Yogyakarta

Ayos Purwoaji menjelajahi mutiara tersembunyi di bagian selatan Yogyakarta, sebuah wilayah yang kaya akan keindahan alam, cita rasa kuliner dan ekspresi artistik.

Words by Ayos Purwoaji

Bagi masyarakat Yogyakarta, masa depan tentu ada di selatan. Beberapa tahun terakhir, begitu banyak perubahan terjadi di kawasan tersebut. Jalur lintas Jawa yang mulai tersambung, bandara internasional baru disiapkan dan pantai-pantai menawan yang dulu hanya diketahui oleh masyarakat lokal kini mulai dibuka untuk publik.

Di suatu siang yang panas, saya memutuskan untuk berkunjung ke wilayah pesisir selatan, sekitar 40 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Sepanjang perjalanan, saya melewati barisan bukit karst yang menyembunyikan jaringan gua bawah tanah. Beberapa gua belakangan menjadi sangat populer sebagai destinasi wisata, untuk kegiatan seperti cave tubing. Kunjungi Gua Pindul dan saksikan keindahan cahaya yang menembus rotunda di Gua Jomblang.

Banyak destinasi baru di selatan Yogyakarta kini makin populer berkat sosial media. Di masa lalu, pantai-pantai dan gua-gua tersebut dianggap misterius, sulit dijangkau dan tertutup bagi para pelancong. Ketika terakhir saya ke sini bersama teman-teman sekolah sekitar dua puluh tahun lalu, akses jalan masih sangat terbatas. Butuh sedikit kenekatan khas anak muda untuk menyisir pantai-pantai yang saat itu belum ada namanya.

Tapi saat ini suasananya jauh berbeda. Kondisi jalan sudah jauh lebih baik. Tempat-tempat wisata telah dilengkapi papan penunjuk arah, dan para pedagang menjamur di sisi kanan kiri jalan, menjajakan belalang goreng dalam kemasan stoples-stoples plastik.

Sebetulnya terdapat belasan pantai yang bisa dikunjungi. Mulai dari yang populer seperti Pantai Parangtritis, Pantai Baron atau
Pantai Sundak, hingga pantai-pantai kecil yang lebih sepi.

Namun kali ini saya memilih mengarahkan mobil ke Pantai Indrayanti. Mendekati bibir laut, payung-payung berwarna-warni bertebaran di pantai berpasir putih ini, sementara kedai makan dan suvenir berjajar di sepanjang pantai. Ketika saya tiba, air sedang surut. Lapisan pantai karang berselimut lumut laut menyembul di baliknya. Saya melihat bintang laut dan beberapa ikan kecil terjebak di antara bebatuan karang tersebut. Perlahan-lahan matahari mulai condong ke barat, memberikan sapuan cahaya lembut, bertumpuk di antara bayangan yang semakin panjang dan debur ombak yang menciptakan semburan tipis, bagaikan lukisan impresionis.

Pada hari lainnya, saya berkesempatan mengunjungi studio seniman Jumaadi yang terletak di wilayah Imogiri. Studio tersebut berada di atas perbukitan. Dari salah satu sudut bukit ini, terlihat kompleks pemakaman raja-raja Mataram, yang memerintah Jawa Tengah dari akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-18. Studio ini didirikan Jumaadi beberapa tahun lalu. Studio ini terdiri atas beberapa rumah dan pendapa Jawa yang terbuat dari kayu tua. Entah diboyong dari mana. Di sekeliling gugus bangunan tersebut, barisan pohon-pohon jati berdiri meranggas. Memperlihatkan suasana yang keras dan kering. “Bagiku ini seperti keindahan yang lain,” kata sang seniman, “Memaksa kita untuk merasa rapuh dan selalu bersikap waspada.”

Jumaadi sebenarnya berasal dari Sidoarjo. Namun, ia lebih banyak menghabiskan waktu di Sydney. Sesekali dalam setahun, ia mengerjakan karya di studionya ini. Jumaadi lantas mengajak saya melihat bengkel kerjanya yang dipenuhi dengan furnitur dan barang antik. Beberapa pekerja terlihat sedang menatah lembaran kulit sapi. Sebagian lainnya sibuk menggunting lembaran seng. Jumaadi bilang bahwa saat ini ia sedang mempersiapkan beberapa pameran, dan agendanya padat hingga tahun depan. Saya mengamati beberapa karya terakhir Jumaadi, tampak ia masih setia untuk mengangkat budaya, simbol-simbol dan folklor Jawa dalam gaya kontemporer.

“Ayo, sini aku perlihatkan yang lain!” ujar Jumaadi sambil mengajak saya ke ruangan lainnya. Di dalam sebuah kamar, ia mengeluarkan beberapa lukisan di atas kain. Ukurannya lebar-lebar. Ia menjelaskan bahwa lukisan-lukisan ini dibuat bersama dengan ibu-ibu pengrajin di Ubud, dan ditandai dengan corak dan gaya ala Kamasan, tradisi melukis terkenal dari Bali. Satu lukisan terbesar menggambarkan dua ekor ular berwarna biru dan hitam yang saling mengait. Keduanya membentuk sebuah labirin yang seolah tak berujung, menyihir orang-orang yang melihatnya.

Setelah melihat karya-karya sang seniman, saya diajak ke beranda di samping rumah. Kami duduk bersantai di atas sebuah balai-balai kayu. Semakin siang obrolan kami semakin ambyar. Nyaris membicarakan apa saja, mulai dari seni hingga politik, sembari ditingkahi angin kemarau yang bertiup lamban dari selatan.

Dalam 20 tahun lagi, seiring makin membaiknya akses dan informasi, mungkin saya akan mendapati lanskap yang sama sekali berbeda di Yogyakarta bagian selatan. Deretan resor berbintang, kafe, butik hotel, studio seniman dan galeri, atau bahkan hal-hal baru yang mungkin belum bisa saya bayangkan saat ini. Meski demikian hati kecil saya berbisik, semoga tradisi dan ingatan kolektif tak lekas pergi dari sini.

Jakarta to Yogyakarta


Flight Time50 minutes

Frequency 70 flights per week

Book Now

From Colours October 2019

icon_sight

5 Senses – Sight
Book Talk

Yogyakarta adalah rumah penerbit-penerbit kecil dan komunitas sastra. Berbagai festival literasi diadakan sepanjang tahun, di antaranya adalah Borobudur Writer Festival, Kampung Buku Jogja, hingga MocoSik Festival. Selain itu, juga berdiri beberapa rumah baca. Salah satunya adalah Rumah Buku O.TH di bagian utara kota, yang menyediakan akses bagi publik untuk membaca buku-buku langka dengan suasana yang nyaman. Surga bagi para pencinta buku. instagram.com/rumahbuku_o.th