleks benteng ini juga dilengkapi  dengan sebuah museum berisi artefak-artefak peninggalan Kesultanan Gowa dan koleksi rumah adat asal Sulawesi Selatan.